Setangkai puspa bertengger kukuh,
menetap dalam pot yang sesak oleh debu;
corak merah kelopaknya sungguh mencolok,
bertentangan dengan sukmaku yang berkabut.
Semilir angin melengkapi mendung,
mengiringi lambaian seraya pelan,
menuntut ikut arah haluan beliung—
namun, tangkai itu tak terlihat sedikit pun patah.
Aku yang berlindung di balik jendela
hanya bisa merenungi dengan netra terpaku:
paras kecut disertai kepenatan,
tatkala pikiran dirundung kalut.
Bila ia tak goyah diterjang prahara,
mampukah aku tetap kukuh mengadang bentala—
yang kerap mengguratkan derita,
seraya menjanjikan sentosa yang fana.
![[PUISI] Setangkai Puspa Diterjang Beliung](https://image.idntimes.com/post/20260909/photo-1571767516740-241e849c6de1_7801b3ba-843d-476e-8638-1e03e340b4c2.jpeg)