“Your Earwax and Sweat Have Something Smelly in Common”. McGill. Diakses September 2026.
“How the ABCC11 gene affects body odor”. Medical News Today. Diakses September 2026.
“A strong association of axillary osmidrosis with the wet earwax type determined by genotyping of the ABCC11 gene”. National Library of Medicine. Diakses September 2026.
“Earwax type: The myth”. University of Delaware. Diakses September 2026.
“What your earwax can reveal about your health”. BBC. Diakses September 2026.
“How Are Earwax and Body Odor Linked?”. The Scientist. Diakses September 2026.
Benarkah Kotoran Telinga Memengaruhi Bau Badan? Ini Fakta Ilmiahnya

- Serumen atau kotoran telinga terbentuk dari sekresi kelenjar di saluran telinga yang bercampur serpihan kulit dan rambut; tipenya, basah atau kering, diwariskan melalui gen ABCC11.
- Kotoran telinga dan bau badan berkaitan karena sama-sama melibatkan kelenjar apokrin. Bau muncul ketika bakteri kulit memetabolisme lemak serta protein dalam keringat apokrin.
- Variasi gen ABCC11 menentukan aktivitas protein transporter: tipe telinga basah dikaitkan dengan bau badan lebih menyengat, sedangkan tipe kering cenderung kurang berbau.
Ada yang bilang jika kotoran telinga bisa memengaruhi bau badan seseorang. Kotoran telinga basah atau memiliki tekstur lengket seperti madu dikaitkan dengan bau badan yang lebih menyengat, sementara kotoran telinga yang kering atau cenderung berwarna abu-abu dan rapuh, dikaitkan dengan bau badan yang lebih ringan. Pernah kah kamu mendengar hal ini?
Nah, daripada bertanya-tanya, yuk, langsung saja simak artikel berikut untuk menemukan fakta yang mengulas hubungan antara kotoran telinga dan bau badan. Benarkah kotoran telinga memengaruhi bau badan? Inilah faktanya.
1. Fakta ilmiah kotoran telinga

ilustrasi pemeriksaan kotoran telinga (pexels.com/https://kaboompics.com/) Dalam dunia medis, kotoran telinga disebut dengan serumen. Serumen merupakan hasil sekresi tubuh yang dikeluarkan oleh dua jenis kelenjar yang melapisi saluran telinga, yaitu kelenjar serumen (kelenjar keringat) dan kelenjar sebasea (kelenjar minyak). Di mana hasil sekresi tersebut kemudian bercampur dengan berbagai kotoran lainnya seperti serpihan kulit mati atau rambut-rambut yang rontok, yang kemudian menjadi materi seperti yang kita sebut kotoran telinga.
Uniknya, tidak semua orang memiliki jenis kotoran telinga yang sama. Ada yang memiliki kotoran telinga tipe basah, ada pula yang memiliki kotoran telinga tipe kering. Jenis kotoran telinga ini ternyata tak asal terbentuk dengan sendirinya bergantung pada kotoran yang tersedia, melainkan ini disandi oleh gen dalam tubuh kita.
Dalam jurnal BMC Genetics tahun 2009 dijelaskan, konsistensi kotoran telinga manusia merupakan sifat genetik yang diturunkan. Jadi, seseorang dengan tipe kotoran telinga tertentu merupakan hasil warisan dari orang tuanya. Adapun gen yang menyandi kotoran telinga adalah gen ABCC11. Perubahan basa, seperti Adenin (A), Timin (T), Sitosin (C), dan Guanin G) dalam gen kotoran telinga tersebut, membuat seseorang memiliki kotoran telinga tipe basah atau kering.
Dilansir laman Mc Gill, orang dengan variasi basa G pada gen ABCC11 memiliki jenis kotoran telinga basah. Sementara itu, orang dengan variasi basa A pada kedua salinan gen ABCC11 memiliki kotoran telinga kering. Secara genetik, kotoran telinga basah ini diturunkan secara dominan dan kotoran telinga kering diwariskan secara resesif.
2. Hubungan kotoran telinga dan bau badan

ilustrasi membersihkan telinga (unsplash.com/Mark Paton) Bau badan dan kotoran telinga diproduksi oleh kelenjar yang sama, yaitu kelenjar apokrin. Kotoran telinga dihasilkan oleh kelenjar apokrin di sekitar saluran telinga. Sedangkan bau badan, diproduksi oleh kelenjar apokrin di ketiak dan area genital.
Laman University of Delaware menjelaskan, tubuh memiliki dua jenis kelenjar keringat, yaitu kelenjar keringat ekrin dan apokrin. Kelenjar keringat ekrin adalah kelenjar keringat yang ditemukan hampir di seluruh permukaan kulit, seperti tangan, kaki, dan dahi. Kelenjar ekrin sebagian besar menghasilkan air dan garam sehingga tidak menghasilkan bau.
Sementara itu, kelenjar apokrin adalah kelenjar yang dijumpai di area ketiak dan genital. Kelenjar apokrin mengandung lemak dan protein. Jadi, ketika keringat yang dihasilkan kelenjar apokrin bercampur dengan kuman atau bakteri di kulit, bakteri tersebut akan memetabolisme atau “memakan” protein dan lemak tersebut sehingga menghasilkan bau badan sebagai hasil sampingnya.
Nah, seperti yang dijelaskan sebelumnya, kotoran telinga dihasilkan oleh dua jenis kelenjar, yaitu kelenjar serumen dan kelenjar sebasea. Kelenjar serumen ini merupakan jenis kelenjar keringat apokrin yang dimodifikasi. Jadi, kotoran telinga dan bau badan memiliki hubungan yang saling terkait, yaitu sama-sama dihasilkan oleh kelenjar keringat dalam tubuh.
3. Benarkah kotoran telinga memengaruhi bau badan?

ilustrasi mencium bau badan (pexels.com/MART PRODUCTION) Mengutip laman BBC, gen yang bertanggung jawab untuk memproduksi kotoran telinga, yaitu ABCC11, juga bertanggung jawab untuk menghasilkan bau badan. Gen ABCC11 ini mengkode protein yang disebut transporter. Protein transporter adalah protein yang membantu transportasi molekul dalam tubuh melintasi membran sel. Protein inilah yang membawa molekul keringat keluar dari sel ke kulit, yang kemudian akan dimakan bakteri dan menghasilkan senyawa volatil berbau alias bau badan.
Saat terjadi mutasi pada gen ABCC11, protein transporter ini menjadi tidak aktif atau dianggap cacat. Di mana, keberadaannya akan segera dihancurkan oleh sel sebelum sempat menjalankan fungsinya. Akibatnya, beberapa komponen tertentu dari keringat tidak terangkut keluar secara keseluruhan melalui membran sel yang membuat keringat menjadi kurang berbau.
Nah secara molekuler, protein transporter aktif ini ternyata hanya dijumpai pada orang yang memiliki kotoran telinga basah. Sementara itu, orang dengan kotoran telinga kering, protein ini ditemukan cacat. Inilah yang membuat seseorang dengan kotoran telinga tipe basah memiliki bau badan lebih menyengat, dan kotoran telinga kering menjadi kurang berbau.
Jadi, benarkah kotoran telinga memengaruhi bau badan? Jawabannya adalah benar. Di mana, kotoran telinga basah menyebabkan bau badan yang lebih menyengat karena protein transporter dari gen penyandi kotoran telinga aktif. Sedangkan pada kotoran telinga kering menyebabkan bau badan yang kurang berbau karena protein transporter yang membawa keringat cacat sehingga tidak bisa mengangkut semua komponen keringat dan menyebabkan molekul keringat kurang berbau.
Kotoran telinga dan bau badan memiliki hubungan keterkaitan satu sama lain. Di mana mereka dihasilkan oleh kelenjar yang sama dan dipengaruhi oleh gen yang sama. Di sisi lain, jenis kotoran telinga tertentu juga memengaruhi bau badan. Namun, bau badan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yang bervariasi, seperti jenis kelamin, pola makan, usia, kesehatan kekebalan tubuh, serta penggunaan deodoran.
Referensi
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






![[QUIZ] Apakah Kamu Punya Kecenderungan Anxiety? Cek di Sini](https://image.idntimes.com/post/20250920/arctic-qu-dtokmihuuqi-unsplash_8b1ef92d-ab4e-46ef-884b-123bdd4a932b.jpg)


![[QUIZ] Apakah Kamu Perlu Detoks Media Sosial? Cek dari Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20250528/screenshot-2025-05-28-082018-729cf6c4f291ffce1d7960e8c2669322-14379681e8b0768ac8adbcb2187d5670.png)













