Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tips Supaya Konsisten Jadi Member Gym Tahun 2026
ilustrasi gym (freepik.com/fxquadro)

Intinya sih...

  • Urusan nge-gym, konsistensi lebih penting daripada intensitas sesaat untuk hasil jangka panjang.

  • Strategi psikologis seperti habit stacking dan cues terbukti membantu membangun rutinitas.

  • Dukungan sosial dan lingkungan yang mendukung dapat meningkatkan kemungkinan kamu tetap konsisten nge-gym.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Awal tahun sering jadi momen banyak orang untuk mendaftar keanggotaan gym dan memutuskan bahwa tahun ini akan rutin berolahraga. Namun, seiring minggu berlalu, tidak sedikit yang frekuensi kedatangannya berkurang, makin jarang, hingga akhirnya rugi karena bayar membership namun tidak menggunakannya. Alasannya entar karena terjebak antara kerja, urusan rumah, kurang niat, di antara alasan lainnya.

Bisa konsisten nge-gym memang bukan cuma hasil dari datang sekali atau dua kali seminggu, tetapi soal mengubah gym dari sesuatu yang dilakukan sesekali menjadi bagian alami dari hidupmu. Kadang ini tidak mudah, butuh strategi yang dibangun berdasarkan ilmu perilaku dan psikologi latihan. Salah satunya adalah dengan memahami bahwa konsistensi adalah hasil dari kebiasaan yang berkelanjutan.

Penelitian perilaku menunjukkan bahwa cara kamu menyusun kebiasaan dan merespons hambatan sehari-hari sangat menentukan apakah kamu akan terus datang ke gym atau berhenti di tengah jalan. Menggabungkan gym dengan rutinitas yang sudah kamu miliki, membuatnya menyenangkan, dan mendapatkan dukungan dari orang lain adalah beberapa strategi yang terbukti meningkatkan adherence atau keterlibatan secara konsisten.

Bisa kamu jadian panduan, berikut tips agar kamu bisa konsisten nge-gym.

1. Tentukan jadwal yang realistis dan spesifik

Menentukan “aku harus ke gym lebih sering” sering kali terlalu abstrak dan tidak cukup memotivasi. Penelitian perilaku menunjukkan bahwa merinci kapan dan di mana kamu akan latihan, misalnya “Senin, Rabu, Jumat jam 7 pagi setelah sarapan” membuat itu lebih seperti rutinitas sehari-hari, bukan sekadar keinginan.

Rutinitas ini bisa menjadi sinyal yang otomatis memicu tindakan. Misalnya, setelah kamu selesai sarapan atau setelah pulang kerja, kamu langsung siap berangkat ke gym dengan tas yang sudah kamu siapkan lebih dulu. Ini mengurangi beban keputusan karena otak tak lagi harus mengevaluasi “apakah aku akan pergi hari ini?” setiap kali kamu berdiri di ambang pintu.

Kamu juga tidak perlu langsung menetapkan target besar di awal. Mulailah dengan hal-hal kecil dan konsisten dulu sering kali lebih efektif daripada janji besar yang kemudian terasa berat untuk dijalankan.

2. Gunakan habit stacking untuk menghubungkan dengan kebiasaan lama

Salah satu cara paling efektif untuk membuat kebiasaan baru bertahan lama adalah dengan menyandingkannya pada rutinitas yang sudah kamu lakukan secara konsisten. Metode ini disebut habit stacking.

Misalnya, jika setiap pagi kamu selalu membuat kopi, setelah menekan tombol mesin kopi kamu bisa langsung mengganti baju dan pergi ke gym. Atau, jika kamu selalu cek email setelah bangun tidur, segera setelah itu kamu bisa langsung mengecek jadwal latihan di aplikasi gym kamu. Ini menciptakan asosiasi kuat di otak antara rutinitas lama dan rutinitas baru.

Makin sering kedua aktivitas ini terjadi bersama, makin cepat tubuh dan pikiranmu menerimanya sebagai rutinitas.

3. Temukan aktivitas yang bisa kamu nikmati

ilustrasi kelas di gym (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Konsistensi akan jauh lebih mudah bila kamu melakukannya bukan karena merasa harus, tapi karena ada elemen yang kamu suka. Itu bisa berupa kelas kelompok, angkat beban dengan playlist favorit, atau sesi kardio sambil mendengarkan podcast yang kamu nikmati.

Mengubah gym menjadi pengalaman yang menyenangkan akan membuatmu tidak hanya datang, tetapi juga menantikan setiap sesi. Ketika kamu menikmati apa yang kamu lakukan, kehadiran di gym berubah dari “tugas” menjadi “pilihan yang menyenangkan”.

Selain itu, variasi latihan juga penting supaya tubuhmu tidak bosan atau mulai stagnan. Campurkan antara latihan kekuatan, kardio, dan mobilitas agar setiap minggu terasa baru dan menantang.

4. Bangun sistem dukungan sosial dan akuntabilitas

Ketika kamu berolahraga bersama teman atau dalam komunitas yang suportif, motivasimu cenderung lebih tinggi. Studi menunjukkan bahwa orang yang ikut serta dalam kelompok atau punya partner latihan memiliki adherence yang lebih baik daripada mereka yang sendirian.

Carilah teman latihan, ikut kelas kelompok, atau bahkan berbagi kemajuanmu ke grup chat. Rasa saling mendukung dan saling mengecek satu sama lain bisa menjadi pendorong kuat untuk tetap datang ke gym.

Kalau kamu punya pelatih (personal trainer), itu seperti punya partner akuntabilitas profesional yang siap membantu dan memberi struktur, yang sering kali efektif untuk meningkatkan keterlibatan jangka panjang.

5. Gunakan sistem reward dan penguatan positif

Otak sangat dipengaruhi oleh sistem reward, dan itu bisa dimanfaatkan untuk konsistensi. Penelitian menunjukkan bahwa memberikan reward langsung setelah latihan (seperti camilan favorit atau waktu santai ekstra) meningkatkan kemungkinan kamu akan mengulang aktivitas itu lagi.

Selain itu, teknologi seperti streaks di aplikasi kebugaran atau penghargaan kecil setiap mencapai target mingguan bisa memberikan dorongan dopamin yang membantu membangun kebiasaan. Ini membantu menguatkan hubungan positif antara pergi ke gym dan perasaan baik setelahnya.

Lingkungan gym juga kerap memfasilitasi penghargaan semacam ini. Mulai dari sistem poin, level, hingga tantangan mingguan.

6. Jadikan gym bagian dari identitasmu

ilustrasi bench press di gym (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Daripada fokus pada tujuan jangka panjang (misalnya ingin turun 10 kg), fokuslah pada siapa kamu ingin menjadi (misalnya “aku adalah tipe orang yang peduli dengan kesehatan dan rutin berlatih"). Penelitian perilaku menyebut ini kebiasaan berbasis identitas, sebuah pendekatan yang membuat kebiasaan lebih melekat karena terkait langsung dengan identitas diri.

Dengan mindset ini, datang ke gym bukan hanya sebuah tugas, tapi bagian dari siapa kamu sebagai individu.

Hal ini membantu terutama pada hari-hari ketika motivasi turun, karena kamu tidak lagi bertanya, “apakah aku mau berlatih hari ini?” tapi “apa tipe orang yang aku pilih menjadi hari ini?”

7. Tracking kemajuan supaya kamu bisa melihat perubahan nyata

Salah satu alasan orang berhenti berolahraga adalah karena mereka merasa tidak ada kemajuan. Padahal, kadang perubahan kecil seperti kemampuan menaikkan beban sedikit atau berlari lebih cepat itu signifikan.

Jadi, selalu catat latihan kamu. Ini bisa dilakukan di buku, aplikasi, atau foto progres. Ketika kamu melihat peningkatan, rasa pencapaian itu akan memicu motivasi lanjutan. Hal ini juga membantu kamu menetapkan fase latihan baru atau memodifikasi program supaya sesuai dengan kebutuhanmu.

Menjadi member gym di tahun 2026 bisa jadi awal dari perjalanan hidup yang lebih sehat, asalkan kamu membangun struktur, kebiasaan, dan lingkungan yang mendukung. Konsistensi bukan hanya soal seberapa sering kamu datang dalam seminggu; itu soal bagaimana rutinitas itu menjadi bagian alami dari harimu. Dengan strategi yang tepat, gym bukan lagi sekadar janji resolusi tahun baru, tapi bagian dari gaya hidupmu.

Referensi

"Exercise Adherence Tips." Association for Applied Sport Psychology. Diakses Januari 2026.

"3 Science-Backed Hacks to Stay Consistent with Your Workouts." Boxrox. Diakses Januari 2026.

"7 Tips for Making Exercise A Habit." Howdy Health. Diakses Januari 2026.

"How to Turn Your 2026 Gym Resolution Into a Lasting Habit." Gold's Gym. Diakses Januari 2026.

"Tips for Maintaining Motivation in Gym and Building Workout Consistency." Fitness Matters. Diakses Januari 2026.

"Gym Retention Strategies to Increase Member Lifetime Value." Propello. Diakses Januari 2026.

Editorial Team