Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Habis Lari Malah Susah Tidur?

Kenapa Habis Lari Malah Susah Tidur?
ilustrasi lari pada malam hari (freepik.com/freepik)
Intinya Sih
  • Lari malam bisa bikin susah tidur karena tubuh masih dalam kondisi aktif, dengan denyut jantung, suhu, dan hormon stres yang belum turun sepenuhnya.
  • Intensitas latihan berpengaruh besar; lari ringan cenderung bantu tidur, sedangkan interval atau tempo run justru memperpanjang waktu tubuh untuk tenang.
  • Kafein, stimulasi mental setelah latihan, dan kurangnya recovery dapat memperburuk gangguan tidur meski tubuh terasa lelah secara fisik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Capek, kaki pegal, energi seperti habis terkuras. Secara logika, kondisi seperti itu seharusnya bikin kamu lebih mudah tidur. Namun, pada sebagian orang, yang terjadi justru kebalikannya.

Setelah lari, terutama pada malam hari, mata terasa segar, jantung masih berdebar, otak seperti tetap aktif, dan tubuh sulit "shutdown”. Ada yang merasa mengantuk tetapi tidak bisa tertidur. Ada pula yang tertidur cepat, tetapi kualitas tidurnya terasa dangkal dan mudah terbangun. Situasi ini sering membingungkan karena olahraga selama ini dikenal bermanfaat untuk tidur.

Kenyataannya memang begitu. Banyak penelitian menunjukkan aktivitas fisik rutin berkaitan dengan kualitas tidur yang lebih baik, durasi tidur lebih panjang, dan penurunan risiko insomnia. Namun, efeknya tidak selalu sama pada setiap situasi.

Dalam kondisi tertentu, terutama jika intensitas latihan tinggi atau waktunya terlalu dekat dengan jam tidur, lari justru dapat membuat tubuh berada dalam kondisi terlalu aktif untuk langsung beristirahat.

Table of Content

1. Tubuh tidak langsung masuk mode istirahat

1. Tubuh tidak langsung masuk mode istirahat

Salah satu alasan terbesar adalah tubuh sebenarnya belum benar-benar selesai “berlari”, meski kamu sudah tak lagi lari.

Saat berlari, tubuh masuk ke kondisi fisiologis yang disebut heightened arousal state, yaitu keadaan ketika:

  • Denyut jantung meningkat.
  • Suhu tubuh naik.
  • Hormon stres meningkat.
  • Sistem saraf simpatik menjadi dominan.

Ini adalah sistem yang membantu tubuh tetap waspada dan siap bergerak.

Masalahnya, tidur membutuhkan kondisi kebalikan, yakni tubuh perlu masuk ke mode relaksasi yang didominasi sistem saraf parasimpatik. Kalau transisi ini belum terjadi, kamu bisa merasa badan capek namun otak tetap on.

Penelitian menunjukkan bahwa olahraga intensitas tinggi yang dilakukan terlalu dekat dengan waktu tidur dapat memperlambat onset tidur dan mengganggu efisiensi tidur pada sebagian orang.

2. Suhu tubuh yang masih tinggi bisa menghambat kantuk

Tubuh manusia punya ritme biologis yang sangat berkaitan dengan suhu tubuh.

Dekat waktu tidur, suhu inti tubuh normalnya mulai turun. Penurunan ini membantu otak menerima sinyal bahwa waktunya beristirahat. Masalahnya, lari—terutama interval, tempo run, atau long run—dapat meningkatkan suhu inti tubuh cukup signifikan. Kalau selesai lari terlalu dekat dengan jam tidur, tubuh mungkin belum sempat "mendinginkan diri" sepenuhnya.

Suhu tubuh yang masih tinggi dapat menghambat proses alami tubuh untuk tertidur. Ini salah satu alasan kenapa sebagian orang merasa mengantuk namun badan terasa masih "panas" dan aktif.

3. Adrenalin dan kortisol belum turun

Seorang pria berlari di malam hari mengenakan jaket olahraga dan celana pendek, dengan napas terlihat di udara dingin.
ilustrasi lari malam (pexels.com/dusanpetkovic)

Bukan cuma aktivitas otot, lari juga mengaktifkan respons hormonal. Selama olahraga, tubuh meningkatkan pelepasan adrenalin, norepinefrin, dan kortisol.

Hormon-hormon ini membantu meningkatkan energi, mempertahankan fokus, dan mendukung performa fisik. Namun, jika kadarnya masih tinggi mendekati waktu tidur, efeknya bisa membuat tubuh terasa seperti siaga.

Pada beberapa orang, terutama yang sensitif terhadap stimulasi fisiologis, efek ini dapat muncul sebagai:

  • Jantung masih berdebar.
  • Sulit rileks.
  • Overthinking.
  • Merasa terlalu segar setelah olahraga.

Penelitian menunjukkan olahraga malam intensitas tinggi dapat meningkatkan aktivasi fisiologis hingga beberapa jam setelah latihan selesai.

4. Intensitas lari sangat berpengaruh

Tidak semua jenis lari punya efek yang sama terhadap tidur.

Easy run biasanya lebih ramah untuk tidur. Lari santai atau intensitas ringan–sedang sering membantu menurunkan stres, meningkatkan relaksasi, dan memperbaiki kualitas tidur.

Banyak penelitian menunjukkan olahraga aerobik moderat justru berkaitan dengan tidur yang lebih nyenyak.

Di sisi lain, lari interval dan tempo lebih berpotensi mengganggu tidur.

Latihan seperti sprint, HIIT, lari interval, lari tempo, atau long run berat lebih mungkin membuat sistem saraf tetap aktif lebih lama.

Tubuh membutuhkan waktu lebih panjang untuk menurunkan denyut jantung, menstabilkan hormon, dan mengembalikan suhu tubuh. Karena itu, efek “wired but tired” (berenergi tapi lelah) lebih sering muncul setelah latihan intens.

5. Peran dari faktor mental

Ini sering tidak disadari pelari. Setelah lari, terutama setelah latihan yang hasilnya baik atau simulasi race, otak bisa tetap aktif karena beberapa hal, seperti:

  • Terlalu excited.
  • Menganalisis performa.
  • Memikirkan pace.
  • Mengecek data smartwatch.
  • Memutar ulang latihan di kepala.

Aktivasi mental seperti ini dapat mempertahankan kondisi kewaspadaan. Pada sebagian orang, olahraga malam justru meningkatkan energi psikologis dan mood sehingga otak lebih sulit masuk mode tidur.

6. Kafein pre-workout bisa memperburuk

Seorang pria berlari di malam hari di area luar ruangan dengan pencahayaan lampu terang, mengenakan jaket hitam dan kaus biru.
ilustrasi lari pada malam hari (freepik.com/freepik)

Banyak pelari mengonsumsi kopi, energy gel berkafein, pre-workout, atau minuman energi. Masalahnya, efek kafein bisa bertahan berjam-jam.

Waktu paruh kafein rata-rata sekitar 5 jam, tetapi bisa lebih lama tergantung metabolisme individu. Artinya, kopi sebelum lari sore atau malam masih dapat memengaruhi tidur di malam hari.

Kombinasi latihan intens, hormon stres, dan kafein membuat tubuh makin sulit rileks.

7. Kurang recovery bisa membuat tidur justru memburuk

Tubuh yang terlalu lelah tidak selalu otomatis tidur lebih baik. Kondisi overreaching atau recovery yang kurang justru dapat meningkatkan:

  • Denyut jantung istirahat.
  • Stres fisiologis.
  • Gangguan tidur.
  • Rasa gelisah pada malam hari.

Beberapa atlet bahkan mengalami insomnia sementara saat volume latihan meningkat terlalu cepat.

Ini salah satu tanda bahwa tubuh belum pulih optimal.

Sebagai catatan, overreaching adalah penurunan performa sementara akibat beban latihan yang melebihi kapasitas pemulihan jangka pendek; biasanya pulih setelah istirahat beberapa hari–minggu, tetapi jika dibiarkan bisa berkembang jadi overtraining.

8. Jadi, apakah lari malam buruk untuk tidur?

Jawabannya, tidak selalu.

Olahraga malam tidak otomatis merusak tidur pada semua orang. Respons setiap individu berbeda. Sebagian orang tetap bisa tidur nyenyak setelah lari malam, terutama jika intensitasnya ringan, ada jeda cukup sebelum tidur, dan tubuh sudah terbiasa.

Namun, pada beberapa orang lainnya, terutama setelah latihan intens, tidur bisa terganggu bila jaraknya terlalu dekat dengan waktu tidur.

Karena itu, jika kamu mau lari pada malam hari, pertimbangkan beberapa hal ini:

  • Jenis lari.
  • Waktu lari.
  • Intensitas.
  • Pemulihan.
  • Respons tubuh.

9. Cara mengurangi risiko susah tidur setelah lari

Seorang pria mengenakan pakaian olahraga melakukan peregangan di jalan kota pada malam hari sebelum berlari.
ilustrasi lari pada malam hari (freepik.com/freepik)

Berikut ini tips mengurangi risiko susah tidur setelah lari:

  • Beri jeda sebelum tidur. Idealnya beri waktu beberapa jam antara latihan intens dan waktu tidur.
  • Lakukan pendinginan yang benar. Jangan langsung berhenti total setelah lari. Pendinginan membantu transisi sistem saraf lebih gradual.
  • Hindari asupan kafein terlalu malam. Terutama sebelum interval atau tempo run malam.
  • Turunkan stimulus setelah latihan. Hindari langsung scroll data latihan berlebihan atau aktivitas yang terlalu merangsang.
  • Perhatikan pemulihan. Kalau insomnia mulai sering muncul bersamaan dengan kelelahan berlebihan, bisa jadi tubuh sedang terlalu stres.

Lari sering membantu kualitas tidur, tetapi dalam kondisi tertentu justru bisa membuat kamu sulit tidur. Penyebabnya karena sistem saraf, hormon, denyut jantung, dan suhu tubuh masih berada dalam kondisi aktif setelah latihan, terutama jika intensitasnya tinggi atau dilakukan terlalu dekat dengan jam tidur. Itulah kenapa kamu bisa merasa sangat lelah secara fisik, tetapi sulit untuk terlelap.

Referensi

American Academy of Sleep Medicine. “Exercise and Sleep.” Diakses Mei 2026.

Food and Drug Administration. “Spilling the Beans: How Much Caffeine Is Too Much?” Diakses Mei 2026.

Joy Perrier et al., “Effects of Acute Bouts of Evening Resistance or Endurance Exercises on Sleep EEG and Salivary Cortisol,” Frontiers in Physiology 15 (January 23, 2024): 1313545, https://doi.org/10.3389/fphys.2024.1313545.

Josh Leota et al., “Dose-response Relationship Between Evening Exercise and Sleep,” Nature Communications 16, no. 1 (April 15, 2025): 3297, https://doi.org/10.1038/s41467-025-58271-x.

Sleep Foundation. “Exercise and Sleep.” Diakses Mei 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Related Articles

See More