Kenapa Nastar Identik dengan Isian Nanas?

Nastar selalu muncul sebagai ikon kue Lebaran, lengkap dengan isian selai nanas yang manis-asam dan aromanya khas. Namun, banyak orang tak menyadari bahwa nama nastar justru berasal dari bahasa Belanda, bukan dari buah nanas itu sendiri. Perpaduan antara nama asing dan rasa lokal ini membuat nastar jadi kue yang menarik untuk ditelusuri asal-usulnya.
Di balik bentuk mungil dan rasanya yang familiar, nastar menyimpan cerita panjang tentang perjumpaan budaya. Dari dapur kolonial hingga meja hidangan keluarga Indonesia, kue ini mengalami adaptasi yang unik. Lalu, bagaimana bisa nastar identik dengan nanas, sementara namanya punya akar bahasa Eropa?
1. Asal-usul nama nastar yang ternyata dari bahasa Belanda

Nama nastar sebenarnya berasal dari bahasa Belanda, yaitu gabungan kata ananas yang berarti nanas dan taart yang berarti kue atau pie. Istilah ini merujuk pada kue kecil berisi selai nanas yang populer di Eropa pada masa kolonial. Dari sinilah nama nastar kemudian dikenal luas di Indonesia.
Pada awalnya, nastar bukanlah kue khas Nusantara, melainkan adaptasi dari kue tart mini ala Belanda. Lidah lokal kemudian menyesuaikan rasa dan teksturnya agar lebih cocok dengan selera masyarakat Indonesia. Seiring waktu, nama Belandanya tetap bertahan meski resepnya terus berkembang.
2. Makna kata ananas dan taart dalam sejarah nastar
Kata ananas sendiri merupakan istilah internasional untuk nanas yang digunakan dalam banyak bahasa Eropa. Sementara itu, taart merujuk pada jenis kue berkulit pastry yang biasanya berisi buah atau krim. Gabungan keduanya menggambarkan konsep awal nastar sebagai kue pastry berisi nanas.
Menariknya, di Indonesia nastar justru berbentuk kecil dan digigit sekali atau dua kali. Bentuk ini berbeda dari taart versi Eropa yang cenderung besar dan dipotong-potong. Perubahan ini menunjukkan bagaimana istilah asing bisa bertahan, meski wujud kuenya mengalami penyesuaian budaya.
3. Masuknya nastar ke Indonesia lewat dapur kolonial

Nastar mulai dikenal di Indonesia pada masa penjajahan Belanda, terutama di kalangan elite dan keluarga Indo-Eropa. Resep kue Eropa saat itu banyak dibuat di dapur rumah tangga kolonial dan perlahan menyebar ke masyarakat lokal. Dari sinilah nastar mulai dikenal sebagai kue istimewa.
Perempuan pribumi yang bekerja di rumah-rumah Belanda ikut mempelajari cara membuat kue ini. Resepnya kemudian diwariskan secara turun-temurun dan dimodifikasi dengan bahan lokal. Proses inilah yang membuat nastar menjadi bagian dari tradisi kuliner Indonesia hingga sekarang.
4. Alasan isian nanas lebih populer daripada buah lain

Nanas dipilih karena memiliki rasa asam-manis yang seimbang dan cocok dipadukan dengan adonan kue yang gurih. Selain itu, tekstur selai nanas relatif tahan lama dibandingkan isian buah segar lainnya. Hal ini membuat nastar lebih awet dan aman disimpan dalam waktu lama.
Di Indonesia, nanas juga mudah ditemukan dan harganya terjangkau. Proses memasaknya menjadi selai pun sudah akrab di dapur tradisional. Faktor ketersediaan inilah yang membuat isian nanas tetap dominan hingga kini.
5. Dari kue Eropa ke ikon lebaran khas Indonesia

Seiring waktu, nastar tidak lagi dipandang sebagai kue asing, melainkan bagian dari identitas kuliner Indonesia. Nastar mulai identik dengan momen Lebaran, disajikan bersama kue kering lain seperti kastengel dan putri salju. Kehadirannya bahkan dianggap wajib di banyak rumah.
Transformasi ini menunjukkan bagaimana budaya kuliner bisa beradaptasi dan berakar kuat. Meski namanya berasal dari bahasa Belanda, makna nastar kini sepenuhnya milik masyarakat Indonesia. Nastar pun menjadi bukti bahwa sejarah kolonial juga meninggalkan jejak di meja makan kita.
Nastar bukan sekadar kue kering favorit, tetapi juga jejak sejarah yang tersimpan dalam rasa dan namanya. Dari dapur kolonial hingga meja Lebaran, nastar membuktikan bahwa budaya bisa berbaur dan melahirkan tradisi baru. Jadi, setiap gigitan nastar sebenarnya membawa cerita panjang tentang perjalanan kuliner lintas zaman.



















