Kau sendiri yang katakan siram setiap harinya
Setiap pagi, kau ajarkan juga aku untuk melihat dunia luar
Saat anugerah hujan membasahi Bumi, selalu ada rasa bahagia yang tertanam
Saat kemarau melanda, aku tertatih-tatih tanpa henti

Lalu berkelana mencari air yang perlahan kering
Kau kehausan, menggenggam erat keduanya
Senyum yang kudengar kemarin, berbalik pudar
Perlahan menunduk, tak tahan lagi

Sudah mencari ke segala arah, nihil
Harusnya tak henti sebelum temu, tetapi badanku lebih dulu runtuh
Ternyata kau yang lebih dulu layu, si cantik merah
Disusul bunga putih yang tak pernah diskusi, tetapi membekas