Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Teknik Tradisional Mengawetkan Ikan yang Masih Dipakai di Indonesia
ilustrasi ikan (pexels.com/ Nadine Ginzel)
  • Masyarakat Indonesia sejak sebelum era kulkas memakai garam, asap, sinar matahari, dan fermentasi untuk memperpanjang daya simpan ikan sekaligus menciptakan pangan khas daerah.
  • Pengasinan, pengasapan, dan pengeringan mengurangi kadar air ikan sehingga pertumbuhan banyak mikroorganisme pembusuk lebih sulit; hasilnya meliputi ikan asin, ikan asap, dan ikan kering.
  • Fermentasi menghasilkan cita rasa, aroma, serta tekstur khas seperti bekasam, sedangkan pemindangan memasak ikan dengan garam dan bumbu untuk membuatnya lebih tahan simpan daripada ikan segar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sebelum kulkas menjadi bagian dari hampir setiap dapur, masyarakat Indonesia sudah punya cara sendiri untuk menghadapi ikan yang cepat rusak. Garam, asap, sinar matahari, hingga proses fermentasi dimanfaatkan supaya hasil tangkapan bisa disimpan lebih lama.

Menariknya, teknik tersebut gak cuma menghasilkan ikan yang lebih awet. Proses pengawetan juga melahirkan banyak makanan khas daerah dengan rasa dan aroma yang berbeda. Sebagian bahkan masih mudah ditemukan sampai sekarang. Apa saja teknik tradisional yang biasa dipakai untuk mengawetkan ikan?

1. Pengasinan

ilustrasi pengasinan ikan (pexels.com/ Kindel Media)

Pengasinan mungkin menjadi teknik pengawetan ikan yang paling mudah dikenali. Ikan diberi garam untuk membantu mengurangi kadar air sekaligus menciptakan kondisi yang kurang mendukung bagi pertumbuhan banyak mikroorganisme penyebab pembusukan.

Setelah digarami, ikan biasanya dijemur hingga kadar airnya berkurang, yang dikenal luas sebagai ikan asin. Sebelum dimasak, ikan asin umumnya dicuci atau direndam terlebih dahulu untuk mengurangi rasa asinnya, kemudian digoreng dan disajikan bersama nasi serta sambal.

2. Pengasapan

ilustrasi pengasapan (pexels.com/ Quang Nguyen Vinh)

Aroma asap yang menempel pada ikan menjadi ciri paling gampang dikenali dari teknik ini. Ikan dipanaskan sambil terkena asap dari pembakaran bahan tertentu. Selain membantu mengurangi kadar air, proses tersebut memberikan aroma khas yang gak bisa didapatkan dari pengolahan biasa.

Teknik pengasapan masih ditemukan di berbagai wilayah pesisir Indonesia. Jenis ikannya pun beragam seperti tongkol, cakalang, tuna, dan bandeng. Ikan asap bisa langsung dimakan setelah diolah atau digunakan kembali sebagai bahan masakan.

3. Fermentasi

ilustrasi fermentasi (commons.wikimedia.org/ Wadaihangit)

Fermentasi bekerja dengan memanfaatkan aktivitas mikroorganisme tertentu untuk mengubah bahan makanan. Pada ikan, proses tersebut dapat menghasilkan rasa, aroma, dan tekstur yang khas.

Salah satu contohnya adalah bekasam yang dikenal dalam sejumlah tradisi kuliner Sumatra dan Kalimantan. Ikan biasanya dicampur dengan garam dan sumber karbohidrat seperti nasi, lalu dibiarkan mengalami fermentasi. Setelah prosesnya selesai, bekasam dapat dimasak kembali dengan bumbu sebelum disantap.

4. Pemindangan

ilustrasi pemindangan (commons.wikimedia.org/ Okkisafire)

Pindang cukup menarik karena prosesnya gak sekadar mengandalkan satu metode. Ikan dimasak menggunakan garam dan bumbu tertentu sehingga selain memiliki rasa khas, daya simpannya juga lebih panjang dibandingkan ikan segar.

Cara membuat pindang bisa berbeda antarwilayah. Ada yang menggunakan proses perebusan, ada pula yang memasaknya dalam larutan garam dan rempah. Jenis ikan yang digunakan juga gak selalu sama, mulai dari tongkol sampai bandeng.

5. Pengeringan

ilustrasi mengeringkan ikan (pexels.com/ Quang Nguyen Vinh)

Cara paling sederhana untuk memperpanjang daya simpan ikan adalah mengurangi kandungan airnya. Itulah yang dilakukan dalam proses pengeringan. Ikan dibersihkan terlebih dahulu, kemudian dijemur hingga cukup kering. Semakin rendah kadar air, semakin sulit bagi banyak mikroorganisme untuk berkembang. Ikan kering kemudian bisa disimpan sebagai persediaan dan dimasak ketika dibutuhkan. Meski terdengar sederhana, kebersihan ikan serta kondisi tempat penjemuran tetap perlu diperhatikan.

Jauh sebelum teknologi pengawetan modern berkembang, masyarakat Indonesia sudah menemukan cara untuk membuat ikan bertahan lebih lama. Garam, asap, sinar matahari, dan fermentasi menjadi bagian dari pengetahuan kuliner yang berkembang dari generasi ke generasi.

Sampai sekarang, hasilnya masih bisa kita temukan dalam berbagai makanan daerah. Jadi, ikan awetan bukan sekadar cara menyimpan bahan makanan, tetapi juga bagian dari perjalanan kuliner Indonesia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article