Zaman sekarang ini, untuk memakan dimsum tak perlu lagi pergi ke restoran atau memasak sendiri, lantaran telah ada dimsum instan dalam keadaan beku.
Dimsum instan telah memasuki pasar Hong Kong, Taiwan, Vitenam, Filipina, Singapura, hingga Indonesia. Dimsum instan dapat dengan mudah ditemui di swalayan, terutama di era digital saat ini ada banyak toko dimsum yang melayani pengiriman. Cukup dengan menghangatkannya sebentar, dimsum pun telah siap untuk disantap bersama orang tersayang.
Selain itu, ada banyak kedai-kedai makanan yang menjual dimsum dalam keadaan hangat dan matang. Tak perlu repot-repot lagi, kamu bisa langsung memakannya saat itu juga dan menikmati lezatnya dimsum.
Wah, ternyata ada banyak cerita dibalik lembutnya kuliner khas China yang satu ini. Tak hanya membuat perut kenyang, sesuai dengan arti namanya dimsum juga bisa menyentuh hati karena keenakannya. Yummy!
Dari mana asal-usul tradisi dim sum bermula? | Dim sum berasal dari wilayah selatan Tiongkok, khususnya di Guangdong (Kanton). Tradisi ini berawal dari kebiasaan para pedagang dan pelancong yang melewati Jalur Sutra. Mereka sering beristirahat di kedai teh (teahouse) pinggir jalan untuk memulihkan energi sambil menikmati camilan kecil. |
Apa hubungan antara dim sum dengan tradisi Yum Cha? | Yum Cha secara harfiah berarti "minum teh". Dahulu, makan dim sum hanyalah pelengkap saat orang menikmati teh. Namun seiring berjalannya waktu, porsi dan variasi makanan kecil tersebut semakin beragam hingga akhirnya Yum Cha dan dim sum menjadi satu kesatuan tradisi makan bersama yang identik dengan momen bersosialisasi. |
Apa arti nama "Dim Sum" secara harfiah? | Secara etimologi, kata "Dim Sum" dalam bahasa Kanton berasal dari frasa Mandarin dian xin yang secara puitis berarti "menyentuh hati". Nama ini mencerminkan konsep makanannya yang berupa porsi-porsi kecil yang dibuat dengan ketelitian dan rasa yang lezat untuk memuaskan hati, bukan sekadar mengenyangkan perut. |
Bagaimana dim sum bisa menjadi populer di seluruh dunia? | Kepopuleran dim sum menyebar seiring dengan migrasi masyarakat Kanton ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara dan Amerika. Variasi teknik memasak seperti dikukus, digoreng, dan dipanggang, serta teksturnya yang lembut, membuat kuliner ini mudah diterima oleh berbagai lidah di seluruh dunia. |