Mereka tidak pernah berjanji
untuk berjalan berdampingan
hanya kebetulan
angin membawa keduanya
ke arah yang sama.
 
Yang satu dengan senangnya terbang
di jalan-jalan bercengkrama dengan darah mudanya
yang satu lagi menyimpan lara
di dalam suara tulang remuknya oleh dunia kejam.
 
Keduanya mencintai sajak ini
seperti seseorang mencintai rumahnya
yang nyaman walau ada yang terbuat dari batu dan kayu
 
Tidak adil rasanya bagi lara
berjalan di sisi takdir
ketika hanya satu yang ingin menyatu
sedang yang lain tersenyum menguji keadaan.