[PUISI] Seseorang Tenggelam, tapi Tidak Mati

Sebuah percakapan rahasia
antara teratai dan telaga
atau berudu dengan induknya
ketika seseorang mencoba mengayunkan kaki
di keheningan malam musim dingin
mengenakan pakaian serba hitam
di air yang tenang, telapak kakinya biru-biru samar
seperti ragu-ragu tapi gelisah nian.
“Ia hanya bermain-main.”
Di dalam ruang kepala
ia, yang tidak sunyi
tampak gelas-gelas berjejer, tapi retak
piring-piring ditata, tapi pecah
wastafel penuh sampah
lemari kaca penuh kecoak
dan meja-meja tinggal cerita, tanpa nama-nama.
“Bagaimana ia bisa sampai kemari tanpa tersesat?”
“Bagaimana ia bisa sampai kemari tanpa ditemani?”
Ia hanya tidak ingat
kapan ia berangkat
kapan ia harus kembali
tapi di depan kecipak air yang dimainkan anak-anak katak
ia semakin ingin tenggelam, tapi tidak ingin mati
ia semakin ingin berenang, tapi tidak ingin bergerak ke sana ke sini.
Sebuah percakapan rahasia
antara teratai dan telaga
atau berudu dengan induknya
dihapus rintik-rintik hujan
dikaburkan badai
ini musim dingin yang tidak pasti
ia harus segera kembali, sebelum benar-benar kehilangan dirinya sendiri
ini musim yang tidak pasti.
Tasikmalaya, 2026


















