4 Bentuk Chasen yang Digunakan untuk Mengocok Matcha

- Chasen standar cocok untuk pemula dan penikmat matcha sehari-hari, tidak menuntut teknik khusus.
- Chasen shin memiliki tampilan ramping dan elegan, sering menjadi pilihan bagi pecinta matcha yang memperhatikan detail estetika.
- Chasen lurus memerlukan chawan dengan dasar luas, tidak ditujukan untuk menghasilkan busa tebal, melainkan lapisan busa tipis yang menyelimuti permukaan matcha.
Pernah melihat alat yang kerap digunakan barista di kafe untuk mengaduk bubuk matcha? Alat tersebut dikenal sebagai chasen atau tea whisk. Chasen merupakan pengocok tradisional khas Jepang yang terbuat dari sepotong bambu utuh yang berfungsi mencampur bubuk matcha dan air panas hingga menyatu sempurna. Deretan cabang bambu yang halus dirancang untuk digerakkan secara zig-zag sehingga menghasilkan tekstur matcha yang lembut, creamy, dan berbusa. Jumlah cabang pada chasen pun bervariasi, menyesuaikan kebutuhan penyajian matcha encer (usucha) maupun kental (koicha).
Walaupun kini banyak chasen diproduksi secara massal di luar Jepang, desain dan karakternya tetap berakar pada pakem tradisional yang telah berkembang selama ratusan tahun. Bagi penikmat matcha, memahami bentuk chasen sama pentingnya seperti memilih kualitas bubuk teh itu sendiri. Secara umum, terdapat empat bentuk chasen yang paling sering digunakan dan dibahas, mulai dari model standar hingga varian khusus yang dirancang untuk mempercepat pembentukan busa. Lalu, apa saja bentuk chasen yang digunakan untuk mengocok matcha? Mari kenali satu per satu.
1. Chasen standar

Chasen standar merupakan bentuk yang paling umum ditemui, baik buatan Jepang maupun produksi massal. Bilah-bilahnya relatif lurus di bagian bawah, lalu melengkung lembut mendekati ujung dan membentuk loop kecil di bagian tip. Lengkungan tajam di ujung ini sangat efektif untuk menghasilkan busa halus dan merata saat mengocok usucha atau matcha encer.
Berkat sifatnya yang serbaguna, chasen standar cocok untuk pemula maupun penikmat matcha sehari-hari. Bentuk ini tidak menuntut teknik khusus dan dapat digunakan pada berbagai ukuran chawan (mangkuk keramik tradisional untuk minum teh matcha). Tak heran jika chasen standar menjadi pilihan paling aman bagi mereka yang baru mulai mendalami pembuatan minuman matcha.
2. Chasen Shin (真)

Chasen shin dikenal dengan tampilan yang lebih ramping dan elegan. Gagangnya lebih kecil, sementara bilahnya melengkung lebih halus tanpa membentuk loop di ujung. Bentuk ini banyak digunakan oleh sekolah upacara teh besar seperti Urasenke dan Omotesenke yang menekankan estetika dan keselarasan gerak.
Secara fungsi, chasen shin tidak berbeda jauh dari chasen standar dalam menghasilkan busa. Perbedaannya lebih bersifat visual dan filosofis yang mencerminkan kesederhanaan serta keanggunan dalam tradisi chanoyu (ritual tradisional Jepang dalam menyajikan teh untuk tamu). Bagi pecinta matcha yang memperhatikan detail estetika, chasen shin sering menjadi pilihan favorit.
3. Chasen lurus

Chasen yang memiliki bilah lurus merupakan bentuk paling awal dalam tradisi mengaduk matcha. Model ini kini semakin jarang ditemui dan umumnya hanya digunakan oleh beberapa aliran upacara minum teh, salah satunya Mushanokōjisenke. Salah satu contoh paling dikenal adalah gaya Kankyū-an yang mempertahankan bilah bambu sepenuhnya lurus tanpa lengkungan di bagian ujung.
Karena umumnya memiliki diameter yang lebih lebar dibanding chasen melengkung, chasen lurus memerlukan chawan dengan dasar luas agar dapat digunakan secara maksimal. Alat ini memang tidak ditujukan untuk menghasilkan busa tebal, melainkan lapisan busa tipis yang menyelimuti permukaan matcha. Pendekatan tersebut selaras dengan filosofi penyajian yang menekankan ketenangan, kesederhanaan, dan kehalusan rasa.
4. Chasen varian khusus

Selain tiga bentuk utama, hampir setiap aliran upacara minum teh memiliki gaya chasen pilihannya masing-masing. Hal ini membuat ragam chasen berkembang sangat luas, bahkan mencapai puluhan hingga ratusan bentuk berbeda. Mengutip laman Tezumi, beberapa di antaranya adalah chasen bergagang panjang Tenmokudate (天目立) yang digunakan untuk mangkuk tenmoku, chasen dengan simpul di bagian bawah yang dipakai aliran Yūraku-ryū (有楽流), model pendek khas Yabunouchi-ryū (藪内流), hingga desain bersudut bilah tegas yang menjadi ciri Enshū-ryū.
Salah satu desain yang cukup unik datang dari Suikaen, produsen chasen yang dipimpin Yasaburo Tanimura (谷村弥三郎), perajin generasi ke-25. Chasen ini memiliki jumlah dan bentuk bilah yang sama seperti kazuho standar, tetapi dilengkapi gagang lebih panjang. Dikenal sebagai bubbling atau foaming chasen (泡点つ茶筌), desain tersebut dirancang untuk membantu pembentukan busa secara lebih cepat dan efisien.
Memahami perbedaan bentuk chasen yang digunakan untuk mengocok matcha dapat membantumu menemukan alat yang paling sesuai dengan gaya penyajian. Setiap chasen memiliki karakter dan fungsi tersendiri, yang turut memengaruhi proses serta hasil seduhan. Menikmati matcha pun bukan hanya soal rasa, melainkan juga bentuk apresiasi terhadap tradisi yang telah diwariskan selama ratusan tahun. Kalau kamu sendiri, pernah menjumpai atau menggunakan chasen yang seperti apa?

















