Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Menanti Kepulanganmu atau Menanti Kematianku Sendiri

Menanti Kepulanganmu atau Menanti Kematianku Sendiri
pexels.com

Ini adalah tahun ketiga kamu pergi. Menghilang begitu saja tanpa meninggalkan apapun. Jejakmu tinggallah bisu yang redup di pekat sunyi. Aku merangkak mencari bayangmu, tertatih melawan dingin, namun hampa yang kubawa pulang. Setiap malam kutabur serpihan rindu di teras rumah, agar kau tak lagi bingung menemukanku. Setiap pagi kutangkup sejumput embun, agar cintaku mengairi lelahmu. Namun kosong. Kudapati kursi berdebu yang mulai usang. Mungkin sebentar lagi kayunya rapuh, seperti penantian yang tak berkesudahan.

Di beranda rumah, aku duduk terpekur memeluk lutut. Barangkali, kamu malas harus mengetuk pintu rumahku. Sekarang aku di sini, bersama secangkir kopi yang bersisa ampasnya. Bersama pena yang kehabisan tintanya. Berkali-kali angin menghantar sabit senyummu yang lenyap. Abu-abu. Gigil. Sedih yang matang tak pernah menjadi hangat. Sajak-sajak menua kemudian patah. Pilu menjuntai begitu panjang. Lalu rindu menjadi sebatang kara.

Kemarau adalah musim terpanjang di hatiku, sementara hujan dan gerimis menepi di mataku. Aku berkabung dengan dukaku sendiri. Sebentar lagi, cinta yang kupelihara akan mati, rindu yang kusimpan akan tandus, semuanya ranggas dan kering. Di atas sana, gemintang memandangku iba. Sendu berjatuhan memayungiku, lalu kupungut remah-remah asa yang berhamburan. Lagi-lagi, kesedihan menjadi piatu.

Langit semakin menghitam, bulan semakin legam. Kematian sedang menunggu. Aku sibuk mengemas kepulanganku. Tak ada yang kubawa selain serumpun lara. Tak ada yang tinggal selain rindu-rindu yang gugur. Aku berjalan dengan langkah tersayat. Namun, di ujung lorong itu, aku melihatmu. Dari kejauhan, kau berjalan menujuku. Tapi kau tak sendiri. Ada puan yang sedang menggenggam tanganmu. Tiba-tiba udara berubah menjadi cemas. Nisan yang sedang kaugenggam menjadi hadiah kematianku. Aku benar-benar pulang.

Share
Topics
Editorial Team
Ana Yusuf
EditorAna Yusuf
Follow Us

Related Articles

See More

[PUISI] Simfoni Ruang Hampa

02 Mei 2026, 22:22 WIBFiction
[PUISI] Hamparan Semu

[PUISI] Hamparan Semu

01 Mei 2026, 21:27 WIBFiction
[PUISI] Aku Terkutuk

[PUISI] Aku Terkutuk

01 Mei 2026, 07:07 WIBFiction
[PUISI] Nasi Goreng Ibu

[PUISI] Nasi Goreng Ibu

01 Mei 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Pundak Tanpa Jeda

[PUISI] Pundak Tanpa Jeda

29 Apr 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Kucari Kamu

[PUISI] Kucari Kamu

28 Apr 2026, 20:17 WIBFiction