Sebelum fajar selesai mengeja cahaya
Ada sepasang tangan yang lebih dulu membangunkan hari
Ia menanak waktu di dalam periuk
Agar pagi beraroma harapan, bukan kekurangan
Siang datang membawa debu dan piring-piring kotor
Ia menyapu bukan hanya lantai, tetapi juga penat yang tertinggal
Mimpinya sendiri dilipat serapi pakaian di lemari
Sementara kebutuhan orang lain digantung paling depan
Menjelang senja, ia menjadi jendela yang tak pernah tertutup
Membiarkan siapa pun pulang dalam rasa tenang
Tak seorang pun mendengar engsel tubuhnya berderit
Sebab senyumnya selalu lebih dulu menyambut daripada keluhnya
Baru ketika malam selesai memadamkan lampu
Aku mengerti mengapa rumah terasa begitu hidup
Ternyata tembok hanya belajar berdiri
Tetapi sepasang tangan itulah yang selama ini menopangnya.
![[Puisi] Rumah Berdiri di Atas Sepasang Tangan](https://image.idntimes.com/post/20260630/1000114809_999adff8-be9c-4332-8d1a-d263ffca9e03.jpg)