Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apakah Semua Makanan dari Hewan Mengandung Kolesterol?
Daging (pexels.com/Lukas)
  • Kolesterol diproduksi tubuh sekitar 80%, sisanya berasal dari makanan tinggi lemak jenuh seperti daging merah, produk susu penuh lemak, dan gorengan.
  • Hanya produk hewani yang mengandung kolesterol, sedangkan tumbuhan tidak; namun lemak jenuh dari minyak kelapa atau sawit tetap bisa meningkatkan kadar kolesterol darah.
  • Makanan tinggi asam lemak omega-3 dan lemak tak jenuh seperti ikan berlemak, kacang-kacangan, alpukat, serta minyak zaitun disarankan untuk menjaga kadar kolesterol tetap normal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kolesterol sering kali dikaitkan dengan makanan yang lezat, seperti olahan daging yang juicy, lumernya telur mata sapi, renyahnya gorengan, dan makanan tinggi lemak lainnya. Rasanya sayang sekali jika harus melewatkan makanan itu di piring makan. Namun, begitu hasil lab keluar dan angka kolesterol tidak baik-baik saja, banyak orang langsung mencoret menu-menu favoritnya dari daftar makan harian. Apakah makanan hewani semengerikan itu sampai ditakuti penderita kolesterol?

Tanpa pikir panjang, segala olahan daging dan telur seketika terhempas dari bayang-bayangnya. Tapi, apakah benar sumber kolesterol berasal dari daging yang ia makan? Anggapan ini sudah terlanjur melekat kuat di kepala banyak orang, padahal sejatinya tubuh manusia pun memproduksi kolesterol sendiri setiap harinya. Nah, dengan adanya artikel ini, kita akan sama-sama membedah apakah hanya makanan dari hewan mengandung kolesterol? Berikut penjelasannya!

1. Apa itu kolesterol?

ilustrasi hati (unsplash.com/Robina)

Kolesterol adalah zat seperti lilin dan lemak (lipid) yang melakukan banyak fungsi penting dalam tubuh. Kolesterol sangat penting untuk kelangsungan hidup. Namun, terlalu banyak kolesterol juga berisiko bagi kesehatan. Kolesterol yang melebihi batas normal meningkatkan risiko masalah jantung dan pembuluh darah.

Kolesterol terbagi dalam empat jenis. Jenis kolesterol ini dibagi berdasarkan cara kolesterol diangkut dalam darah. Berikut jenis-jenisnya:

  • Kolesterol HDL

Merupakan kolesterol 'baik' yang dapat membantu melindungi arteri.

  • Kolesterol LDL

Adalah kolesterol 'jahat' yang dapat menyebabkan penumpukan lengket atau disebut plak pada arteri.

  • Kolesterol VLDL

Adalah jenis kolesterol jahat lainnya yang dapat menyebabkan penumpukan plak.

  • Kolesterol non-HDL

Merujuk pada semua kolesterol dalam darah kecuali HDL.

Lalu dari mana asalnya kolesterol ini? Perjalanan kolesterol dimulai dari hati yang memproduksi kolesterol untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Hati memproduksi sekitar 80% dari seluruh kolesterol dalam tubuh. Sisanya berasal dari makanan yang dikonsumsi. Dalam hal ini, sumber terbesar adalah makanan yang tinggi lemak jenuh seperti produk susu berlemak penuh dan daging merah atau lemak trans seperti gorengan.

Biasanya tubuh mampu menyaring kolesterol yang tidak dibutuhkan. Namun, banyak faktor yang memengaruhi seberapa banyak kolesterol yang tetap berada di dalam tubuh. Faktor-faktor ini termasuk usia dan gen yang diwarisi.

Kolesterol sendiri terletak di setiap sel dalam tubuh. Kolesterol juga beredar melalui darah, tetapi tidak dapat melakukannya sendiri karena cara pembentukannya. Molekul kolesterol perlu terikat pada molekul lain. Jadi, kolesterol bergabung dengan protein dan jenis lipid lain yang disebut trigliserida. Molekul-molekul ini berikatan bersama membentuk partikel yang disebut lipoprotein.

2. Daftar makanan tinggi kolesterol

Daging panggang (pexels.com/Emre)

Makanan adalah penyumbang terbesar terjadinya kenaikan kolesterol. Jangan salah, tidak semua makanan, ya! Banyak masakan yang sering menggunakan minyak, santan kental, dan makanan yang digoreng. Kombinasi ini dapat dengan mudah meningkatkan kadar kolesterol jika tidak diimbangi dengan gaya hidup sehat. Berikut adalah daftar makanan kaya kolesteri yang wajib dihindari sebelum kadar kolesteri meningkat, antara lain:

  • Makanan goreng dan cepat saji

Keduanya mengandung kadar lemak trans dan lemak jenuh yang tinggi. Penggorengan berulang membuat minyak menjadi tidak sehat dan memicu peningkatan kolesterol LDL (jahat), yang secara signifikan meningkatkan risiko penyumbatan pembuluh darah.

  • Daging merah berlemak

Daging sapi atau domba dengan lapisan lemak tebal mengandung kadar lemak jenuh yang tinggi. Mengonsumsinya terlalu banyak dapat mempercepat penumpukan plak di arteri dan meningkatkan risiko penyakit jantung.

  • Jeroan dan bagian berlemak hewan

Jeroan, khususnya bagian hati, usus, babat, dan kulit ayam, memiliki kandungan kolesterol yang tinggi. Konsumsi berlebihan dapat memengaruhi kadar kolesterol darah, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat kolesterol tinggi.

  • Makanan mengandung santan dan lemak padat olahan

Masakan yang menggunakan santan kental, seperti gulai, rendang, opor, atau kari, mengandung lemak jenuh dalam jumlah tinggi, yang dapat meningkatkan kolesterol. Memasak santan berulang kali juga dapat meningkatkan kandungan lemaknya.

  • Mentega, margarin, dan produk susu krim penuh

Produk susu tinggi lemak, serta mentega atau margarin, mengandung lemak jenuh dan seringkali lemak trans. Jika dikonsumsi setiap hari, kolesterol dapat meningkat dengan cepat tanpa disadari.

  • Makanan laut

Makanan laut dikenal kaya akan protein, namun beberapa jenis makanan laut memiliki kadar kolesterol yang tinggi. Mengonsumsi terlalu banyak, terutama yang digoreng atau dimasak dengan bumbu berlemak, dapat meningkatkan kadar kolesterol lebih cepat.

Dilansir EMC Health Care, terdapat daftar bahan makanan per 100 gram yang menunjukkan kadar kolesterol dan dikelompokkan dalam kategori 'terlarang', 'berbahaya', 'hati-hati', 'sesekali', dan 'sehat.'

  • Telur puyuh = 3.640 mg (terlarang)

  • Otak sapi = 2.300 mg (terlarang)

  • Kuning telur ayam = 2.000 mg (terlarang)

  • Jeroan kambing = 610 mg (berbahaya)

  • Jeroan sapi = 380 mg (berbahaya)

  • Susu sapi = 250 mg (berbahaya)

  • Belut = 185 mg (hati-hati)

  • Santan = 185 mg (hati-hati)

  • Udang = 160 mg (hati-hati)

  • Kepiting = 150 mg (hati-hati)

  • Keju = 140 mg (hati-hati)

  • Lemak kambing = 130 mg (sesekali)

  • Daging sapi berlemak = 125 mg (sesekali)

  • Daging sapi = 105 mg (sesekali)

  • Iga sapi = 100 mg (sesekali)

  • Daging ayam tanpa kulit = 50 mg (sehat)

  • Teripang = 0 mg (sehat)

  • Ikan sungai/air tawar = 55 mg (sehat)

  • Daging kelinci = 65 mg (sehat)

  • Putih telur ayam = 0 mg (sehat)

3. Apakah kolesterol hanya ditemukan pada produk hewan?

ilustrasi daging sapi (unsplash.com/Sergey Kotonev)

Dilansir Integris Health, benar bahwa kolesterol hanya ditemukan pada produk hewani. Artinya tumbuhan tidak menghasilkan kolesterol. Namun, meskipun kamu tidak akan menemukan kolesterol dalam tumbuhan, vegan, vegetarian, dan pemakan non-daging lainnya, bukan berarti kamu kebal terhadap risiko kolesterol tinggi. Makanan nabati masih dapat mengandung lemak jenuh yang meningkatkan kolesterol, misalnya pada minyak kelapa dan minyak sawit.

Sebagaimana kita ketahui, produk hewani mengandung lemak jenuh. Lalu apakah lemak jenuh meningkatkan kolesterol? Yang perlu diperhatikan adalah lemak jenuh, bukan makanan tinggi kolesterol, yang akan lebih berdampak pada kadar kolesterol darah.

Sederhananya, setelah dicerna, makanan yang tinggi lemak jenuh meningkatkan jumlah kolesterol LDL yang diproduksi. Jumlah lemak jenuh yang berlebihan memengaruhi efisiensi reseptor LDL. Reseptor LDL merupakan sekelompok asam amino pada membran sel-sel hati yang disebut hepatosit. Reseptor ini memainkan peran penting dengan melepaskan LDL dan trigliserida yang dibutuhkan untuk melakukan beberapa pekerjaan. Jika reseptor tidak berfungsi seperti seharusnya, maka terlalu banyak kolesterol LDL dapat tetap dalam darah.

LDL yang berlebih dapat membentuk penumpukan plak di arteri, yang pada akhirnya akan menyebabkan arteri mulai menyempit dan meningkatkan kemungkinan terjadinya penyumbatan. Plak juga dapat terlepas dan menggumpal, menyebabkan serangan jantung atau stroke karena kurangnya suplai darah ke jantung atau otak. Jika pola makan seseorang sebagian besar terdiri dari lemak jenuh, pertimbangkan untuk mengurangi makanan yang mengandung asam palmitat—keju, daging, dan mentega.

4. Pilihlah daftar makanan ini sebagai gantinya

ilustrasi pola makan sehat (unsplash.com/Farhad Ibrahimzade)

Hindari mengonsumsi produk susu berlemak penuh, daging, makanan olahan, dan makanan gorengan sebagai sumber kalori utama. Perlu ditegaskan lagi bahwa makanan tersebut tinggi lemak jenuh dan dapat meningkatkan risiko kolesterol tinggi yang berujung pada masalah kardiovaskular. Maka, pilihlah lemak sehat, seperti asam lemak omega-3, lemak tak jenuh tunggal, dan lemak tak jenuh ganda, daripada lemak jenuh atau lemak trans.

Beberapa makanan di bawah ini bisa dijadikan menu utama demi menjaga kadar kolesterol, berikut daftar makanan tinggi asam lemak omega-3, lemak tak jenuh tunggal, dan lemak tak jenuh ganda:

  • Ikan berlemak (salmon, mackerel, sea bass, herring)

  • Tiram

  • Biji chia

  • Biji rami

  • Kacang kenari

  • Minyak zaitun

  • Minyak canola

  • Minyak kacang

  • Minyak wijen

  • Alpukat

  • Selai kacang

  • Almond, mete, pistachio

  • Ikan

  • Biji labu

  • Biji bunga matahari

Jadi, faktanya hanya makanan dari hewan mengandung kolesterol, yang mana mengandung lemak jenuh di dalamnya. Makanan tinggi lemak jenuh dan trans adalah penyumbang terbesar terhadap peningkatan kadar kolesterol. Perbanyak konsumsi makanan yang mengandung asam lemak omega-3, lemak tak jenuh tunggal, dan lemak tak jenuh ganda demi menjaga kolesterol tetap berada di angka normal.

Referensi:

Cleveland Clinic. What Is Cholesterol? Types & Function. Diakses pada Mei 2026.

WebMD. High-Cholesterol Foods That Are Good for You. Diakses pada Mei 2026.

EMC Healthcare. Here are the foods that people with high cholesterol. Diakses pada Mei 2026.

Integris Health. How Eating Fewer Animal Products Can Lower Your. Diakses pada Mei 2026.

Heart UK. High cholesterol food. Diakses pada Mei 2026.

Healthline. 11 Foods High in Cholesterol: What to Eat and Avoid. Diakses pada Mei 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article