Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Vape Lebih Aman dari Rokok Konvensional? Ini Kata Dokter

Vape Lebih Aman dari Rokok Konvensional? Ini Kata Dokter
ilustrasi vape sekali pakai (freepik.com/atlascompany)
Intinya Sih
  • Dokter Cynthia Centauri dari IDAI menegaskan bahwa klaim vape lebih aman dari rokok hanyalah mitos karena keduanya sama-sama merusak saluran napas dan paru-paru.

  • Kemasan dan aroma menarik pada vape membuatnya tampak tidak berbahaya, padahal uapnya mengandung zat kimia yang dapat mengiritasi dan merusak sistem pernapasan.

  • Baik rokok maupun vape mengandung toksin serupa yang memicu stres oksidatif, kerusakan DNA, serta meningkatkan risiko penyakit serius seperti PPOK, kanker, dan gangguan jantung.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Mungkin kamu pernah mendengar narasi bahwa beralih ke vape atau rokok elektrik adalah langkah lebih sehat untuk berhenti dari rokok konvensional. Bentuk vape yang modern, ditambah pilihan rasa dan aromanya, membuat banyak orang merasa lebih aman saat menggunakannya. Bahkan, tidak jarang ada yang menganggap vape tidak berbahaya.

Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Cynthia Centauri, Sp.A, Subsp.Respi.(K), mengatakan bahwa klaim vape yang lebih aman hanyalah mitos. Bahayanya nyata bagi kesehatan. Baik rokok maupun vape, keduanya adalah polutan yang sama-sama merusak saluran napas dan kesehatan paru-paru secara jangka panjang.

Table of Content

Kemasan yang menjebak

Kemasan yang menjebak

Salah satu alasan mengapa vape begitu populer adalah bentuk dan kemasannya yang atraktif. Tidak seperti rokok konvensional yang identik dengan aroma tembakau menyengat, vape hadir dengan berbagai varian rasa dan aroma—mulai dari buah-buahan hingga aroma kopi.

"Kemasan ini sering kali menipu. Karena diberi wangian, seolah-olah ini bukan sesuatu yang berbahaya, melainkan bisa ditafsirkan sebagai sesuatu yang membuat nyaman atau aromaterapi," ungkap dr. Cynthia.

Padahal, wewangian tersebut justru menjadi topeng yang menutupi zat-zat berbahaya di dalamnya. Alih-alih mendapatkan kenyamanan, pengguna sebenarnya sedang menghirup uap kimia yang sifatnya mengiritasi saluran napas.

Sama-sama racun bagi tubuh

Ilustrasi larangan penggunaan vape atau rokok elektrik dengan simbol lingkaran merah dan garis miring di tengah.
ilustrasi vape atau rokok elektrik (IDN Times/NRF)

Karena vape tidak melalui proses pembakaran tradisional, banyak yang mengaggap dampaknya bagi kesehatan lebih ringan. Namun, berdasarkan data ilmiah terbaru, baik rokok konvensional maupun vape merupakan polutan udara yang berbahaya, baik di lingkungan indoor maupun outdoor.

Kedua produk ini terbukti memicu kerusakan seluler yang serupa melalui mekanisme yang sama:

  • Toksin yang serupa: Baik rokok maupun vape sama-sama mengandung bahan berbahaya seperti aldehida, nikotin, N-nitrosamin, logam transisi, dan volatile organic compounds (VOCs).
  • Pemicu stres oksidatif dan inflamasi: Keduanya memicu peningkatan drastis radikal bebas (ROS) dan sitokin inflamasi seperti IL-1β, IL-6, dan TNF-α yang merusak sel-sel tubuh.
  • Kerusakan DNA dan risiko penyakit: Keduanya menyebabkan kerusakan DNA, aktivasi trombosis (penggumpalan darah), hingga risiko jangka panjang yang sangat serius seperti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), kanker, penyakit jantung iskemik, dan emfisema.

Dokter Cynthia menekankan bahwa proses masuknya racun ini ke tubuh pun cukup kompleks. Mulai dari emisi utama saat penggunaan, faktor suhu koil pemanas, hingga bagaimana aerosol tersebut berinteraksi dengan lingkungan ruangan melalui proses penguapan dan deposisi yang akhirnya terhirup kembali oleh orang sekitar.

Bahaya nyata pada saluran napas

Paparan asap rokok dan vape menyebabkan:

  • Penurunan fungsi imun pada saluran napas.
  • Kerusakan pada sel-sel epitel dan makrofag paru.
  • Peningkatan produksi dahak yang abnormal serta peradangan pada pembuluh darah (endotel).
  • Risiko modifikasi epigenetik, kematian sel, hingga infeksi yang lebih mudah menyerang pengguna maupun orang di sekitar.

"Sangat jelas bahwa narasi lebih aman tidak didukung oleh fakta medis. Kedua produk ini sama-sama mengiritasi saluran napas, merusak DNA, dan secara spesifik sama-sama buruk bagi kesehatan dan orang di sekitar,” dr. Cynthia mengingatkan.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More