Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[PUISI] Satu-satunya Payung
ilustrasi seorang pria berjalan dengan payung (pexels.com/Aleksandar Radovanovic)

Aku pernah menggenggam harap
Lalu menjelma payung di atas kepalamu
Kupikir, jika hujan memilihmu
Setidaknya ia tak perlu jatuh tepat di pundakmu

Aku pernah menulis sebuah kisah
Dengan kita sebagai dua tokoh yang saling menetap
Aku bahkan berharap waktu lupa cara berlari
Agar senja lupa cara berakhir 

Namun diam-diam aku tahu
Ada badai yang telah lebih dulu kau tanggung
Dan aku ingin menjadi tempat
Yang membuatmu tak perlu menghadapi musim itu sendirian 

Maka kuberikan satu-satunya payung yang kupunya
Kupayungi langkahmu tanpa banyak bertanya
Sementara aku perlahan sadar
Bahwa hujan juga bisa melukaiku

Aku terlalu sibuk menjaga agar kau tetap kering
Hingga lupa tubuhku sendiri mulai basah
Aku terlalu ingin menjadi tempat berteduhmu
Sampai tak kusadari bahwa akulah yang tak memiliki tempat berteduh

Lalu pada suatu hari
Kau melangkah pergi sambil membawa payung itu
Tak sekali pun menoleh ke belakang
Meninggalkanku berdiri di bawah hujan
Dengan kedua tangan yang lupa cara melepaskan

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team