5 Makanan Tradisional yang Dimasak dalam Bumbung Bambu

Bambu ternyata bisa dijadikan alat masak. Jauh sebelum peralatan dapur modern mudah ditemukan, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia sudah memanfaatkan batang bambu sebagai wadah untuk memasak. Teknik ini bukan sekadar unik untuk dilihat, tetapi juga berkaitan erat dengan bahan yang tersedia di sekitar mereka.
Menariknya, makanan yang dimasak di dalam bumbung bambu punya karakter berbeda-beda. Ada yang menggunakan ayam, ikan, beras ketan, hingga adonan berbumbu. Cara memasaknya pun tidak selalu sama. Kalau kamu suka kuliner tradisional yang punya proses memasak antimainstream, lima makanan yang dimasak dalam bumbung bambu ini wajib dicoba.
1. Manuk pansuh khas Dayak

ilustrasi manok pansoh (istockphoto.com/ Bubbers13) Manuk pansuh merupakan hidangan tradisional masyarakat Dayak yang menggunakan ayam sebagai bahan utama. Ayam dibumbui dengan rempah, kemudian dimasukkan ke dalam ruas bambu yang sudah dilapisi daun. Bambu tersebut lalu diletakkan di dekat api hingga ayam matang. Teknik memasak seperti ini dikenal sebagai pansuh dan masih menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat Dayak di Kalimantan.
Penggunaan bambu membuat proses memasaknya terasa berbeda dari memanggang ayam biasa. Bahan berada di dalam ruang bambu selama dimasak, sehingga aroma daun dan bambu ikut terasa. Buat kamu yang baru pertama kali melihat prosesnya, bagian ketika bambu dibuka setelah matang justru menjadi salah satu momen paling menarik.
2. Pa'piong khas Toraja

ilustrasi pa'piong (commons.wikimedia.org/ Lord Mountbatten) Pa'piong adalah salah satu makanan khas Toraja yang terkenal dengan teknik memasak menggunakan bambu. Bahan yang digunakan bisa berupa ayam, ikan, atau daging babi, kemudian dicampur dengan bumbu serta daun miana. Campuran tersebut dimasukkan ke dalam batang bambu dan dipanggang di atas api hingga matang.
Pa'piong juga memiliki hubungan dengan kehidupan adat masyarakat Toraja. Hidangan ini dapat ditemukan dalam berbagai acara dan perayaan tradisional, dengan bahan yang dapat disesuaikan berdasarkan jenis sajian serta konteks acara. Kalau kamu ingin mencicipinya saat traveling, pastikan untuk bertanya mengenai bahan yang digunakan karena beberapa versi memang menggunakan daging babi.
3. Lemang

ilustrasi lemang (commons.wikimedia.org/ Rulwarih) Lemang merupakan makanan berbahan beras ketan yang dimasak di dalam bambu. Beras ketan biasanya dicampur dengan santan dan garam, lalu dimasukkan ke dalam bambu yang sudah diberi daun pisang. Bambu lalu dibakar dalam posisi miring di dekat bara api sampai ketan matang.
Teknik memasak tersebut membuat lemang berbentuk silinder dengan tekstur ketan yang khas. Setelah matang, bambu biasanya dibelah atau dikupas untuk mengeluarkan lemang sebelum dipotong-potong. Rasanya gurih dari santan, sementara teksturnya padat dan lembut. Lemang juga dikenal di sejumlah daerah di Indonesia dan sering disajikan bersama lauk atau makanan manis.
4. Nasi jaha khas Maluku

ilustrasi nasi jaha (commons.wikimedia.org/ Sofi Solihah) Nasi jaha merupakan makanan tradisional Maluku yang punya teknik memasak cukup khas karena menggunakan bambu. Beras ketan dan beras biasa dicampur dengan santan serta rempah, seperti jahe, lalu dimasukkan ke dalam bambu yang telah dilapisi daun pisang. Setelah itu, bambu dibakar hingga nasi matang.
Aroma rempahnya membuat nasi jaha punya karakter yang berbeda dari nasi biasa. Teksturnya juga cenderung lebih padat karena penggunaan beras ketan. Di Maluku, nasi jaha sering hadir dalam acara keluarga dan perayaan tertentu. Jadi, ketika kamu mencicipinya, kamu bukan cuma menemukan makanan berbumbu rempah, tetapi juga kuliner yang berkaitan dengan tradisi masyarakat setempat.
5. Kue putu bambu

ilustrasi kue putu bambu (pexels.com/ kevin yung) Kalau makanan sebelumnya memakai bambu sebagai wadah utama untuk memasak, kue putu menggunakan bambu dalam bentuk cetakan. Adonan tepung beras yang diberi gula merah dimasukkan ke dalam potongan bambu, kemudian dikukus menggunakan uap panas. Setelah matang, putu dikeluarkan dan disajikan dengan kelapa parut.
Hal yang paling gampang dikenali dari putu adalah suara khas uap dari alat pengukusnya. Aroma gula merah yang keluar ketika putu matang juga bikin jajanan ini gampang menarik perhatian. Meski sekarang sudah banyak cetakan modern, penggunaan bambu masih dipertahankan oleh sebagian penjual karena bentuk dan cara penyajiannya sudah melekat dengan identitas kue putu.
Bumbung bambu menunjukkan bahwa peralatan masak sederhana dapat berperan besar dalam perjalanan kuliner Indonesia. Dari hidangan gurih sampai jajanan manis, bambu bisa menjadi wadah yang sekaligus memperlihatkan hubungan masyarakat dengan lingkungan di sekitarnya.
Kalau kamu menemukan makanan yang masih dimasak dengan cara seperti ini saat traveling, coba luangkan waktu untuk melihat prosesnya. Ada pengalaman tersendiri ketika melihat bambu yang awalnya cuma berupa batang biasa berubah menjadi wadah makanan yang siap disantap.























