Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jenis Olahraga yang Aman untuk Pasien Penyakit Autoimun
ilustrasi pasien penyakit autoimun mengikuti kelas pilates (pexels.com/Lê Đức)
  • Olahraga low-impact seperti berjalan, berenang, yoga, dan pilates direkomendasikan bagi pasien autoimun karena aman, minim risiko cedera, serta membantu menjaga kebugaran tanpa memicu flare.

  • Aktivitas fisik teratur dapat menekan peradangan melalui pelepasan myokines yang mengaktifkan jalur antiinflamasi dan menyeimbangkan sistem imun pada orang dengan penyakit autoimun.

  • Jenis olahraga harus disesuaikan dengan kondisi dan respons tubuh pasien; pemantauan profesional penting agar latihan tetap aman, efektif, serta mendukung kualitas hidup pasien autoimun.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Berolahraga menjadi kunci untuk menjaga tubuh tetap bugar. Namun, bagi orang yang hidup dengan penyakit autoimun, aktivitas fisik tidak bisa dilakukan sembarangan. Sistem imun yang menyerang tubuh sendiri membuat kondisi fisik lebih sensitif, sehingga pemilihan jenis dan intensitas olahraga perlu diperhatikan dengan cermat.

Di sisi lain, olahraga justru bisa memberikan banyak manfaat jika dilakukan dengan tepat. Aktivitas fisik yang sesuai bisa membantu mengurangi peradangan, meningkatkan energi, serta menjaga kesehatan sendi dan otot yang sering terdampak pada orang dengan penyakit autoimun.

Olahraga seperti apa yang aman dan dianjurkan bagi pasien autoimun? Yuk, pahami!

1. Olahraga low-impact lebih ramah buat tubuh

Bagi orang dengan kondisi autoimun, khususnya yang baru ingin memulai olahraga, olahraga dengan intensitas ringan hingga sedang atau low-impact sangat dianjurkan. Jenis aktivitas ini membantu menjaga kesehatan jantung dan meningkatkan energi tanpa memberikan tekanan berlebih pada sendi maupun jaringan tubuh lainnya yang sensitif.

Olahraga low-impact juga cenderung lebih aman karena minim risiko cedera dan tidak memicu peradangan yang bisa memperburuk gejala.

Beberapa pilihan yang bisa dicoba antara lain berjalan kaki, berenang, bersepeda, hingga latihan seperti yoga dan pilates.

Selain itu, penggunaan alat olahraga seperti elliptical trainer atau vertical climber juga bisa menjadi alternatif untuk tetap aktif tanpa membebani tubuh secara berlebihan.

Latihan penguatan otot juga diperlukan dan bermanfaat bagi pasien autoimun untuk membangun massa otot dan mengurangi tingkat kelelahan. Ini aman dilakukan selama intensitas dan peningkatan volume dikontrol dalam batas ringan sampai sedang, sehingga tidak memicu flare (kambuhnya atau memburuknya gejala penyakit autoimun secara tiba‑tiba atau sementara).

Teknik latihan penguatan otot juga perlu dilakukan dengan benar. Jadi, untuk pasien penyakit autoimun yang baru pertama kali latihan penguatan, disarankan latihannya dipantau oleh dokter yang merawat, fisioterapis, spesialis olahraga, atau pelatih kebugaran tersertifikat.

Penelitian acak terkontrol menunjukkan pasien penyakit autoimun yang sudah rutin berolahraga dan kondisinya terkontrol dapat melakukan latihan interval intensitas tinggi; intervensi ini aman dan terbukti mengurangi kelelahan serta meningkatkan kualitas hidup.

Dengan memilih jenis olahraga yang tepat, individu dengan hidup dengan kondisi autoimun tetap bisa menjaga kebugaran tanpa mengorbankan kondisi kesehatannya.

2. Olahraga membantu menekan peradangan dalam tubuh

Selain menjaga kebugaran, aktivitas fisik juga memiliki efek positif langsung terhadap sistem imun pasien penyakit autoimun. Olahraga secara teratur diketahui dapat mengaktifkan berbagai mekanisme tubuh yang membantu mengurangi peradangan yang merupakan salah satu faktor utama dalam penyakit kronis dan autoimun.

Saat tubuh bergerak, otot akan berkontraksi dan melepaskan senyawa kimia yang disebut myokines. Senyawa ini berperan penting dalam mengaktifkan jalur anti-inflamasi, sekaligus menekan sinyal peradangan dalam tubuh. 

Aktivitas fisik akan memengaruhi sistem kekebalan bawaan dan adaptif melalui berbagai jalur biologis. Hal ini menunjukkan bahwa olahraga bekerja pada berbagai sistem kekebalan tubuh secara menyeluruh. Dengan kata lain, olahraga tidak hanya membantu menjaga kondisi fisik, tetapi juga dapat mendukung keseimbangan sistem imun sehingga gejala peradangan bisa lebih terkontrol.

3. Jenis olahraga harus disesuaikan dengan kondisi 

ilustrasi bersepeda (pexels.com/Willians Huerta)

Tidak semua jenis olahraga cocok untuk setiap pasien penyakit autoimun. Para ahli menekankan bahwa aktivitas fisik sebaiknya disesuaikan dengan kondisi penyakit, preferensi pribadi, serta gejala yang dialami. Artinya, tidak ada satu jenis olahraga yang paling benar untuk semua orang.

Latihan terbaik adalah yang dirasa nyaman atau disukai pasien, sehingga penting bagi tenaga profesional seperti fisioterapis atau terapis untuk menyesuaikan program olahraga berdasarkan kebutuhan, tujuan, dan respons tubuh pasien. Pendekatan ini membantu memastikan aktivitas yang dilakukan tetap aman dan efektif.

Untuk memantau efek latihan, gunakan alat sederhana seperti Fatigue Assessment Scale (FAS). Jika skor FAS stabil atau menurun, intensitas latihan dianggap ditoleransi dengan baik. Sementara itu, jika skor FAS meningkat secara bermakna, itu bisa berarti latihan terlalu berat, pemulihan kurang, atau tanda awal kambuh (flare).

Selain itu, pasien penyakit autoimun umumnya mengalami nyeri dan kekakuan sendi, sehingga lebih cocok melakukan olahraga yang meningkatkan mobilitas tanpa memberi tekanan berlebih. Latihan yang teratur dan terstruktur juga terbukti membantu memperbaiki masalah kardiovaskular serta mengurangi peradangan pada berbagai kondisi seperti artritis reumatoid, multiple sclerosis, lupus, dan diabetes tipe 1. 

Olahraga tetap bisa menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan pasien penyakit autoimun, asalkan dilakukan dengan bijak. Kunci utamanya adalah memilih jenis aktivitas yang sesuai, mendengarkan sinyal tubuh, dan tidak memaksakan diri. Dengan pendekatan yang tepat, olahraga bisa membantu mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup.

Referensi

Beibei Luo et al., “The Anti-inflammatory Effects of Exercise on Autoimmune Diseases: A 20-year Systematic Review,” Journal of Sport and Health Science/Journal of Sport and Health Science 13, no. 3 (February 9, 2024): 353–67, https://doi.org/10.1016/j.jshs.2024.02.002.

Md Najmul Hossain et al., “The Impact of Exercise on Depression: How Moving Makes Your Brain and Body Feel Better,” Physical Activity and Nutrition 28, no. 2 (June 30, 2024): 43–51, https://doi.org/10.20463/pan.2024.0015.

Global Autoimmune Institute. “Exercise and Autoimmune Disease: Evidence-Based, Low-Impact Approaches”. Diakses pada April 2026.

Annelie Bilberg et al., “High-intensity Exercise Improves Multidimensional Fatigue and Health-related Quality of Life in Rheumatoid Arthritis: A Randomized Controlled Study,” Arthritis Research & Therapy 27, no. 1 (September 18, 2025): 176, https://doi.org/10.1186/s13075-025-03643-3.

Editorial Team