ilustrasi joging (pexels.com/Ketut Subiyanto)
Yang paling penting bukan seberapa berat latihan, tetapi seberapa konsisten kamu melakukannya.
Membangun kembali kebiasaan olahraga, misalnya tiga kali seminggu, lebih berdampak jangka panjang dibanding latihan berat tapi tidak berkelanjutan.
Kembali berolahraga setelah Lebaran melibatkan kesiapan tubuh. Memberi jeda singkat, memulai dari intensitas ringan, dan mendengarkan sinyal tubuh lebih disarankan daripada memaksakan diri. Tubuh bekerja dengan prinsip adaptasi, bukan paksaan. Dengan pendekatan yang bertahap dan konsisten, performa akan kembali, bahkan bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Referensi
American College of Sports Medicine. “Exercise Guidelines.” Diakses Maret 2026.
American Heart Association. “Target Heart Rates.” Diakses Maret 2026.
Tim J Gabbett, “The Training—injury Prevention Paradox: Should Athletes Be Training Smarterandharder?,” British Journal of Sports Medicine 50, no. 5 (January 12, 2016): 273–80, https://doi.org/10.1136/bjsports-2015-095788.
Iñigo Mujika and Sabino Padilla, “Detraining: Loss of Training-Induced Physiological and Performance Adaptations. Part I,” Sports Medicine 30, no. 2 (January 1, 2000): 79–87, https://doi.org/10.2165/00007256-200030020-00002.
D. Travis Thomas, Kelly Anne Erdman, and Louise M. Burke, “Position of the Academy of Nutrition and Dietetics, Dietitians of Canada, and the American College of Sports Medicine: Nutrition and Athletic Performance,” Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics 116, no. 3 (February 23, 2016): 501–28, https://doi.org/10.1016/j.jand.2015.12.006.
World Health Organization. “Physical Activity Guidelines.” Diakses Maret 2026.