Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Yusheng Identik dengan Imlek? Ini Makna dan Sejarahnya

ilustrasi tradisi Yusheng yang identik dengan perayaan Imlek
ilustrasi tradisi Yusheng yang identik dengan perayaan Imlek (commons.wikimedia.org/Jayden Teo)
Intinya sih...
  • Yusheng berasal dari tradisi ikan mentah di Tiongkok Kuno, kemudian mengalami transformasi sesuai dengan dinamika budaya di berbagai daerah.
  • Nama Yusheng memiliki arti filosofis yang melambangkan harapan akan kehidupan yang semakin makmur dari waktu ke waktu.
  • Setiap bahan dalam Yusheng memiliki makna filosofis yang mendalam dan tidak dipilih secara sembarangan, serta tradisi Lo Hei menjadi momen paling ditunggu.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Setiap perayaan Imlek selalu identik dengan beragam hidangan khas yang sarat simbol dan harapan, salah satunya adalah Yusheng. Hidangan berwarna-warni ini bukan sekadar salad ikan mentah biasa, melainkan simbol kemakmuran, keberuntungan, dan doa untuk tahun yang lebih baik. Tradisi mengaduk Yusheng bersama-sama sambil mengucapkan harapan dipercaya membawa rezeki yang melimpah bagi siapa pun yang menikmatinya.

Tak sekadar meriah, tradisi ini menjadi salah satu momen yang selalu dinanti saat perayaan Tahun Baru Imlek. Namun, di balik sajian yang tampak sederhana dan segar ini, tersimpan kisah sejarah yang tak kalah menarik. Jadi, sebenarnya kenapa Yusheng identik dengan Imlek? Yuk, simak penjelasannya sampai tuntas!

1. Berawal dari tradisi ikan mentah di Tiongkok Kuno

ilustrasi sajian khas perayaan Imlek
ilustrasi sajian khas perayaan Imlek (commons.wikimedia.org/Encik Tekateki)

Yusheng memiliki akar dari tradisi menyantap ikan mentah yang sudah dikenal dalam budaya Tiongkok sejak ribuan tahun lalu. Ikan dalam bahasa Mandarin berbunyi “yu” yang pelafalannya mirip dengan kata “kelebihan” atau “kelimpahan”. Karena itulah, ikan kerap dihidangkan saat momen penting sebagai simbol rezeki yang berlimpah.

Seiring berjalannya waktu, tradisi ini mengalami transformasi sesuai dengan dinamika budaya di berbagai daerah. Versi Yusheng yang kita kenal saat ini banyak dipengaruhi oleh inovasi komunitas Tionghoa di Singapura dan Malaysia pada abad ke-20. Dari sana, hidangan ini semakin dikenal luas hingga akhirnya melekat sebagai sajian khas perayaan Imlek.

2. Arti filosofis di balik nama Yusheng

ilustrasi Yusheng
ilustrasi Yusheng (commons.wikimedia.org/Jayden Teo)

Nama Yusheng bukan sekadar sebutan untuk salad ikan mentah biasa. Secara bahasa, “yu” dalam Mandarin merujuk pada ikan dan sekaligus diasosiasikan dengan makna surplus atau rezeki berlebih. Sementara “sheng” berarti mentah, tetapi juga bisa dimaknai sebagai tumbuh atau meningkat.

Jika disatukan, Yusheng melambangkan harapan akan kehidupan yang semakin makmur dari waktu ke waktu. Filosofi ini selaras dengan makna Imlek sebagai momen awal yang penuh harapan baru. Jadi, bukan hanya rasanya yang istimewa, tetapi namanya pun sudah mengandung pesan keberkahan.

3. Simbolisme di balik setiap bahan

ilustrasi komponen bahan dalam Yusheng
ilustrasi komponen bahan dalam Yusheng (commons.wikimedia.org/Apluswiki)

Setiap bahan dalam Yusheng memiliki makna filosofis yang mendalam dan tidak dipilih secara sembarangan. Ikan mentah menjadi simbol utama kelimpahan rezeki, sementara irisan lobak putih melambangkan nasib baik serta kemajuan dalam karier dan kehidupan pribadi. Sementara itu, wortel dengan warnanya yang cerah merepresentasikan keberuntungan, semangat baru, dan energi positif untuk menyambut tahun yang lebih baik.

Saus plum yang manis menggambarkan keharmonisan dan kebahagiaan dalam keluarga. Taburan kacang dan biji wijen melambangkan kemakmuran yang berlipat ganda. Kombinasi warna-warni bahan ini juga mencerminkan optimisme menyambut awal tahun yang baru.

4. Tradisi Lo Hei yang jadi momen paling ditunggu

ilustrasi tradisi Lo Hei
ilustrasi tradisi Lo Hei (commons.wikimedia.org/Jan)

Yusheng terasa semakin bermakna berkat tradisi lo hei atau mengaduk bersama yang selalu dinanti. Dalam momen ini, seluruh anggota keluarga berdiri mengitari meja sambil mengangkat dan mencampur Yusheng setinggi mungkin dengan sumpit. Konon, semakin tinggi Yusheng terangkat, semakin besar pula doa dan keberuntungan yang diharapkan datang di tahun baru.

Sambil mengaduk, biasanya diucapkan doa-doa dan harapan baik secara bergantian. Suasana pun menjadi riuh, penuh tawa, dan terasa hangat. Momen kebersamaan inilah yang membuat Yusheng begitu melekat pada perayaan Imlek.

5. Alasan Yusheng identik dengan Imlek

ilustrasi Yusheng saat perayaan Imlek
ilustrasi Yusheng saat perayaan Imlek (commons.wikimedia.org/Herbertkikoy)

Perayaan Imlek identik dengan awal yang baru dan doa untuk masa depan yang lebih cerah. Makna Yusheng yang melambangkan rezeki berlimpah dan perkembangan hidup membuatnya terasa begitu relevan. Tak heran jika sajian ini biasanya dinikmati pada hari-hari pertama Imlek sebagai simbol pembuka keberuntungan.

Tradisi menyantapnya bersama keluarga juga memperkuat nilai kebersamaan yang dijunjung tinggi saat Imlek. Karena terus diulang dari generasi ke generasi, Yusheng akhirnya menjadi ikon kuliner khas Tahun Baru Imlek. Tak heran jika tanpa Yusheng, perayaan Imlek terasa kurang lengkap bagi sebagian orang.

Bukan sekadar hidangan pembuka, yusheng identik dengan Imlek karena menjadi simbol doa dan harapan yang diangkat tinggi-tinggi bersama orang terdekat. Tradisi ini membuktikan bahwa makanan bisa menjadi medium untuk merayakan kebersamaan sekaligus menyemai optimisme di awal tahun. Jadi, saat Imlek tiba nanti, sudah siap ikut lo hei dan menyambut keberuntungan dengan semangat baru?

Referensi

“Yusheng and Lo Hei.” Roots.gov.sg (National Heritage Board Singapore). Diakses Februari 2026.

“Delapan Tradisi dalam Makanan sebagai Identitas Budaya Etnis Tionghoa Kota Tanjungpinang.” Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni. Diakses Februari 2026.

“Perayaan Tahun Baru Imlek dalam Masyarakat Tionghoa di Indonesia.” Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin. Diakses Februari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Food

See More

5 Tips Membuat Peach Shortcake yang Lembut dan Gak Seret di Tenggorokan

17 Feb 2026, 16:31 WIBFood