Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[PUISI] Ketika Langit Menutup Matanya

[PUISI] Ketika Langit Menutup Matanya
Langit senja dihiasi satu atau dua bintang yang mulai muncul (pexels.com/Jonathan Goncalves)
Share Article

Ketika langit mulai menutup matanya,
senja datang membawa warna-warna indah yang lembut.
Ia menyapu sisa cahaya yang masih bertahan,
seolah sedang merapikan kenangan yang tercecer sepanjang hari.

Tak ada yang benar-benar hilang dengan tiba-tiba.
Semua pergi perlahan, pada waktu yang telah ditentukan,
seperti matahari yang tenggelam tanpa suara,
atau hati yang diam-diam belajar menerima perpisahan.

Di balik langit yang semakin gelap,
ada doa-doa yang belum sempat terucap lantang,
ada rindu yang memilih bersembunyi di dalam ruang,
dan ada luka yang tak pernah benar-benar sembuh sepenuhnya.

Malam pun datang menggantikan jingga,
membiarkan sepi singgah di sudut yang kosong.
Namun, dalam gelapnya langit yang terpejam,
bintang-bintang hadir dan mulai menyalakan harapan.

Sebab ketika langit telah menutup matanya,
ia bukan sedang menghakimi atau mengakhiri segalanya.
Ia hanya sedang beristirahat sejenak,
agar esok dapat kembali membuka mata
dan mengajarkan bahwa setiap akhir, apa pun bentuknya,
selalu menyimpan awal yang baru.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Editorial Team