Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pakaian Lari yang Tepat Bisa Memengaruhi Performa
ilustrasi outfit lari, running outfit, pakaian lari, baju lari (pexels.com/CRISTIAN CAMILO ESTRADA)
  • Pakaian lari berperan penting menjaga suhu tubuh, mengurangi iritasi, dan meningkatkan efisiensi gerakan agar performa tetap stabil sepanjang aktivitas.
  • Material sintetis dengan kemampuan menyerap dan menguapkan keringat lebih efektif dibanding katun yang mudah lembap dan menyebabkan gesekan kulit.
  • Desain ergonomis, ventilasi baik, serta fitur reflektif meningkatkan kenyamanan, keamanan, dan adaptasi terhadap berbagai kondisi cuaca saat berlari.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini menampilkan bagaimana pemilihan pakaian lari yang tepat dapat menjadi bentuk dukungan nyata bagi tubuh, bukan sekadar soal penampilan. Dengan material yang mampu mengatur suhu, desain ergonomis, dan fitur keselamatan reflektif, pelari dapat menikmati kenyamanan dan keamanan lebih baik sehingga energi mereka tersalurkan sepenuhnya pada ritme langkah dan kenikmatan berlari itu sendiri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Lari terlihat sederhana. Cukup punya sepatu lari dan niat, lalu melangkah. Namun, realitasnya sering berbeda dari yang diharapkan. Banjir keringat, gesekan kulit, atau rasa panas yang berlebihan bisa mengubah sesi lari yang seharusnya ringan menjadi tidak nyaman.

Di sinilah pakaian lari yang kamu pakai berperan, yang merupakan bagian dari sistem yang membantu tubuh bekerja lebih efisien. Pilihan yang tepat dapat menjaga suhu tubuh, mengurangi risiko iritasi, dan membuat langkahmu tetap konsisten dari awal hingga akhir.

1. Pilih material yang menyerap dan menguapkan keringat

Material adalah fondasi utama pakaian lari. Saat berlari, tubuh menghasilkan panas dan keringat sebagai mekanisme pendinginan. Jika keringat terperangkap di kulit, proses ini terganggu.

Menurut Journal of Sports Sciences, bahan sintetis seperti polyester memiliki kemampuan moisture-wicking, yaitu menarik keringat dari kulit ke permukaan kain untuk diuapkan.¹ Ini membantu menjaga suhu tubuh tetap stabil.

Sebaliknya, katun menyerap keringat tetapi tidak menguapkannya dengan baik. Akibatnya, pakaian menjadi berat dan lembap, meningkatkan risiko gesekan dan iritasi kulit.

2. Pas, yang artinya tidak terlalu longgar maupun tidak terlalu ketat

ilustrasi outfit lari, running outfit, pakaian lari, baju lari (freepik.com/aleksandarlittlewolf)

Pakaian lari idealnya mengikuti bentuk tubuh tanpa membatasi gerakan. Fit yang terlalu longgar dapat menyebabkan gesekan berulang, sementara yang terlalu ketat bisa menghambat sirkulasi dan pergerakan.

Penelitian menunjukkan bahwa pakaian dengan fit ergonomis dapat meningkatkan kenyamanan dan efisiensi gerakan selama aktivitas fisik.

Fit yang tepat juga membantu distribusi tekanan yang lebih merata, mengurangi titik-titik gesekan yang sering menjadi penyebab lecet, terutama pada lari jarak jauh.

3. Memiliki sirkulasi udara yang baik

Selain menyerap keringat, pakaian lari harus memungkinkan udara mengalir dengan baik. Ventilasi ini penting untuk membantu proses pendinginan tubuh.

Kemampuan tubuh mengatur suhu sangat bergantung pada evaporasi keringat dan aliran udara di sekitar kulit.

Desain dengan mesh panels atau ventilasi tambahan sering ditemukan pada pakaian lari modern. Fitur ini bukan cuma estetika, tetapi berfungsi untuk meningkatkan kenyamanan termal.

4. Layering yang menyesuaikan dengan cuaca

ilustrasi outfit lari, running outfit, pakaian lari, baju lari (pexels.com/Pexels LATAM)

Tidak semua kondisi cuaca butuh pakaian yang sama. Prinsip layering (berlapis) membantu tubuh tetap nyaman dalam berbagai suhu.

Dalam kondisi dingin, lapisan pertama berfungsi menyerap keringat, lapisan kedua menjaga kehangatan, dan lapisan luar melindungi dari angin. Sebaliknya, dalam cuaca panas, pakaian ringan dan minimal lebih dianjurkan.

Sangat penting untuk menyesuaikan pakaian dengan lingkungan untuk mencegah heat stress atau hipotermia.

5. Anti-chafing untuk mencegah lecet dan iritasi

Gesekan berulang antara kulit dan pakaian bisa menyebabkan chafing, terutama di area seperti paha, ketiak, dan puting.

Kelembapan dan gesekan adalah faktor utama dalam iritasi kulit saat olahraga. Pakaian dengan jahitan minimal (seamless) dan bahan halus dapat mengurangi risiko ini. Beberapa pelari juga menggunakan pelumas khusus untuk area rawan.

6. Dukungan tambahan: bra dan kompresi

ilustrasi outfit lari, running outfit, pakaian lari, baju lari (pexels.com/CRISTIAN CAMILO ESTRADA)

Dukungan yang baik dapat meningkatkan kenyamanan dan performa selama lari.

Untuk pelari perempuan, sports bra dengan dukungan yang tepat sangat penting untuk mengurangi pergerakan berlebih dan ketidaknyamanan.

Selain itu, pakaian kompresi dapat membantu meningkatkan propriosepsi dan mengurangi kelelahan otot, meskipun efeknya bervariasi antarindividu.

7. Visibilitas dan keamanan

Berlari di pagi buta atau malam hari butuh perhatian ekstra terhadap visibilitas. Pakaian dengan elemen reflektif membantu pelari terlihat oleh kendaraan.

Visibilitas rendah merupakan faktor risiko dalam kecelakaan yang melibatkan pelari. Warna cerah dan strip reflektif bukan hanya pilihan gaya, tetapi bagian dari strategi keselamatan.

Hindari kesalahan umum ini

ilustrasi outfit lari, running outfit, pakaian lari, baju lari (pexels.com/Tirachard Kumtanom)

  • Menggunakan pakaian berbahan katun untuk lari jarak jauh.

  • Memakai pakaian baru saat race tanpa uji coba.

  • Mengabaikan cuaca dan suhu lingkungan.

  • Menggunakan pakaian terlalu ketat tanpa alasan fungsional.

Pakaian lari yang tepat dapat menjadi salah satu sistem pendukung karena membantu tubuh tetap dingin saat panas, tetap hangat saat dingin, dan tetap nyaman sepanjang langkah. Ketika pakaian sudah tepat, fokus kamu bisa kembali ke menikmati setiap kilometer yang kamu lalui.

Referensi

Havenith, George. 2002. “The Interaction between Clothing Insulation and Thermoregulation.” Exogenous Dermatology 1 (5): 221–230 (PDF).

Esra Taştan Özkan et al., “Effect of Different Garments on Thermophysiological and Psychological Comfort Properties of Athletes in a Wear Trial Test,” Scientific Reports 13, no. 1 (September 9, 2023): 14883, https://doi.org/10.1038/s41598-023-42085-2.

Isaiah Di Domenico, Samantha M. Hoffmann, and Paul K. Collins, “The Role of Sports Clothing in Thermoregulation, Comfort, and Performance During Exercise in the Heat: A Narrative Review,” Sports Medicine - Open 8, no. 1 (April 28, 2022): 58, https://doi.org/10.1186/s40798-022-00449-4.

Surya Nasrin et al., “Factors Affecting the Sweat-Drying Performance of Active Sportswear—A Review,” Textiles 3, no. 3 (August 14, 2023): 319–38, https://doi.org/10.3390/textiles3030022.

Michael N. Sawka, Samuel N. Cheuvront, and Robert W. Kenefick, “High Skin Temperature and Hypohydration Impair Aerobic Performance,” Experimental Physiology 97, no. 3 (December 6, 2011): 327–32, https://doi.org/10.1113/expphysiol.2011.061002.

American College of Sports Medicine. “Exercise and Heat.” Diakses Mei 2026.

Brian B. Adams, “Dermatologic Disorders of the Athlete,” Sports Medicine 32, no. 5 (January 1, 2002): 309–21, https://doi.org/10.2165/00007256-200232050-00003.

Deirdre E. McGhee and Julie R. Steele, “Biomechanics of Breast Support for Active Women,” Exercise and Sport Sciences Reviews 48, no. 3 (April 8, 2020): 99–109, https://doi.org/10.1249/jes.0000000000000221.

Erin Shore et al., “Pedestrian Safety Among High School Runners: A Case Series,” Sports Health a Multidisciplinary Approach 15, no. 5 (September 25, 2022): 633–37, https://doi.org/10.1177/19417381221123510.

Editorial Team