Ada Klaim Vape Tidak Menyebabkan Diabetes, Bagaimana Faktanya?

Metaanalisis 2026 terhadap lebih dari 2,8 juta peserta belum menemukan hubungan bermakna antara vape eksklusif dan diabetes, tetapi kepastian buktinya sangat rendah.
Nikotin dalam cairan vape berpotensi memengaruhi pengaturan gula darah dan kerja insulin; temuan pradiabetes atau resistensi insulin belum membuktikan vape menyebabkan diabetes.
Pengguna vape sekaligus rokok menunjukkan kaitan dengan diabetes, namun faktor rokok dan gaya hidup turut berpengaruh; dampak jangka panjang vape masih belum pasti.
Ketika hasil pemeriksaan menunjukkan gula darah tinggi, orang biasanya akan meninjau kebiasaan sehari-harinya. Bagi pengguna vape, mereka mungkin bertanya-tanya apakah vape bisa menjadi penyebab diabetes.
Memang, berdasarkan penelitian yang ada sekarang, belum ada bukti kuat bahwa penggunaan vape saja bisa menyebabkan diabetes. Namun, itu bukan berarti vape aman bagi kesehatan. Riset tentang kaitan vape dan diabetes masih terbatas, sehingga dampak jangka panjangnya belum dapat dipastikan.
Table of Content
Temuan penelitian terbaru
Sebuah tinjauan sistematis dan metaanalisis yang terbit pada 2026 menggabungkan data dari 10 penelitian dengan total lebih dari 2,8 juta peserta. Para peneliti membedakan orang yang hanya menggunakan vape saat ini, orang yang menggunakan vape sekaligus merokok, dan mantan pengguna vape.
Pada kelompok pengguna vape eksklusif—orang yang melaporkan menggunakan vape tanpa merokok rokok konvensional secara bersamaan—peneliti tidak menemukan hubungan yang bermakna secara statistik dengan diabetes.
Angka gabungannya adalah OR 1,04, dengan rentang kepercayaan 0,93–1,16. Karena rentang ini mencakup angka yang menunjukkan tidak ada perbedaan, hasil tersebut belum menunjukkan bahwa pengguna vape eksklusif lebih mungkin mengalami diabetes.
Satu studi kohort dalam tinjauan itu juga mengikuti 249.190 orang selama sekitar empat tahun. Pengguna vape eksklusif tidak tercatat memiliki peningkatan kasus diabetes tipe 2 yang bermakna dibandingkan orang yang tidak menggunakan vape.
Akan tetapi, tidak ditemukannya hubungan bermakna bukan berarti risikonya pasti nol. Tinjauan tersebut hanya menemukan satu studi prospektif yang menilai kasus diabetes baru. Penggunaan vape juga dilaporkan sendiri oleh peserta, bukan diverifikasi secara biologis, dan peneliti menilai kepastian bukti keseluruhan masih sangat rendah. Masa pengamatan sekitar empat tahun pun belum tentu cukup untuk menangkap dampak yang berkembang lebih lama.
Mengapa vape tetap diteliti terkait gula darah?

ilustrasi vape sekali pakai (freepik.com/atlascompany) Salah satu alasannya adalah nikotin. Cairan vape dapat mengandung nikotin, meski kandungan setiap produk berbeda. Nikotin diketahui dapat memengaruhi tubuh, termasuk pengaturan gula darah.
Para peneliti juga membahas kemungkinan bahwa nikotin mengganggu kerja insulin. Insulin membantu gula dari darah masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi. Jika tubuh merespons insulin dengan kurang baik (kondisi yang disebut resistensi insulin) pengaturan gula darah dapat terganggu.
Namun, mekanisme yang mungkin terjadi belum sama dengan bukti bahwa vape menyebabkan diabetes. Dalam tinjauan 2026, pengguna vape eksklusif memang lebih sering ditemukan mengalami pradiabetes dan resistensi insulin pada sejumlah analisis. Akan tetapi, data tersebut terutama berasal dari penelitian potong lintang, yang mengukur paparan dan kondisi kesehatan pada satu periode. Penelitian seperti ini sulit memastikan mana yang terjadi lebih dahulu dan tidak dapat membuktikan sebab-akibat. Para peneliti juga menyebut kepastian bukti untuk hasil-hasil tersebut sangat rendah.
Bagaimana dengan orang yang merokok dan menggunakan vape sekaligus?
Dalam analisis gabungan, kelompok pengguna ganda (dual user; orang yang menggunakan vape sekaligus merokok rokok konvensional) menunjukkan hubungan dengan diabetes. Namun, hasil tersebut berasal dari penelitian observasional dan tidak membuktikan bahwa vape menjadi penyebabnya. Paparan rokok, riwayat merokok, serta faktor kesehatan dan gaya hidup lain dapat ikut memengaruhi hasil.
Perbedaan ini penting karena kaitan rokok konvensional dengan diabetes sudah didukung bukti yang lebih kuat. Diperkirakan perokok memiliki risiko diabetes tipe 2 sekitar 30–40 persen lebih tinggi dibanding orang yang tidak merokok.
Temuan tentang rokok tidak bisa begitu saja disamakan dengan temuan tentang vape, yang bukti jangka panjangnya masih berkembang.
Jadi, apakah vape aman dari risiko diabetes?

ilustrasi berhenti merokok (IDN Times/NRF) Kesimpulan paling akurat saat ini adalah belum terbukti bahwa vape menyebabkan diabetes, tetapi bukti yang ada belum cukup untuk memastikan vape bebas risiko. Penelitian jangka panjang dengan pengukuran paparan yang lebih akurat masih dibutuhkan.
Vape juga tidak hanya berisi uap air. Aerosol rokok elektronik dapat mengandung nikotin dan zat lain yang berbahaya bagi pengguna maupun orang di sekitarnya; dampak jangka panjangnya belum diketahui sepenuhnya.
Bagi orang yang sudah hidup dengan diabetes, hindari produk tembakau dan vape. Rekomendasi ini berkaitan dengan dampak kesehatan vape yang lebih luas dan ketidakpastian risikonya.







![[QUIZ] Dari Cara Kamu Ngopi, Ini Kondisi Mental Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260718/upload_81eef7479c8aeb23b53726edf15fecd4_1085b833-0382-4947-ba19-8d7bad3edfd5.png)











![[QUIZ] Pilih Warna Favoritmu, Kami Tebak Tingkat Anxiety Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260714/upload_fb55bb03ef8e096afd1d12b06f081ef9_8b5cfdf7-0ac7-4ed9-a9bc-2057765b9daa.png)

![[QUIZ] Berdasarkan Karaktermu, Waspadai Gangguan Kepribadian Ini](https://image.idntimes.com/post/20260804/mwuep2hrca5w9qlbdxkci8rch_0a3c7963-22c0-42a8-afa2-de6c989c3307.png)
