Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Keringat Tidak Berbau, tetapi Bisa Menyebabkan Bau Badan?

5 min read
Kenapa Keringat Tidak Berbau, tetapi Bisa Menyebabkan Bau Badan?
ilustrasi berkeringat (pexels.com/Ketut Subiyanto)
  • Keringat ekrin sebagian besar terdiri dari air sehingga umumnya hampir tidak berbau.

  • Bau badan muncul ketika bakteri kulit menguraikan komponen tertentu dalam sekresi tubuh.

  • Perbedaan bakteri kulit, hormon, genetik, kebiasaan, dan kondisi tubuh dapat memengaruhi kuatnya bau badan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Berkeringat merupakan salah satu cara alami tubuh untuk mengatur suhu. Saat cuaca panas, berolahraga, sedang stres, atau mengalami demam, tubuh akan memproduksi keringat untuk membantu mendinginkan diri. Namun, keringat sering kali dikaitkan dengan bau yang tidak sedap.

Padahal, keringat yang baru keluar dari tubuh sebenarnya hampir tidak memiliki bau. Lantas, kenapa tubuh bisa berbau setelah berkeringat? Ternyata bau badan muncul akibat interaksi antara komponen dalam keringat dan mikroorganisme yang hidup secara alami di permukaan kulit.

  1. 1. Keringat sebagian besar terdiri dari air

    ilustrasi berkeringat
    ilustrasi berkeringat (unsplash.com/Hans Reniers)

    Sebagian besar keringat yang terlihat di permukaan kulit dihasilkan oleh kelenjar ekrin. Kelenjar ini tersebar hampir di seluruh tubuh dan menghasilkan cairan bening yang sebagian besar terdiri dari air. Selain air, keringat juga mengandung sejumlah kecil garam, asam laktat, urea, serta berbagai zat lainnya. Fungsi utamanya adalah membantu mendinginkan tubuh. Ketika keringat mencapai permukaan kulit lalu menguap, panas dari tubuh ikut terbawa sehingga suhu tubuh dapat tetap terjaga. Karena kandungan protein dan lemak dalam keringat ekrin relatif sedikit, cairan ini biasanya tidak menyediakan banyak bahan yang dapat diuraikan oleh bakteri menjadi senyawa berbau. Itu sebabnya, keringat yang muncul di dahi, lengan, atau punggung mungkin terasa asin, tetapi biasanya tidak memiliki aroma yang kuat.

  2. 2. Bakteri kulit berperan dalam munculnya bau badan

    ilustrasi bau badan
    ilustrasi bau badan (magnific.com/benzoix)

    Mikroorganisme di kulit dapat menggunakan berbagai zat yang terdapat dalam sekresi tubuh sebagai sumber nutrisi. Ketika zat-zat tersebut diuraikan, proses metabolisme mikroorganisme dapat menghasilkan senyawa yang memiliki aroma khas. Hal inilah yang membuat keringat yang awalnya hampir tidak berbau dapat berkontribusi terhadap munculnya bau badan setelah berada di permukaan kulit. 

    Jadi, bau badan sebenarnya bukan berasal dari keringat saja. Bau tersebut muncul ketika komponen dalam sekresi tubuh diuraikan oleh mikroorganisme yang hidup di permukaan kulit. Proses ini menghasilkan berbagai senyawa beraroma yang kemudian kita kenali sebagai bau badan.

  3. 3. Kelenjar apokrin lebih berkaitan dengan bau badan

    ilustrasi mengelap keringat
    ilustrasi mengelap keringat (pexels.com/Andres Ayrton)

    Selain kelenjar ekrin, tubuh juga memiliki kelenjar apokrin. Kelenjar ini terutama terdapat di area tertentu, seperti ketiak dan selangkangan. Berbeda dari kelenjar ekrin yang menghasilkan keringat encer, kelenjar apokrin menghasilkan cairan yang lebih kental dan mengandung berbagai komponen, seperti protein, lipid, karbohidrat, serta senyawa yang berkaitan dengan hormon steroid. Cairan dari kelenjar apokrin sebenarnya juga belum memiliki bau ketika pertama kali dikeluarkan.

    Bau mulai muncul setelah komponen tersebut diuraikan oleh bakteri yang terdapat di permukaan kulit. Dalam prosesnya, bakteri mengubah berbagai senyawa yang awalnya tidak berbau menjadi molekul yang lebih kecil dan mudah menguap. Beberapa di antaranya berupa asam lemak dan senyawa yang mengandung sulfur. Molekul-molekul inilah yang kemudian masuk ke udara dan ditangkap oleh indra penciuman sebagai bau badan.

    Kelenjar apokrin mulai lebih aktif setelah seseorang memasuki masa pubertas. Kelenjar ini juga lebih banyak merespons rangsangan emosional dan fisik dibandingkan sekadar panas. Itu sebabnya, seseorang bisa mengalami bau ketiak saat sedang gugup atau stres meskipun cuaca sebenarnya tidak terlalu panas.

  4. 4. Kenapa bau badan setiap orang berbeda?

    ilustrasi mencium bau tidak sedap
    ilustrasi mencium bau tidak sedap (freepik.com/karlyukav)

    Bau badan tidak selalu sama pada setiap orang. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari jumlah keringat, komposisi mikroorganisme di kulit, hormon, genetik, hingga kebiasaan sehari-hari. Ada orang yang secara alami menghasilkan lebih banyak sekresi dari kelenjar apokrin. Ada pula yang memiliki jenis bakteri kulit tertentu yang menghasilkan senyawa dengan aroma lebih kuat ketika menguraikan sekresi tubuh.

    Rambut di area tertentu juga dapat memengaruhi bau karena bisa menahan keringat, minyak, dan bakteri lebih dekat dengan permukaan kulit. Pakaian yang terlalu ketat atau tidak memiliki sirkulasi udara yang baik juga dapat membuat area tubuh menjadi lebih hangat dan lembap sehingga mikroorganisme lebih mudah berkembang. Selain itu, makanan tertentu, obat-obatan, stres, dan perubahan hormon juga dapat memengaruhi aroma tubuh seseorang.

    Dengan demikian, memiliki bau badan bukan berarti seseorang memiliki kebersihan yang buruk. Mandi dan mencuci area tubuh yang berkeringat memang dapat mengurangi jumlah keringat, bakteri, serta zat penyebab bau. Namun, mikroorganisme kulit akan secara alami kembali setelahnya.

  5. 5. Cara mengurangi bau badan

    ilustrasi berkeringat
    ilustrasi berkeringat (pexels.com/Ketut Subiyanto)

    Meski keringat merupakan bagian normal dari fungsi tubuh, bau badan tetap bisa dikurangi dengan beberapa kebiasaan sederhana. Pertama, bersihkan area yang mudah berkeringat, seperti ketiak, selangkangan, dan kaki, secara rutin. Setelah mandi, pastikan area tersebut dikeringkan dengan baik karena kondisi lembap dapat mendukung pertumbuhan mikroorganisme.

    Gunakan juga pakaian yang bersih dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Setelah berolahraga atau berkeringat cukup banyak, sebaiknya segera mengganti pakaian. Deodoran dapat digunakan untuk membantu mengurangi atau menutupi bau badan, sedangkan antiperspiran bekerja dengan mengurangi jumlah keringat yang mencapai permukaan kulit. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda sehingga penggunaannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

    Jika ingin mengurangi bau kaki, pastikan kaus kaki dan sepatu selalu dalam kondisi kering. Pakaian olahraga juga sebaiknya segera dicuci setelah digunakan agar keringat dan bakteri tidak menumpuk. Hindari membiarkan pakaian olahraga yang masih lembap terlalu lama di dalam tas.

    Jadi, keringat sebenarnya tidak identik dengan bau badan karena aroma tersebut muncul ketika mikroorganisme di kulit menguraikan komponen tertentu dalam sekresi tubuh. Menjaga kebersihan tubuh, menggunakan pakaian yang bersih dan kering, serta mengelola keringat berlebih dapat membantu mengurangi bau badan. Jika aromanya tiba-tiba berubah atau menjadi sangat kuat tanpa penyebab yang jelas, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya.

    Referensi
    “Bromhidrosis”. MSD Manual. Diakses September 2026.
    “Microbial Origins of Body Odor”. American Society for Microbiology (ASM). Diakses September 2026.
    “Sweat”. Cleveland Clinic. Diakses September 2026.
    “Sweating and Body Odor”. Mayo Clinic. Diakses September 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More