Aku menitipkan namamu
pada awan yang patah,
agar ia jatuh perlahan
tanpa membuat langit terluka.

Sebab rindu tak selalu butuh suara,
ia cukup hadir seperti gerimis
tak ramai,
tapi dinginnya lama tinggal di tulang.

Di balik kaca yang buram oleh doa,
aku belajar merelakan dengan mata terbuka,
menyebutmu hanya dalam dada,
agar semesta tak salah sangka.

Hujan mengajariku satu hal:
bahwa menunggu bukan berarti diam,
ia bekerja pelan-pelan,
mengikis sepi sampai menjadi sabar.

Jika suatu malam kau mendengar Bumi bergetar lirih,
bukan petir, itu hatiku yang jatuh lagi
menyebut namamu tanpa lelah
meski tahu tak selalu disambut pulang.