Ia datang tanpa ketukan pintu yang nyaring,
hanya berupa sekelebat bayang yang mampir di sela hening.
Saat cangkir kopi menyisakan ampasnya yang kelam,
dan penat hari ini mulai menuntut raga untuk terpejam.
Dalam sekilas lintas itu, aku melihat diriku yang dulu;
anak muda yang matanya menyala, bebas dari rasa ragu.
Ia membawa sekantong mimpi yang belum sempat berkarat,
tentang sebuah perjalanan jauh, menantang dunia tanpa sekat.
Namun sekelebat mimpi itu lekas luruh dan menguap,
tergila-gila oleh bunyi alarm subuh yang kembali menyergap.
Menyadarkan aku bahwa ruang tengah kini penuh dengan berkas,
dan waktu telah menukar idealisme kuno dengan hidup yang bergegas.
Dalam sekilas lintas itu, aku melihat diriku yang dulu;
anak muda yang matanya menyala, bebas dari rasa ragu.
Ia membawa sekantong mimpi yang belum sempat berkarat,
tentang sebuah perjalanan jauh, menantang dunia tanpa sekat.
Namun sekelebat mimpi itu lekas luruh dan menguap,
tergila-gila oleh bunyi alarm subuh yang kembali menyergap.
Menyadarkan aku bahwa ruang tengah kini penuh dengan berkas,
dan waktu telah menukar idealisme kuno dengan hidup yang bergegas.
![[PUISI] Sekelebat Mimpi](https://image.idntimes.com/post/20260705/pexels-basmasseus-1117063_7c93eb6b-c80a-4741-9e91-9792523b12ea.jpg)