Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[PUISI] Sekelebat Mimpi
ilustrasi menatap keluar jendela (pexels.com/bas masseus)

Ia datang tanpa ketukan pintu yang nyaring,

hanya berupa sekelebat bayang yang mampir di sela hening.

Saat cangkir kopi menyisakan ampasnya yang kelam,

dan penat hari ini mulai menuntut raga untuk terpejam.

Dalam sekilas lintas itu, aku melihat diriku yang dulu;

anak muda yang matanya menyala, bebas dari rasa ragu.

Ia membawa sekantong mimpi yang belum sempat berkarat,

tentang sebuah perjalanan jauh, menantang dunia tanpa sekat.

Namun sekelebat mimpi itu lekas luruh dan menguap,

tergila-gila oleh bunyi alarm subuh yang kembali menyergap.

Menyadarkan aku bahwa ruang tengah kini penuh dengan berkas,

dan waktu telah menukar idealisme kuno dengan hidup yang bergegas.

Dalam sekilas lintas itu, aku melihat diriku yang dulu;

anak muda yang matanya menyala, bebas dari rasa ragu.

Ia membawa sekantong mimpi yang belum sempat berkarat,

tentang sebuah perjalanan jauh, menantang dunia tanpa sekat.

Namun sekelebat mimpi itu lekas luruh dan menguap,

tergila-gila oleh bunyi alarm subuh yang kembali menyergap.

Menyadarkan aku bahwa ruang tengah kini penuh dengan berkas,

dan waktu telah menukar idealisme kuno dengan hidup yang bergegas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team