Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

[PROSA] Di Perantauan: Tentang Bahagia dan Rindu yang Bersisa

[PROSA] Di Perantauan: Tentang Bahagia dan Rindu yang Bersisa
ilustrasi orang menelepon (unsplash.com/Hannah Wei)

Di antara gemerlap kota, ingar bingar manusia yang beradu nasib, dan dinginnya malam yang menusuk tulang, senyuman itu tak henti mengembang (di sana). Wanita dan laki-laki paruh baya lantas merapal doanya, bagai membius setiap kesakitan, keresahan, kegelisahan, juga lara. Wanita dan laki-laki paruh baya itu lantas mendekatkan wajahnya ke layar, memandang setiap asa dan mimpi yang masih terpacak di wajah merona. Kesejukan pun menjalar, membasuh tiap-tiap peluh dan penat yang tiada berkarat, menyapu cemas yang kerap berkunjung memenuhi pikiran sebelum akhirnya menjelma bayangan menakutkan.

Sedang (di sini) sesosok manusia belia terus menatap lekat, tersenyum tipis, meluruhkan ego juga sedu sedan yang sempat berkelindan. Sejenak, tak ingat lagi perihal disakiti dan dilukai. Sesaat, lupa akan dihinakan dan direndahkan. Sebab, kerinduan telah terbayar meski bersisa, setidaknya untuk hari ini, setelah perjalanan yang terasa panjang berhasil dilewati. Memang sesederhana itu. Sesederhana melihat sepasang manusia yang membuatnya dapat merasakan nikmat Tuhan; membuatnya menyadari bahwa ia amat bernilai untuk terlahir mengicipi semesta lantas mengarunginya, membuatnya mampu memaknai hidup dan mati. Memang sesederhana itu. Sesederhana mencintai dan dicintai.

Manusia belia itu kemudian melambaikan tangannya. Sudah larut malam, katanya, meski rindu masih menyelami hati dan tak akan ada hentinya; tak apa, biar waktu yang kembali berkisah perihal orang-orangnya. Terakhir, ia menyeka ujung matanya, bukan karena habis menangis pilu, melainkan karena kebahagiaan yang menderu.

"Maka doakan, wahai Ayah, Ibu: agar aku mampu melalui jalanku, agar aku kuat melangkah sejauh harap semesta, agar aku bisa memeluk dengan ikhlas segala nestapa, agar aku dapat merengkuh asa di antara kadar yang kupunya".

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika
Follow Us

Latest in Fiction

See More

[PUISI] Kepada Sepertiga Malam

05 Apr 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Rindu Rumah

[PUISI] Rindu Rumah

05 Apr 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Setipis Alasan

[PUISI] Setipis Alasan

04 Apr 2026, 21:27 WIBFiction
[PUISI] Semanis Madu

[PUISI] Semanis Madu

03 Apr 2026, 22:08 WIBFiction
[PUISI] Cerita Akhir Maret

[PUISI] Cerita Akhir Maret

03 Apr 2026, 21:17 WIBFiction
[PUISI] Jedalah Sejenak

[PUISI] Jedalah Sejenak

03 Apr 2026, 21:07 WIBFiction
[PUISI] Rumah Ternyaman

[PUISI] Rumah Ternyaman

03 Apr 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Sebongkah Es

[PUISI] Sebongkah Es

03 Apr 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Lahan Basah

[PUISI] Lahan Basah

02 Apr 2026, 22:22 WIBFiction
[PUISI] Rahasia Pagi

[PUISI] Rahasia Pagi

02 Apr 2026, 21:07 WIBFiction
[PUISI] Bahasa Air Mata

[PUISI] Bahasa Air Mata

01 Apr 2026, 21:22 WIBFiction