Pendekatan terbaik adalah kombinasi teknik dan kebiasaan:
Rilekskan tangan (bayangkan seperti memegang telur, tidak menggenggam kuat).
Turunkan bahu agar tidak tegang.
Fokus ayunan depan-belakang, bukan menyamping.
Latih upper body (penguatan bahu, punggung, dan lengan).
Jaga hidrasi dan elektrolit.
Latihan kesadaran tubuh (body awareness) juga membantu mengurangi ketegangan yang tidak perlu.
Tangan pegal saat lari tidak aneh, melainkan menggambarkan kerja tubuh sebagai satu kesatuan. Lengan berperan dalam menjaga ritme, stabilitas, dan efisiensi saat lari. Dengan teknik yang lebih rileks dan latihan yang seimbang, sensasi pegal ini bisa diminimalkan.
Referensi
Herman Pontzer et al., “Control and Function of Arm Swing in Human Walking and Running,” Journal of Experimental Biology 212, no. 4 (January 30, 2009): 523–34, https://doi.org/10.1242/jeb.024927.
Bosch, Frans, and Ronald Klomp. Running: Biomechanics and Exercise Physiology in Practice. Edinburgh; New York: Elsevier Churchill Livingstone, 2005.
Richard N. Hinrichs, Peter R. Cavanagh, and Keith R. Williams, “Upper Extremity Function in Running. I: Center of Mass and Propulsion Considerations,” International Journal of Sport Biomechanics 3, no. 3 (August 1, 1987): 222–41, https://doi.org/10.1123/ijsb.3.3.222.
Guillaume Y. Millet et al., “Neuromuscular Consequences of an Extreme Mountain Ultra-Marathon,” PLoS ONE 6, no. 2 (February 22, 2011): e17059, https://doi.org/10.1371/journal.pone.0017059.
Kyle R Barnes and Andrew E Kilding, “Running Economy: Measurement, Norms, and Determining Factors,” Sports Medicine - Open 1, no. 1 (March 27, 2015): 8, https://doi.org/10.1186/s40798-015-0007-y.