Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Jajanan Pasar Hasil Akulturasi Budaya Indonesia dan Tionghoa

ilustrasi jajanan pasar
ilustrasi jajanan pasar (commons.wikimedia.org/Gunawan Kartapranata
Intinya sih...
  • Lumpia merupakan hasil akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa, diperkenalkan oleh imigran Tionghoa di Semarang pada abad ke-19.
  • Onde-onde dibawa ke Indonesia oleh pedagang asal Tiongkok pada abad ke-13, dengan isian kacang merah yang diganti dengan kacang hijau setelah masuk ke Indonesia.
  • Kue ku atau ang ku kueh menjadi lambang umur panjang, kemakmuran, dan keberuntungan, dibawa oleh imigran Tionghoa yang menetap di Indonesia.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jajanan pasar merupakan aneka kue khas Indonesia yang banyak ditemukan di pasar-pasar tradisional. Dijajakan di pagi hari, aneka kue ini biasa disajikan sebagai snack hajatan atau teman minum kopi. Ragamnya tak terhingga, tergantung bahan baku yang tersedia di setiap daerah.

Meski begitu, tidak semua jajanan pasar adalah kuliner asli Indonesia, lho. Beberapa di antaranya merupakan hasil akulturasi dari budaya negara-negara yang pernah menjelajahi wilayah Indonesia ratusan tahun lalu, salah satunya adalah Tiongkok. Apa saja jajanan pasar hasil akulturasi budaya Indonesia dan Tionghoa yang dimaksud? Yuk, simak ulasan berikut!

1. Lumpia

ilustrasi lumpia
ilustrasi lumpia (commons.wikimedia.org/Candramawa99)

Lumpia merupakan jajanan pasar yang terbuat dari kulit tipis dengan isian rebung, ayam, atau udang yang digulung. Dalam bahasa Hokkian, nama lumpia sendiri berasal dari gabungan kata lun yang berarti "lembut" dan pia yang artinya "kue". Jajanan yang populer di Semarang ini menjadi salah satu contoh nyata akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa.

Lumpia diperkenalkan oleh imigran Tionghoa bernama Tjoa Thay Yoe yang menetap di Semarang pada abad ke-19. Dulunya, lumpia dibuat dengan isian rebung dan daging babi tanpa digoreng. Setelah beradaptasi dengan budaya lokal, Tjoa Thay Yoe menyesuaikan isian yang pas dengan lidah orang Jawa dan menghilangkan unsur daging babi.

2. Onde-onde

ilustrasi onde-onde
ilustrasi onde-onde (commons.wikimedia.org/ Midori)

Siapa yang tidak kenal onde-onde? Kue bulat berwijen dengan isian kacang hijau yang manis ini sangat akrab di lidah masyarakat Indonesia. Onde-onde dibawa ke Indonesia oleh pedagang asal Tiongkok pada abad ke-13.

Di Tiongkok, onde-onde dikenal dengan sebutan ludeui, matuan, atau zhen dai. Dengan isian kacang merah, dulunya kue ini disajikan untuk pekerja yang membangun istana kekaisaran sebagai simbol keberuntungan dan kebersamaan. Setelah masuk ke Indonesia, penggunaan kacang merah diganti dengan kacang hijau yang lebih umum dan manis.

3. Kue Ku

ilustrasi kue ku
ilustrasi kue ku (commons.wikimedia.org/Midori)

Selanjutnya, ada kue ku atau yang juga dikenal dengan ang ku kueh. Berbentuk cangkang kura-kura berwarna merah, kue ini menjadi lambang umur panjang, kemakmuran, dan keberuntungan. Kue ku dibawa oleh imigran Tionghoa yang berdagang dan menetap di Indonesia.

Setelah masuk ke Indonesia, kue ku mengalami banyak penyesuaian. Mulai dari isian, warna, dan tekstur yang disesuaikan dengan selera lokal. Selain populer saat perayaan Imlek, kue ini juga umum disajikan dalam berbagai acara adat Jawa.

4. Kue talam

ilustrasi kue talam
ilustrasi kue talam (commons.wikimedia.org/Aghnisans)

Kue talam merupakan jajanan pasar hasil akulturasi budaya Indonesia, khususnya Melayu dan Tionghoa. Kue ini diperkirakan sudah ada sejak ratusan tahun lalu, tepatnya saat pemerintahan Kolonialisme Belanda.

Budaya Tionghoa terlihat dari teknik pengukusan serta penggunaan bahan tepung tepungan. Sementara budaya Indonesia terlihat dari penggunaan bahan-bahan lokal seperti santan kelapa dan gula merah. Kini, kue talam telah menyebar ke seluruh wilayah di Indonesia sebagai jajanan pasar dengan variasi dan inovasi tersendiri.

5. Kue lapis tradisional

ilustrasi kue lapis
ilustrasi kue lapis (commons.wikimedia.org/Shitadevi)

Terakhir, ada kue lapis tradisional yang juga merupakan hasil akulturasi budaya Indonesia dan Tionghoa. Dalam budaya Tionghoa, kue yang berlapis-lapis melambangkan keberuntungan, kemakmuran, dan rezeki berlimpah.

Sama dengan kue talam, budaya Tionghoa dapat terlihat dari teknik pengukusan yang khas dan penggunaan bahan dasar tepung-tepungan. Sementara budaya Indonesia dapat dilihat dari penggunaan bahan-bahan lokal, seperti santan dan daun pandan. Dengan tampilan cantik dan cita rasa yang manis, kue ini selalu hadir dalam berbagai momen istimewa.

Itu dia sejumlah jajanan pasar hasil akulturasi budaya Indonesia dan Tionghoa. Di antara jajanan pasar yang disebutkan, mana yang jadi favoritmu, nih?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Food

See More

5 Jajanan Pasar Hasil Akulturasi Budaya Indonesia dan Tionghoa

11 Feb 2026, 14:20 WIBFood