Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
9 Makanan Khas Perayaan Juneteenth di Amerika Serikat Beserta Maknanya
ilustrasi potluck party (pexels.com/Cedric Fauntleroy)

Pertengahan tahun sering kali dikaitkan dengan liburan musim panas di belahan Bumi utara. Cuaca relatif cerah yang mendukung untuk aktivitas di luar ruangan, termasuk perayaan, festival budaya, hingga kulineran di Galveston, Texas, Amerika Serikat.

Setiap tanggal 19 Juni diperingati sebagai Juneteenth sejak tahun 1866. Perayaan tersebut ditetapkan sebagai hari libur nasional untuk memperingati berakhirnya perbudakan warga Afrika-Amerika di Amerika Serikat. Aktivitasnya mewakili kebersamaan komunitas melalui musik, kemeriahan, dan yang terpenting makanan. Hidangan tersebut beragam dan punya makna masing-masing, lho.

Agar gak makin penasaran, berikut ini daftar makanan khas perayaan Juneteenth beserta maknanya. Kira-kira, ada apa saja? Yuk, simak sampai selesai!

1. Barbeku brisket dan ribs

ilustrasi memanggang daging yang dilumuri saus barbeku (pexels.com/Thiago Rebouças)

Barbeku telah lama menjadi cara bagi warga Afrika-Amerika untuk menunjukkan kebersamaan. Biasanya saat keluarga dan orang terdekat berkumpul, diiringi musik, dan makanan lezat. Demikian pula pada perayaan Juneteenth yang menjadikan barbeku brisket dan ribs sebagai hidangan utama.

Selain kedua jenis potongan daging tersebut, biasanya juga menggunakan ayam dan sosis yang kemudian disiram saus barbeku. Hidangan ini sebagai simbol bahwa dahulu para budak hanya mendapatkan sisa daging yang tidak dikonsumsi oleh tuan mereka. Kemudian, mereka mengolahnya menjadi hidangan lezat dan kaya rasa yang kini menjadi jadi kebangaan komunitas Afrika-Amerika.

2. Fried chicken

ilustrasi garlic fried chicken (pexels.com/Chan Walrus)

Fried chicken bukan sekadar daging ayam yang digoreng dan bertekstur renyah di luar. Makanan ini melambangkan kemerdekaan dan semangat kewirausahaan, terutama pada masa pasca-perbudakan. Perempuan Afrika-Amerika menjual ayam goreng untuk menghidupi keluarga mereka dalam kondisi perekonomian sulit kala itu. 

3. Collard greens

ilustrasi olahan collard greens (commons.wikimedia.org/Nolabob)

Selain makanan berbahan daging, sayuran hijau juga hidangkan dalam perayaan Juneteenth. Kamu mungkin masih asing dengan collard greens atau kubis galisia, yang masih kerabat dekat dengan kale, brokoli, dan selada. Daunnya tebal, kaya rasa, dan bernutrisi, sering dimasak perlahan dengan daging asap.

Collard greens mewakili perpaduan harmonis antara kuliner Afrika dan lokal yang telah diadaptasi. Selama masa perbudakan, sayuran ini ditanam di lahan kecil yang berdekatan dengan tempat tinggal budak. Kini mencerminkan ketahanan dan solidaritas yang telah diwariskan selama berabad-abad.

4. Black-eyed peas

ilustrasi black-eyed peas (magnific.com/azerbaijan_stockers)

Black-eyed peas atau kacang tunggak identik dengan hidangan orang Afrika Barat yang diperkenalkan ke Amerika Serikat pada masa perdagangan budak transatlantik. Makanan ini termasuk prosperity meals bersama collard greens, karena dipercaya membawa keberuntungan dan kemakmuran. Kacang ini dianggap sebagai simbol keberuntungan serta harapan akan masa depan yang makmur tanpa penindasan.

5. Cornbread

ilustrasi cornbread (commons.wikimedia.org/Calstanhope)

Jagung telah lama dibudidayakan masyarakat adat Amerika, jauh sebelum para pemukim Eropa tiba. Penduduk asli setempat menggunakan jagung giling untuk membuat berbagai jenis roti, termasuk cornbread. Ketika orang Afrika yang diperbudak dibawa ke Amerika Serikat, kemudian mengadaptasinya ke dalam kuliner mereka.

Orang-orang yang diperbudak itu membuat cornbread dengan cara sederhana, seperti memasaknya di atas api terbuka atau wajan besi cor. Metode tersebut menjadi dasar bagi resep roti jagung yang dikenal saat ini. Berawal dari makanan untuk bertahan hidup, kini menjadi simbol kreativitas dan ketangguhan komunitas Afrika-Amerika dalam mengolah bahan terbatas menjadi sesuatu yang bergizi.

6. Mac and cheese

ilustrasi mac and cheese (commons.wikimedia.org/Peachyeung316)

Mac and cheese sering dikaitkan dengan Thomas Jefferson, orang yang membawa resepnya dari Eropa. Namun, justru koki budaknya, James Hemings-lah yang mempopulerkan hidangan ini di Amerika. Kini, orang Afrika-Amerika menjadikannya sebagai bagian dari soul food yang melambangkan keberhasilan, merayakan pencapaian, dan menjadi pemersatu bagi keluarga.

7. Semangka

ilustrasi buah semangka (pexels.com/Matheus Bertelli)

Makanan berwarna merah seperti semangka disajikan untuk melambangkan perjuangan emansipasi, sekaligus ketangguhan, serta kekuatan kekuatan komunitas Afrika-Amerika. Mereka yang memilih bertani setelah bebas dari perbudakan memilih menanam dan menjual semangka sebagai cara bertahan hidup. Selain itu, merah juga pas dengan tema perayaan Juneteenth.

8. Kue red velvet

ilustrasi kue red velvet (pexels.com/Lucas Andrade)

Tidak hanya buah, kue seperti red velvet merupakan hidangan penutup yang digemari, karena kaya warna, cerah, dan menambah semangat kebersamaan dalam perayaan ini. Warna merah juga dianggap melambangkan pertumpahan darah dan kemenangan historis orang Afrika-Amerika. Oleh sebab itu, kue ini menjadi simbol sejarah, ketangguhan, dan kebanggaan budaya.

9. Teh hibiscus

ilustrasi teh hibiscus (Freepik.com/freepik)

Ternyata di antara deretan makanan, terdapat teh hibiscus yang umum disajikan hangat atau dingin saat Juneteenth. Warna merah pekatnya sebagai pengingat akan hubungan dengan akar budaya Afrika. Selain melambangkan pertumpahan darah para leluhur dan semangat pantang menyerah, juga menunjukkan warna bendera Pan-Afrika.

Nah, sekarang kamu tahu daftar makanan khas Juneteenth beserta maknanya. Hidangan tersebut bukan sekadar soal rasa, tetapi juga simbol perjuangan dan kebanggaan terhadap budaya di kalangan komunitas Afrika-Amerika. Menarik ya budaya ini!


This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article