Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[PUISI] Secangkir Kopi Menantang Hujan
Pixabay

Apakah kamu pernah menantikan hujan?
Aku sangat menyukai aroma tanah yang bertemu air ketika hujan datang
Dua unsur bumi yang berbaur menjadi satu

Aku suka tetesannya yang menyentuh kulit, 
Menyiramiku hingga basah
Aku menikmati tetesannya
Mendekap dingin yang mulai menyentuh raga

Di bawah hujan aku bisa meneteskan air mata tanpa kasat mata
Bulir kesedihan berbaur dalam hujan menelan sendu

Aku mencintai hujan
Dan ketika hujan turun, takdir selalu membawaku bertemu denganmu
Ditemani secangkir kopi menantang hujan, menghangatkan jiwa yang terluka
Kepulan asap dan aroma kopi menyentuh indra , membawa ketenangan pada hati yang bimbang

Duduk menikmati kopi,
Melihat hujan,
Lalu ada kamu... 

Hujan,
Kopi,
Dan kamu... 

Mulai menjadi candu dalam keseharianku
Menjadi takdir yang menghangatkan hati yang membeku
Menghadirkan cinta pada hati yang mulai meragu

Hujan, 
Kopi, 
Dan kamu... 

Menjadi alunan melodi yang akan menemaniku menari di bawah hujan
Kali ini tanpa air mata

Jakarta, 9 Juni 2020
©Chesamstory 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team