Referensi
Ricardo Azziz et al., “Approach to the Patient: Hirsutism,” The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism 110, no. 10 (2025): e3503–e3519, https://doi.org/10.1210/clinem/dgaf226.
Merck Manual Professional Edition, “Hirsutism and Hypertrichosis,” diakses 23 Oktober 2026.
Helena J. Teede et al., “Recommendations from the 2023 International Evidence-based Guideline for the Assessment and Management of Polycystic Ovary Syndrome,” Human Reproduction 38, no. 9 (2023): 1655–1679, https://doi.org/10.1093/humrep/dead156.
Kathryn A. Martin et al., “Evaluation and Treatment of Hirsutism in Premenopausal Women: An Endocrine Society Clinical Practice Guideline,” The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism 103, no. 4 (2018): 1233–1257, https://doi.org/10.1210/jc.2018-00241.
Kenapa Rambut Bisa Tumbuh di Dagu Perempuan?

Rambut gelap di dagu perempuan yang muncul sesekali umumnya dipengaruhi keturunan, usia, hormon, atau sensitivitas folikel, sehingga tidak otomatis menandakan gangguan kesehatan.
Hirsutisme adalah pertumbuhan rambut kasar berpola laki-laki dan dapat terkait PMOS, kondisi hormon lain, obat tertentu, atau—meski jarang—tumor penghasil androgen.
Konsultasi dokter dianjurkan bila rambut tumbuh mendadak, cepat bertambah, atau disertai haid tidak teratur, jerawat berat, rambut kepala menipis, suara berat, maupun perubahan fisik lain.
Menemukan sehelai rambut gelap di dagu bisa bikin perempuan membelalakkan mata. Namun, beberapa helai rambut yang muncul sesekali tidak serta-merta menandakan penyakit atau gangguan hormon. Rambut tubuh dipengaruhi oleh faktor keturunan, usia, hormon, dan cara folikel rambut merespons hormon.
Dalam dunia medis, ada istilah hirsutisme untuk pertumbuhan rambut kasar dan gelap pada perempuan di pola yang biasanya lebih banyak ditemukan pada laki-laki, misalnya di dagu, dada, perut, atau punggung. Ini berbeda dari hipertrikosis, yaitu pertumbuhan rambut berlebih di area tubuh mana pun yang tidak mengikuti pola tersebut.
Berikut beberapa kemungkinan penyebab rambut tumbuh di dagu perempuan.
Table of Content
1. Keturunan dan folikel rambut yang lebih peka
Sebagian orang memang lebih mudah memiliki rambut kasar di wajah karena faktor keturunan atau karena folikel rambutnya lebih sensitif terhadap hormon androgen. Akibatnya, rambut di dagu bisa tumbuh lebih banyak meskipun kadar hormon dalam darah tetap normal.
Pada sebagian orang, pola pertumbuhan rambut menyerupai hirsutisme, tetapi pemeriksaan tidak menemukan gangguan hormonal yang jelas. Kondisi ini disebut hirsutisme idiopatik, yaitu hirsutisme dengan penyebab yang belum dapat diketahui meskipun sudah dilakukan evaluasi.
2. Perubahan hormon seiring usia
Pola pertumbuhan rambut dapat berubah seiring bertambahnya usia. Perubahan hormon, termasuk saat menjelang atau memasuki menopause, dapat memengaruhi pertumbuhan rambut di wajah. Karena itu, munculnya beberapa helai rambut di dagu belum tentu menandakan adanya masalah kesehatan.
3. Polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS)

ilustrasi rambut tumbuh di dagu (pexels.com/Andrea Piacquadio) PMOS—sebelumnya dikenal sebagai polycystic ovarian syndrome/PCOS—merupakan salah satu penyebab hormonal yang paling sering dikaitkan dengan hirsutisme. Pada kondisi ini, tubuh dapat menunjukkan tanda kelebihan androgen, yaitu kelompok hormon yang juga dimiliki perempuan dalam kadar tertentu.
Selain rambut kasar di wajah atau tubuh, PMOS dapat berkaitan dengan siklus menstruasi yang jarang atau tidak teratur dan tanda lain seperti jerawat atau penipisan rambut kepala. Namun, rambut dagu saja tidak cukup untuk menyimpulkan seseorang mengalami PCOS. Dokter perlu menilai beberapa ciri dan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain sebelum diagnosis ditegakkan.
4. Kondisi hormon lain
Lebih jarang, hirsutisme dapat berkaitan dengan kondisi yang memengaruhi kelenjar adrenal atau hormon lain, seperti hiperplasia adrenal kongenital nonklasik, sindrom Cushing, atau akromegali.
Untuk mengenali kondisi ini, dokter akan mempertimbangkan pola pertumbuhan rambut dan gejala lain.
5. Obat atau paparan hormon tertentu
Beberapa obat dapat memicu pertumbuhan rambut berlebih. Obat yang mengandung atau memengaruhi androgen, misalnya steroid anabolik, dapat berkaitan dengan hirsutisme.
Sementara itu, minoksidil, fenitoin, dan kortikosteroid termasuk contoh obat yang dapat menyebabkan hipertrikosis, yaitu rambut berlebih yang tidak selalu mengikuti pola khas hirsutisme.
Jika perubahan rambut mulai muncul setelah menggunakan obat atau suplemen, catat nama dan waktu pemakaiannya, lalu bahas dengan dokter. Jangan menghentikan obat resep tanpa berkonsultasi dengan dokter yang meresepkannya.
6. Tumor penghasil androgen

ilustrasi konsultasi dengan dokter kulit (magnific.com/ kroshka__nastya) Sebagian kecil kasus pertumbuhan rambut berlebih pada perempuan dapat disebabkan oleh tumor di ovarium atau kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon androgen. Namun, kondisi ini jarang menjadi penyebab tumbuhnya beberapa helai rambut di dagu.
Meski begitu, rambut yang tumbuh mendadak dan makin banyak dalam waktu singkat perlu diperiksakan ke dokter, terutama jika disertai gejala lain seperti suara menjadi lebih berat, rambut di kepala menipis, menstruasi berhenti, atau perubahan fisik lainnya.
Kapan perlu berkonsultasi dengan dokter?
Sebaiknya konsultasikan ke dokter jika rambut kasar tumbuh semakin banyak atau muncul di beberapa area tubuh, terutama apabila disertai menstruasi tidak teratur, jerawat yang makin parah, rambut kepala menipis, atau perubahan suara.
Dokter dapat menilai pola pertumbuhan rambut, riwayat menstruasi, obat yang digunakan, serta menentukan apakah pemeriksaan hormon diperlukan.
Sebaliknya, pada perempuan yang menstruasinya teratur dan hanya memiliki sedikit rambut di area tertentu tanpa tanda hirsutisme yang jelas, pemeriksaan hormon umumnya tidak perlu dilakukan secara rutin. Keputusan untuk menjalani pemeriksaan tetap disesuaikan dengan gejala dan kondisi masing-masing orang.














![[QUIZ] Pilih Ending atau Serial Favoritmu, Kami Tebak Kondisi Mentalmu](https://image.idntimes.com/post/20260715/upload_1f4fad55d736c0857d28717d4f5ad568_9f044a0b-3a74-43ca-bf9f-4bb408840b9c.png)








