ilustrasi besek (vecteezy.com/Dani Daniar)
Besek dibuat secara manual oleh pengrajin, yang artinya tidak ada standardisasi ukuran seperti yang dimiliki wadah plastik produksi pabrik. Satu besek bisa berbeda volume dan kerapatan anyamannya dengan besek dari pengrajin lain, bahkan dari tangan yang sama. Ini menyulitkan pelaku usaha kuliner yang butuh konsistensi porsi dan tampilan dalam setiap kemasan.
Restoran atau katering yang menggunakan besek perlu menyesuaikan porsi makanan, seperti yang bisa dilakukan dengan wadah plastik. Di sisi lain, ketidakseragaman ini justru menjadi daya tarik estetika tersendiri yang membuat tampilan makanan terasa lebih personal. Beberapa pelaku bisnis kuliner rumahan justru memanfaatkan kemasan besek ini sebagai bagian dari identitas merek mereka.
Besek bambu bukan pengganti sempurna untuk semua fungsi plastik. Tapi untuk kebutuhan penyajian makanan tertentu, kemampuannya tidak kalah, bahkan lebih unggul dalam beberapa aspek. Plastik mungkin lebih praktis, tetapi besek menawarkan sesuatu yang plastik tidak pernah bisa berikan.