Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

[PUISI] Sunyi yang Mendesak

[PUISI] Sunyi yang Mendesak
ilustrasi perempuan yang menangis (pexels.com/cottonbro studio)

Sunyi datang tanpa diundang
Ia duduk di dada seperti beban
Hari terasa terlalu sempit
Untuk harapan yang masih ingin bernapas

Aku berdiri di sendiri di tepian
Di bawah kaki ragu menunggu
Tak ada tanda ke mana melangkah
Hanya degup yang terdengar kencang

Harapan menjadi kata yang berat
Hari ini meminta lebih dari doa
Perut mengerti lebih cepat
Bahwa keyakinan tak selalu cukup

Aku sudah berjalan sejauh ini
Dengan lutut gemetar dan mata terbuka
Meski sunyi terus mendesak
Aku masih menahan diri dari jatuh

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Latest in Fiction

See More

[PUISI] Sunyi yang Mendesak

24 Mar 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Ruang Tersembunyi

[PUISI] Ruang Tersembunyi

23 Mar 2026, 20:27 WIBFiction
[PUISI] Luka yang Berbunga

[PUISI] Luka yang Berbunga

23 Mar 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Badut Tanpa Sirkus

[PUISI] Badut Tanpa Sirkus

22 Mar 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Subuh yang Beku

[PUISI] Subuh yang Beku

21 Mar 2026, 15:25 WIBFiction
[PUISI] Anak Bawang

[PUISI] Anak Bawang

20 Mar 2026, 05:04 WIBFiction