Comscore Tracker

5 Dampak Polusi Udara pada Kesehatan, Bisa Picu Kelahiran Prematur

Pastikan kamu tetap mengenakan masker di mana pun, ya!

Belakangan, masalah polusi udara tengah ramai diperbincangkan. Ini karena kualitas udara di Jakarta tercatat menempati peringkat paling buruk di dunia. Akibatnya, banyak orang yang merasa khawatir akannya. Terlebih kini berbagai sektor mulai memberlakukan work from office (WFO) sehingga mau tidak mau, banyak orang harus terpapar udara di luar. 

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa 9 dari 10 orang menghirup udara yang tercemar, baik di luar maupun dalam ruangan. Selain itu, WHO juga menjelaskan bahwa polusi udara menjadi penyebab 7 juta kematian setiap tahunnya karena polusi udara di luar maupun dalam ruangan. Tentu saja, adanya polusi udara memberi dampak negatif pada kesehatan.

Pertanyaannya, apa saja dampak udara yang tercemar bagi kesehatan? Berikut penjelasannya!

1. Penyakit kardiovaskular

5 Dampak Polusi Udara pada Kesehatan, Bisa Picu Kelahiran Prematurilustrasi jantung (unsplash.com/Ali Hajiluyi)

Particulate matter (PM) contohnya PM 2.5 merupakan partikel berukuran sangat halus yang terdapat pada udara tercemar. Saking halusnya, partikel tersebut dapat masuk hingga ke paru-paru bahkan dapat mengikuti aliran darah. Partikel mikroskopik tersebut dapat merusak paru-paru, otak, dan jantung.

National Institute of Environmental Health Sciences menjelaskan bahwa partikel halus tersebut dapat mengganggu fungsi pembuluh darah dan menyebabkan pengapuran pembuluh darah arteri. Ini mengakibatkan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular.

WHO menjelaskan bahwa dampak kesehatan polusi udara merupakan hal yang serius. Sekitar sepertiga kematian stroke, kanker paru, dan penyakit jantung disebabkan oleh polusi udara.

2. Asma

5 Dampak Polusi Udara pada Kesehatan, Bisa Picu Kelahiran Prematurilustrasi nyeri dada (unsplash.com/Giulia Bertelli)

PM 2.5 yang berukuran sangat kecil dapat masuk hingga ke saluran pernapasan dan mengendap di paru-paru. Kondisi tersebut dapat menyebabkan masalah pada pernapasan. WHO juga menjelaskan bahwa ozon menjadi faktor utama penyebab asma dan memperburuk asma.

Selain ozon, nitrogen dioksida dan sulfur dioksida juga dapat menyebabkan asma, peradangan paru, dan mengurangi fungsi paru. Adanya nitrogen dioksida tersebut dapat memicu keluhan pernapasan seperti batuk, mengi, kesulitan bernapas, bahkan dapat meningkatkan kunjungan ke unit gawat darurat di rumah sakit. Menambahkan keterangan National Institute of Environmental Health Sciences, PM dan nitrogen oksida berhubungan dengan penyakit bronkitis kronis.

Baca Juga: Studi: Paparan Polusi Udara Tingkatkan Risiko COVID-19 Parah

3. Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)

5 Dampak Polusi Udara pada Kesehatan, Bisa Picu Kelahiran Prematurilustrasi paru-paru (unsplash.com/Robina Weermeijer)

Adanya paparan partikel polutan dalam jangka panjang dapat menyebabkan masalah pernapasan termasuk penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK. Medical News Today menjelaskan bahwa PPOK merupakan kelompok penyakit yang menyebabkan masalah kesulitan bernapas, misalnya emfisema dan bronkitis kronis.

Penyakit tersebut terjadi karena adanya penyumbatan pada saluran pernapasan sehingga menyebabkan seseorang menjadi kesulitan bernapas. WebMD menerangkan penyumbatan terjadi disebabkan paparan gas, partikel, dan asap yang ikut terhirup dalam jangka panjang. Selain itu, studi menunjukkan bahwa PPOK lebih sering terjadi pada wilayah dengan polusi udara yang tinggi.

Selain dapat menyebabkan PPOK, American Lung Association menjelaskan adanya polusi udara juga semakin memperparah kondisi pengidap PPOK dan mempersulit mereka bernapas. Kondisi yang semakin parah tersebut dapat menyebabkan rawat inap di rumah sakit hingga bahkan kematian.

4. Kanker paru

5 Dampak Polusi Udara pada Kesehatan, Bisa Picu Kelahiran Prematurilustrasi hasil rontgen paru-paru (pexels.com/Anna Shvets)

WHO menjelaskan bahwa PM 2.5 dapat masuk menembus sawar paru-paru dan mencapai  sistem peredaran darah. Ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan penyakit pernapasan termasuk kanker paru-paru. Satu meta analisis berjudul "Systematic review and meta-analysis of recent high-quality studies on exposure to particulate matter and risk of lung cancer" yang dipublikasi oleh Environmental Research menyimpulkan adanya hubungan antara paparan PM 2.5 atau PM 10 dengan risiko kanker paru.

Tidak hanya kanker paru saja, polusi udara juga meningkatkan risiko terjadinya kanker gastrointestinal. Pada tinjauan berjudul Exposure to "Outdoor Particulate Matter Air Pollution and Risk of Gastrointestinal Cancers in Adults" yang dipublikasi oleh Environmental Health Perspectives, menyimpulkan adanya hubungan antara PM 2.5 dengan kanker gastrointestinal, terutama kanker hati dan kanker kolorektal.

5. Kelahiran prematur

5 Dampak Polusi Udara pada Kesehatan, Bisa Picu Kelahiran Prematurilustrasi sakit (pexels.com/RODNAE Productions)

Dilansir American Lung Association, paparan polusi udara jangka panjang juga berisiko menyebabkan masalah pada wanita hamil karena dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah. Selain itu, polusi udara juga semakin meningkatkan mortalitas pada janin dan bayi.

Mengutip penjelasan WebMD, paparan polusi udara berkaitan dengan kelahiran prematur karena adanya polusi udara semakin meningkatkan kadar bahan beracun yang ada di darah. Adanya bahan beracun di darah tersebut dapat menekan sistem imun tubuh wanita hamil. Kondisi tersebut dapat melemahkan plasenta dan menyebabkan kelahiran dini.

Polusi udara memiliki berbagai dampak negatif pada kesehatan. Maka dari itu, sebaiknya tetap gunakan masker untuk meminimalkan dampak buruknya. 

Baca Juga: Gara-Gara Polusi Udara, Usia Hidup Penduduk Jakarta Berkurang 4 Tahun

Dewi Purwati Photo Verified Writer Dewi Purwati

Health enthusiast

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Izza Namira
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya