Comscore Tracker

COVID-19 Tanpa Gejala Ternyata Jumlahnya Lebih Sedikit? Ini Faktanya!

Menekankan pentingnya vaksinasi COVID-19

Sedikit demi sedikit, dunia mulai memahami COVID-19. Bisa menyerang usia berapa pun, tingkat keparahan infeksi virus corona SARS-CoV-2 bisa berbeda pada setiap orang. Berdasarkan tingkat keparahannya, umumnya infeksi COVID-19 bisa terlihat ringan, sedang, berat, atau tanpa gejala (asimtomatik).

Sementara terlihat melegakan, gejala asimtomatik justru membawa ancaman bahaya. Tentu kamu pernah membaca berbagai berita atau laporan bahwa tidak sedikit orang-orang yang terkonfirmasi positif COVID-19 tidak bergejala. Namun, apakah COVID-19 asimtomatik sebanyak itu? Sebuah studi terbaru di Amerika Serikat (AS) meragukan hal tersebut.

1. Merekrut tenaga kesehatan yang belum divaksinasi

COVID-19 Tanpa Gejala Ternyata Jumlahnya Lebih Sedikit? Ini Faktanya!ilustrasi tenaga kesehatan (IDN Times/Bagus F)

Dimuat dalam jurnal Open Forum Infectious Disease pada 14 Februari 2022, para peneliti AS menelaah frekuensi COVID-19 asimtomatik yang masih abu-abu. Mereka menduga hal ini dipengaruhi oleh evaluasi gejala-gejala COVID-19.

Bertajuk "Prospective assessment of symptoms to evaluate asymptomatic SARS-CoV-2 infections in a cohort of healthcare workers", para peneliti merekrut 263 partisipan pada 25 Agustus 2020 hingga 31 Desember 2020. Para partisipan adalah tenaga kesehatan (nakes) dari Walter Reed National Military Medical Center di Bethesda, AS, yang belum divaksinasi.

2. Perekaman gejala dengan PCR dan kuesioner khusus

COVID-19 Tanpa Gejala Ternyata Jumlahnya Lebih Sedikit? Ini Faktanya!ilustrasi sampel tes COVID-19 (IDN Times/Debbie Sutrisno)

Pada awal penelitian, para nakes yang rata-rata berusia 41 tahun masih negatif COVID-19. Hingga Februari 2021, para partisipan diizinkan menjalani tes polymerase chain reaction (PCR) seandainya bergejala. Mereka juga menjalani uji antibodi bulanan untuk memantau kejadian COVID-19 yang terlewat PCR atau asimtomatik.

Selain itu, para partisipan juga diperbolehkan untuk melaporkan gejala yang mereka rasakan dengan mengisi kuesioner FLU-PRO Plus setiap hari. Kuesioner ini bertujuan untuk merekam gejala-gejala gangguan pernapasan akibat infeksi virus, termasuk COVID-19. FLU-PRO Plus merekam 34 gejala di anggota-anggota tubuh seperti:

  • Hidung.
  • Tenggorokan.
  • Mata.
  • Dada.
  • Gastrointestinal.
  • Tubuh atau sistemik.
  • Indra (pengecap atau penciuman).

Baca Juga: 4 Tata Laksana Pasien COVID-19 Sesuai Tingkatan Gejala, Sampai Sembuh!

3. Hasil: Lebih banyak laporan COVID-19 yang bergejala daripada yang tak bergejala

COVID-19 Tanpa Gejala Ternyata Jumlahnya Lebih Sedikit? Ini Faktanya!ilustrasi COVID-19 (IDN Times/Sukma Shakti)

Per 28 Februari 2021, para peneliti menemukan sebanyak 12 kasus positif COVID-19 lewat PCR. Dari 12 pasien tersebut, sebanyak 10 pasien tersaring lewat hasil PCR positif, sementara 2 pasien menunjukkan serokonversi meski hasil PCR negatif.

Lalu, para peneliti menemukan bahwa 12 pasien tersebut menunjukkan gejala COVID-19 ringan yang tidak memerlukan rawat inap. Dari hasil peningkatan skor FLU-PRO Plus pada 12 pasien COVID-19, para peneliti melihat bahwa kejadian COVID-19 bergejala ternyata 100 persen.

"Hasil ini menunjukkan bahwa COVID-19 asimtomatik pada orang dewasa yang tidak divaksinasi dan dengan sistem imun mumpuni tidak seumum yang dilaporkan studi-studi sebelumnya," tulis para peneliti.

COVID-19 Tanpa Gejala Ternyata Jumlahnya Lebih Sedikit? Ini Faktanya!ilustrasi infeksi virus corona COVID-19 (IDN Times/Mardya Shakti)

Selain itu, gejala-gejala 12 pasien COVID-19 kemudian dibandingkan dengan 38 partisipan yang mengalami gangguan pernapasan non-COVID-19. Dari kedua kelompok pasien (COVID-19 maupun non-COVID-19), gejala-gejala yang terlihat pada 70 persen pasien adalah:

  • Hidung meler.
  • Rasa sakit atau tekanan pada sinus.
  • Sakit tenggorokan.

Namun, kehilangan indra penciuman (anosmia) dan pengecapan (ageusia) tidak banyak terlihat, sehingga sulit membedakan antara COVID-19 dan non-COVID-19. Hasil ini juga menunjukkan bahwa pasien sulit membedakan COVID-19 berbasis gejala saja.

4. Penjelasan mengenai tingkat COVID-19 bergejala yang 100 persen

COVID-19 Tanpa Gejala Ternyata Jumlahnya Lebih Sedikit? Ini Faktanya!ilustrasi pasien COVID-19 (IDN Times/Mardya Shakti)

Ada beberapa kekurangan dalam studi ini yang perlu dicatat. Pemimpin studi dari Uniformed Service University, Dr. Emilie Roguet, mengatakan bahwa tingginya tingkat COVID-19 bergejala adalah karena para partisipan studi benar-benar mewaspadai gejala.

"Kami menduga bahwa tingginya tingkat infeksi bergejala dibanding studi-studi lainnya karena para partisipan benar-benar mewaspadai gejala," ujar Dr. Emilie.

Ikut mengomentari studi, peneliti senior pada studi tersebut, Dr. Edward Mitre, mengutip bahwa beberapa studi mengklaim kemungkinan COVID-19 asimtomatik adalah 50 persen. Jika ini benar, Dr. Edward mengatakan seharusnya 12 pasien dalam studi ini tidak menunjukkan gejala.

"Ibarat melempar koin, jika tingkat infeksi asimtomatik dikurangi lagi jadi 30 persen, maka harusnya dari 12 pasien tersebut yang bergejala seharusnya 1,4 persen," ujar Dr. Edward dalam pernyataan resmi yang dimuat oleh Uniformed Services University, institusi yang memimpin penelitian tersebut.

5. Kekurangan studi tersebut

COVID-19 Tanpa Gejala Ternyata Jumlahnya Lebih Sedikit? Ini Faktanya!ilustrasi melawan COVID-19 (IDN Times/Arief Rahmat)

Para peneliti juga mencatat beberapa kekurangan lain. Pertama, studi ini melibatkan nakes, kelompok yang menjadi garda terdepan dan terpapar SARS-CoV-2 lebih tinggi. Oleh karena itu, studi pada komunitas umum diharapkan di masa depan.

Keterbatasan studi lainnya adalah kurangnya keberagaman. Selain lebih banyak merekrut orang berkulit putih, studi ini lebih melibatkan individu sehat. Jadi, studi ini kemungkinan kecil berlaku untuk individu dengan komorbiditas dan gangguan imun.

Keterbatasan terakhir adalah studi ini diadakan pada partisipan yang sebelumnya belum menerima vaksinasi. Oleh karena itu, apakah temuan yang sama berlaku pada individu yang sudah divaksinasi hingga dosis lanjutan (booster)? Hal ini perlu ditelaah lebih jauh di masa depan.

Baca Juga: Perbedaan Gejala Varian Omicron pada yang Sudah dan Belum Divaksinasi

Topic:

  • Nurulia

Berita Terkini Lainnya