Kita bertemu tanpa rencana,
sekadar dua langkah di jalan yang sama.
Aku malah sibuk membaca tanda,
seolah semesta sengaja mempertemukan kita.

Senyummu kuanggap sebuah isyarat,
sapamu kusimpan terlampau lekat.
Padahal mungkin bagimu sesaat,
sementara aku menyebutnya takdir yang dekat.

Aku merawat kemungkinan diam-diam,
hingga kebetulan tumbuh begitu dalam.
Kau berlalu tanpa merasa kehilangan,
aku tertinggal bersama banyak pertanyaan.

Kini kutahu dari pertemuan singkat,
tak semua yang datang harus menetap.
Kadang hidup hanya membuat kita berpapasan,
dan aku terlalu serius pada sebuah kebetulan.