Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

[PUISI] Gigi Bungsu

[PUISI] Gigi Bungsu
Ilustrasi Gigi Bungsu. (unsplash.com/Ozkan Guner)
Share Article

Kau tumbuh tanpa ketukan
di kamar yang tak pernah kusiapkan.

Menyelinap di sela sunyi yang kukira rapat
seperti musim yang melompati pagar kalender,
meretakkan rumah yang dulu kuanggap suci.

Aku bertahan sampai lutut ragaku gemetar,
seperti tanah bodoh memeluk batu panas
dan menyebutnya akar.

Lalu kesabaran remuk di tulang rahang.
Kau dicabut.

Dan sekarang
aku tinggal dengan ruang yang terus mengingat
bukan derita yang menjerit,
tapi ketiadaan yang sedang belajar memahat
wajahnya menyerupai rindu.

Di situlah aku tahu....
tak semua yang tumbuh adalah berkah,
dan tak semua yang pernah melekat di tulang
pantas kusebut pulang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ananda Zaura
EditorAnanda Zaura

Related Articles

See More

[PUISI] DIa yang menghatui

14 Jun 2026, 21:07 WIBFiction
[PUISI] Gigi Bungsu

[PUISI] Gigi Bungsu

14 Jun 2026, 20:27 WIBFiction
[PUISI] Sehelai Daun Maple

[PUISI] Sehelai Daun Maple

13 Jun 2026, 21:07 WIBFiction
[PUISI] Pahat

[PUISI] Pahat

13 Jun 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Satu Persen

[PUISI] Satu Persen

11 Jun 2026, 05:25 WIBFiction