Kau sendiri yang katakan siram setiap harinya
Setiap pagi, kau ajarkan juga aku untuk melihat dunia luar
Saat anugerah hujan membasahi Bumi, selalu ada rasa bahagia yang tertanam
Saat kemarau melanda, aku tertatih-tatih tanpa henti
Lalu berkelana mencari air yang perlahan kering
Kau kehausan, menggenggam erat keduanya
Senyum yang kudengar kemarin, berbalik pudar
Perlahan menunduk, tak tahan lagi
Sudah mencari ke segala arah, nihil
Harusnya tak henti sebelum temu, tetapi badanku lebih dulu runtuh
Ternyata kau yang lebih dulu layu, si cantik merah
Disusul bunga putih yang tak pernah diskusi, tetapi membekas
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Sepasang Bunga Lebih Dulu Layu sebelum Aku Bermekaran
![[PUISI] Sepasang Bunga Lebih Dulu Layu sebelum Aku Bermekaran](https://image.idntimes.com/post/20260601/1000076283_90f9e2f4-b835-41fb-8909-c36a632ecc33.jpg)
ilustrasi sepasang bunga (pexels.com/대정 김)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editorial Team
EditorYudha