Comscore Tracker

Realita di Balik Stereotipe Masyarakat: "Pria Nge-Gym Itu Pasti Gay"

Haruskah melihatnya demikian?

Nge-gym adalah salah satu pilihan olahraga yang praktis dan efisien, karena kini sudah banyak tersedia tempatnya di mana-mana. Utamanya orang perkotaan akan banyak memilih nge-gym sebagai aktivitas olahraganya, terutama karena kurangnya lahan dan padatnya jadwal untuk bisa berolahraga lainnya.

Namun, bagi pria, nge-gym bisa menjadi tantangan sosial tersendiri. Karena pria nge-gym cenderung mendapat stereotipe berorientasi homoseksual dari masyarakat. Bahkan jika kadang hanya dalam bentuk bercandaan. Benarkah stereotipe itu? Dilansir dari berbagai sumber, ini realita di balik stereotipe gay pada pria nge-gym!

1. Menurut riset, memang ada alasan kenapa banyak pria gay nge-gym, tapi bukan berarti semua pria yang nge-gym itu gay

Realita di Balik Stereotipe Masyarakat: Pria Nge-Gym Itu Pasti Gayunsplash.com/Victor Freitas

Berdasarkan diskusi para psikolog dan instruktur kebugaran di Quora dan elitefitness.com, ada alasan utama kenapa pria gay banyak memutuskan untuk nge-gym. Utamanya karena sebagai pria yang cenderung visual, yang dilihat pertama kali adalah penampilan fisik terlebih dahulu. Dengan pemikiran ini, mereka berharap agar tubuh mereka yang terpahat sebagus mungkin bisa menjadi daya saing dibandingkan pria lainnya. Tentu berbeda dengan kebanyakan wanita yang lebih mengutamakan faktor kenyamanan dan keamanan dalam memilih pasangan.

Berdasarkan diskusi dalam forum bodybuilding.com, setidaknya ada sekitar 20 persen pria di gym yang berorientasi homoseksual. Jika dicocokkan dengan stereotipe yang beredar bahwa pria nge-gym pasti gay, tentunya jauh dari kesimpulan tersebut, karena angka 20 persen terbilang cukup kecil. Selebihnya adalah pria yang memang murni bertujuan untuk berolahraga di sana.

Lagi pula, menurut akun dalam forum yang membuka diri bahwa mereka homoseksual, menyatakan bahwa tidak semua pria gay di gym itu mencari pasangan. Didukung oleh pernyataan ahli kepribadian di Quora, walau bagaimana pun gay hanya sebatas orientasi seksual, mereka tetap manusia biasa dengan motif dan tujuan yang berbeda-beda.

2. Nge-gym adalah salah satu bentuk olahraga yang bisa menjadi kesenangan seseorang, jadi tidak etis melarang kesenangan seseorang jika memang tujuannya baik

Realita di Balik Stereotipe Masyarakat: Pria Nge-Gym Itu Pasti Gayunsplash.com/Trust "Tru" Katsande

Dilansir dari New York Times, kita hidup di masyarakat yang memfokuskan penilaian dan penghargaan mereka pada tampilan fisik. Dalam hal ini termasuk tampilan maskulin seorang pria. Seseorang yang merasa dirinya tidak atau kurang maskulin, akan semakin besar kecemasan dalam hidupnya. Salah satu jalan keluar yang terpikirkan oleh mereka adalah membentuk badan jadi berotot. Kontradiktif dengan aktivitas nge-gym, kondisi badan berotot cenderung diidentikkan dengan maskulin.

Pada kenyataannya, obsesi terkait maskulinitas ini dimiliki hampir semua pria, tidak hanya pria gay. Ada yang terpaksa harus melakukannya dan mengesampingkan semua stereotipe itu, ada juga yang memang senang melakukan olahraga membentuk tubuh itu. Semua demi memenuhi standar “keindahan” yang ditetapkan secara masyarakat itu.

Ambil contoh sederhana saja, sosok superhero pria seperti apa yang diidolakan di masyarakat? Pria heteroseksual yang kurang percaya diri bisa jadi mulai mendapatkan rasa pedenya itu ketika mampu mencapai kondisi tubuh ideal itu.

Baca juga: Saat Kamu Berolahraga & Mengurus, Ke Mana Perginya Lemakmu?

3. Tidak ada aktivitas dalam gym secara wajar yang menyalahi norma apapun, Nge-gym itu bahkan dirasa penting bagi beberapa orang

Realita di Balik Stereotipe Masyarakat: Pria Nge-Gym Itu Pasti Gayunsplash.com/Justyn Warner

Bentuk dari kegiatan di gym sewajarnya adalah berbagai macam aktivitas senam, aerobik, peregangan, kardio, angkat beban dan semacamnya. Beberapa orang saking sibuknya sampai tidak bisa melakukan olahraga lain dan gym sangat berdekatan dengan tempat aktivitas reguler mereka (kantor/sekolah).

Sementara itu, beberapa orang lainnya merasa perlu faktor paksaan kuat untuk bisa terus rutin berolahraga (misalnya dalam bentuk: alat olahraga canggih terkini, biaya membership mahal yang sudah dibayar ataupun dorongan motivasi dari personal trainer yang sudah dijadwalkan untuknya).

Semua bentuk aktivitas itu sewajarnya tidak menyalahi norma apapun. Semestinya stigma negatif masyarakat ini bisa luntur dengan adanya orang-orang yang memang membutuhkan aktivitas dan fasilitasnya murni untuk berolahraga, serta dengan adanya profesionalitas tempat gym dan para pegawainya.

4. Tidak peduli apapun orientasi seksual seseorang, jika kamu mengalami perlakuan senonoh di manapun termasuk tempat gym, kamu harus segera bertindak

Realita di Balik Stereotipe Masyarakat: Pria Nge-Gym Itu Pasti Gayunsplash.com/Victor Freitas

Setiap tempat gym yang profesional, pasti akan menjaga kenyamanan dan keamanan para pelanggannya. Terutama dengan cara menetapkan peraturan dan batasan di tempat gym tersebut, yang bisa dibawa ke ranah hukum jika melanggarnya.

Tidak peduli apapun orientasi seksualnya, ketika seseorang mengalami pelecehan, sudah sepantasnya hal tersebut ditindaklanjuti. Laporkan kepada yang berwenang di tempat tersebut ataupun pihak berwajib, kamu berhak atas keamananmu. Di tempat mana pun.

Realita di Balik Stereotipe Masyarakat: Pria Nge-Gym Itu Pasti Gayunsplash.com/Yamon Figurs

Setidaknya kamu tahu bahwa gym yang profesional adalah tempat yang aman untuk kamu berolahraga, sebagai pria. Dan setelah membaca, sudah tidak sepantasnya kamu mengatai teman priamu atau sekedar berpikir mereka gay, hanya karena mereka pergi ke gym. Toh kondisi dan motivasi tiap orang berbeda-beda dalam berolahraga.

Kamu pastinya juga tidak mau kan jika aktivitas yang kamu senangi digeneralisasi begitu saja dengan perihal yang tidak kamu sukai? Hentikan stereotipe dan generalisasi untuk bisa lebih memanusiakan orang lain dan memanusiakan dirimu sendiri.

Baca juga: Ini 7 Pengalihan Pikiran Agar Kamu Gak Masturbasi Melulu

Line IDN Times

Topic:

Just For You