petang kian luruh
kita diam-diam merangkai retorika
dari sunyi yang tanggal
cangkir-cangkir keramik menampung leleh waktu
sementara renyah kata menjelma gema
di antara kepul aroma sangkar kenangan
engkau mengeja takdir pada riak wacana
menautkan ragu yang bersandar di celah jemari
aku, hanya penafsir yang tersesat di semak silogisme
menghirup desah prasangka
yang berteduh di bawah naungan takwilmu
kala itu, hembusan angin adalah metabahasa
menatap riwayat yang urung usai dilipat
ada jerit gundah yang tertimbun rapi
di balik retorika dan tawa teaterikal
menyisakan jelaga puitis pada dinding ingatan
lalu malam mengetuk tanpa perantara
meleburkan perbincangan menjadi puing kiasan
kita pun beranjak, membawa potret percakapan
yang tak pernah benar-benar selesai dieja
meninggalkan dua cangkir dingin
dan sebaris bisikan yang abadi menjadi rahasia
![[PUISI] Perbincangan Kala Itu](https://image.idntimes.com/post/20260819/pexels-mike-jones-9050619_b1407981-90d1-4a9c-a517-84a988357b3d.jpg)