Comscore Tracker

Minim Dibicarakan, padahal Polusi Udara Amat Berbahaya!

Kesadaran akan bahaya polusi udara harus ditingkatkan

Polusi udara adalah masalah bersama. Masalah polusi udara dari asap rokok, kendaraan, hingga asap industri bisa membunuh masyarakat secara diam-diam dan perlahan-lahan. Dengan bahayanya yang nyata, sayangnya masalah polusi udara jarang dibicarakan.

Inilah yang menjadi pembahasan dari perilisan survei daring "Persepsi Masyarakat Jabodetabek terhadap Kualitas Udara 2021" antara KataData Insight Center dan Bicara Udara pada Rabu (17/11/2021). Mari kita simak apa temuannya.

1. Masyarakat setuju bahwa polusi udara adalah masalah bersama, tetapi pengetahuan masih minim

Minim Dibicarakan, padahal Polusi Udara Amat Berbahaya!ilustrasi polusi udara (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)

Expert panel dari KataData Insight Center, Mulya Amri, PhD., memberikan kabar baik bahwa setidaknya masyarakat Indonesia sebenarnya setuju bahwa polusi udara adalah masalah yang harus diselesaikan.

"Jadi, ketika ditanyakan, 'Apakah polusi udara ini merupakan masalah?', sebanyak 96,3 persen responden menjawab ini adalah masalah, dan hanya 3,7 persen yang mengatakan sebaliknya," kata Mulya.

Akan tetapi, Mulya menyayangkan bahwa di balik antusiasme tersebut, masyarakat masih belum mengetahui berbagai informasi mengenai polusi udara. Sebagai contoh, saat ditanya mengenai PM2.5 (partikel halus di polusi udara), hampir 80 persen menjawab "tidak tahu".

"Padahal, [PM2.5] ini adalah partikel yang sangat sensitif dan sangat memengaruhi kualitas udara dan kesehatan kita. Jadi, masyarakat sepakat ini adalah masalah, tetapi pengetahuannya masih cukup rendah," imbuh Mulya.

Pada survei yang dilakukan pada minggu terakhir Agustus 2021, KataData Insight Center bekerja sama dengan Bicara Udara untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang kualitas udara di lingkungannya. Selain itu, survei ini juga mengecek kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang kualitas udara, serta dampaknya pada mereka.

2. Sebelum pandemik COVID-19, masker sudah menjadi bagian dari keseharian

Minim Dibicarakan, padahal Polusi Udara Amat Berbahaya!ilustrasi polusi udara (ANTARA FOTO/FB Anggoro)

Mulya kemudian memulai dari persepsi masyarakat. Sebenarnya, kebiasaan memakai masker sudah sering terlihat bahkan sebelum pandemi penyakit virus corona baru COVID-19, terutama masyarakat di Jabodetabek. Dari hampir 1.600 responden, sebanyak 59,2 persen memakai masker bahkan sebelum pandemik COVID-19.

"Memang, penyebabnya kenapa warga masyarakat memakai masker adalah polusi udara. Kebiasaan memakai masker ini sering kali kita lihat terutama pada saat bepergian," ujar Mulya.

Dari segi transportasi, pemakaian masker juga menjadi hal yang biasa. Mulya menjabarkan bahwa pemakaian masker terlihat pada pengguna layanan bus dan angkot (61,6 persen) atau ojek dan taksi daring (60,6 persen). Selain itu, berjalan kaki, naik commuter line, atau kendaraan pribadi juga di atas 50 persen.

"Jadi, memang sudah biasa ada kekhawatiran di sini yang terkait dengan kualitas udara," kata Mulya.

3. Meski sehat, masyarakat mengalami gejala gangguan kesehatan akibat polusi udara

Minim Dibicarakan, padahal Polusi Udara Amat Berbahaya!ilustrasi polusi udara (ccacoalition.org)

Kemudian, survei ini juga mencatat apakah masyarakat mengalami gejala gangguan kesehatan saat menghirup udara meskipun tidak sakit. Mulya mengatakan bahwa gejala-gejala ini adalah yang paling sering ditemukan di masyarakat saat menghirup udara berpolusi:

  • Batuk dan bersin: 44,6 persen
  • Sakit kepala/pusing: 44,3 persen
  • Iritasi mata, hidung, dan tenggorokan: 42 persen
  • Kelelahan: 34,8 persen
  • Iritasi kulit (jerawat, beruntusan, dsb.): 25,9 persen
  • Sesak napas: 19,7 persen
  • Nasal drip (berdahak): 10,4 persen
  • Hipersensitivitas dan alergi: 7,7 persen
  • Mual: 7,3 persen
  • Sinus: 5,6 persen

Meski harus dicek dulu apakah gejala-gejala tersebut murni karena polusi udara (bukan karena kondisi penyerta), inilah gejala-gejala yang amat lekat dengan teruknya kualitas udara. Jadi, masyarakat menganggap gejala yang muncul setelah menghirup udara kotor tersebut "sudah biasa".

"Hanya 9,7 persen yang tidak merasakan gejala apa pun saat menghirup udara. Cukup memprihatinkan," kata Mulya.

4. Masyarakat masih hidup di lingkungan berpolutan tinggi

Minim Dibicarakan, padahal Polusi Udara Amat Berbahaya!ilustrasi dampak polusi udara pada anak (idronline.org)

Saat ditanyakan mengenai gambaran kondisi udara di sekitar tempat tinggal, survei ini mengungkapkan bahwa mayoritas masyarakat mengeluhkan polusi udara di sekitarnya. Mulya menjabarkan bahwa dari 1.570 responden, mereka mengeluhkan:

  • Udara pekat dengan debu dan asap kendaraan: 54,5 persen
  • Suhu udara meningkat dari tahu ke tahun: 45,7 persen
  • Udara berkabut hingga menghalangi pemandangan: 8,9 persen
  • Udara berbau menyengat: 8 persen
  • Sesak saat menghirup udara: 6,2 persen
  • Lain-lain: 3,9 persen

Dari responden tersebut, hanya 4,2 persen yang mengatakan udara di tempat tinggalnya masih asri dan layak hirup, serta 1,8 persen yang mengatakan kondisi udaranya normal. Amat disayangkan, persentase masyarakat yang masih puas dengan kualitas udara di tempat tinggal mereka di bawah 7 persen.

"Kebanyakan mereka mengeluhkan kondisi udara di sekitar rumah. Baik di pusat kota maupun di pinggiran kota, semuanya melaporkan hal-hal seperti ini, terutama yang paling besar adalah debu, asap kendaraan, dan suhu udara yang meningkat," tekan Mulya.

5. Masyarakat masih "meraba-raba" soal polusi udara

Minim Dibicarakan, padahal Polusi Udara Amat Berbahaya!ilustrasi polusi udara (unsplash.com/Kristen Morith)

Mulya meneruskan bahwa selain persepsi, survei ini juga mencakup ketepatan pengetahuan masyarakat soal kualitas udara. Hal pertama yang dibicarakan adalah cara masyarakat mengetahui kualitas udara di sekitarnya. Bagaimana caranya?

Sebanyak 88 persen dari 1.570 responden menjawab bahwa cara mengukur kebersihan udara adalah dengan dihirup. Jika terasa segar, maka berarti bersih. Selain itu, 45,9 persen responden mengatakan bahwa jika langit terlihat biru atau cerah, maka polusi udara berada di tingkat minim. 

"Jadi, kebanyakan mengatakan cara mengetahui udara bersih atau tidak melalui cara-cara penglihatan atau perasaan. Padahal, itu sebetulnya tidak tepat," kata Mulya.

Sayangnya, dari para responden, hanya 15,4 persen dan 3 persen yang sadar bahwa aplikasi pemantau kualitas udara serta sensor pemantau kualitas udara adalah standar emas dalam mengukur kualitas udara.

Baca Juga: Gambaran Kondisi Nyata Udara, yuk Pahami Apa Itu Indeks Kualitas Udara

6. Beberapa kesalahpahaman tentang kualitas udara

Minim Dibicarakan, padahal Polusi Udara Amat Berbahaya!ilustrasi polusi udara (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)

Turut berbicara dalam webinar tersebut, Chief Growth Officer Nafas Indonesia, Piotr Jakubowski, kemudian membagikan bahwa sejatinya, ada empat kesalahpahaman mengenai kualitas udara yang terus beredar di masyarakat meski sudah dipatahkan. Mitos-mitos tersebut adalah:

  • “Daerah saya memiliki banyak pohon dan jauh dari kota, tidak ada polusi udara di sini.”
  • “Kualitas udara paling bagus di pagi hari, karena mobil lebih sedikit.”
  • “Saya berolahraga, jadi itu membuat saya cukup sehat melawan polusi.”
  • "Selama pandemi, polusi udara menurun karena WFH"
Minim Dibicarakan, padahal Polusi Udara Amat Berbahaya!ilustrasi pakai masker (pixabay.com/OrnaW)

Membicarakan mitos pertama, Piotr mengatakan bahwa data Nafas dari bulan Agustus 2021 menunjukkan bahwa ada beberapa lokasi hijau di Jakarta, di mana polusi udara di tetap tinggi, yaitu Bintaro dan BSD di Tangerang Selatan.

"Polusi udara, termasuk PM2.5, bisa menyebar ratusan kilometer dari sumbernya," imbuh Piotr.

Melihat Juli sampai Agustus 2021 di BSD, hanya ada 4 jam di mana kualitas udara sedikit membaik. Dengan kata lain, kualitas udara hanya membaik 8 kali dalam waktu 2 bulan. Dengan kata lain, kualitas udara di Tangerang Selatan sendiri ternyata tidak lebih baik daripada Jakarta Pusat, jauh melebihi batas Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Mulya mengatakan bahwa 51 persen masyarakat yakin bahwa daerah pepohonan dan jauh dari pusat kota paling aman dari polusi. Padahal, di daerah selain Jakarta, daerah pinggiran kota seperti Bogor, Tangerang Selatan, dan lainnya juga terkena imbas polusi udara secara merata.

Minim Dibicarakan, padahal Polusi Udara Amat Berbahaya!ilustrasi polusi udara di Jakarta (pond5.com)

Lanjut ke mitos kedua, Piotr mengatakan bahwa kenyataannya, polusi udara pagi hari lebih tinggi daripada kualitas siang dan sore hari menurut data pada Agustus 2021. Hal ini terkait dengan kondisi iklim dan meteorologi.

Menurut Piotr, fenomena planetary boundary layer dan kondisi iklim lainnya membuat kualitas udara pada pagi hari jadi yang terburuk. Salah satu pemicu kesalahpahaman ini adalah anggapan bahwa jika suhu udara tinggi, maka polusi ikut tinggi.

"Data dari bulan September 2021 di salah satu daerah di Jabodetabek, dari jam 12 pagi sampai 11 malam, kualitas udara paling buruk terjadi pada pagi hari dan malam hari, bukan tengah hari. Hal yang sama terlihat di bulan November," kata Piotr.

Mulya mengatakan bahwa 92,7 persen masyarakat yakin bahwa udara pagi hari adalah yang terbaik. Padahal, dilansir data Nafas, antara jam 4-6 pagi adalah waktu saat kualitas udara sedang buruk. Waktu terbaiknya justru berkisar antara jam 3 sore sampai 7 malam.

Minim Dibicarakan, padahal Polusi Udara Amat Berbahaya!ilustrasi joging (pixabay.com/wal_172619)

Membicarakan mitos ketiga, Piotr mengutip sebuah studi dari Seoul National University pada Juni 2020 lalu bertajuk "Combined Effects of Physical Activity and Air Pollution on Cardiovascular Disease". Penelitian tersebut menemukan peningkatan risiko penyakit jantung hingga 33 persen jika berolahraga di lingkungan berpolusi tinggi.

Selain itu, Piotr mengutip data dari Nafas bahwa ternyata, olahraga pada pagi-pagi buta tidaklah seaman atau sesehat yang kita kira. Jam 4 subuh hingga 9 pagi adalah waktu terburuk untuk berolahraga karena polusi udara (terutama tingkat PM2.5) sedang tinggi-tingginya.

Minim Dibicarakan, padahal Polusi Udara Amat Berbahaya!ilustrasi PPKM Darurat (IDN Times/Sachril Agustin Berutu)

Umum bagi masyarakat untuk menganggap kualitas udara akan membaik dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada 2020 lalu dan pembatasan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada 2021 ini. Namun, ternyata tidak begitu.

Menurut data di sensor Nafas di Jakarta Selatan, Piotr mengatakan bahwa PSBB pada 2020 dan PPKM pada 2021 sama sekali tidak meningkatkan kualitas udara. Malah, kualitas udara tetap buruk di samping faktor seperti angin besar dan curah hujan tinggi.

7. Polusi udara amat berbahaya

Minim Dibicarakan, padahal Polusi Udara Amat Berbahaya!Seorang laki-laki memakai masker untuk mencegah paparan polusi udara. (freepik.com/jcomp)

Kenapa sekarang adalah waktunya untuk memperhatikan polusi udara? Piotr mengatakan bahwa kesadaran masyarakat akan PM2.5 masih minim, padahal inilah salah satu masalah terbesar dari polusi udara di masyarakat.

PM2.5 bukanlah hal yang bisa disaring oleh tubuh. Oleh karena itu, PM2.5 bisa masuk ke paru-paru dan aliran darah. Saat konsentrasi PM2.5 menumpuk di tubuh, Piotr memperingatkan hal ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi. Menurut Piotr, polusi udara dapat menyebabkan:

  • Penurunan kecerdasan atau IQ pada anak di rentang usia berapa pun
  • Masyarakat rentan sakit
  • Tingkat kematian yang tidak sedikit di masyarakat
Minim Dibicarakan, padahal Polusi Udara Amat Berbahaya!ilustrasi polusi udara di masyarakat (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

Mengutip berbagai penelitian, Piotr mengatakan bahwa pemerintah DKI Jakarta harus menggelontorkan Rp61 triliun untuk menyelesaikan masalah kesehatan. Selain itu, data dari 2010 mengatakan bahwa 5,5 juta kasus penyakit di ibu kota dikaitkan dengan polusi udara!

Bukan hanya COVID-19, Piotr mengatakan bahwa polusi udara jadi krisis kesehatan masyarakat terbesar di seluruh dunia. Sementara krisis udara dapat dicegah, masalah ini tidak bisa terus ditunda. Dengan kata lain, masyarakat dan pemerintah harus segera bertindak!

"Dengan kerja sama pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat, polusi udara dapat ditangani," tandas Piotr.

8. Masyarakat ingin tahu informasi udara, tetapi masih terkendala

Minim Dibicarakan, padahal Polusi Udara Amat Berbahaya!ilustrasi peta Nafas App (Dok. Nafas App)

Mulya melanjutkan bahwa saat ditanya mengenai ketertarikan soal informasi tentang kualitas udara, masyarakat amat tertarik karena bagi mereka polusi adalah masalah bersama. Dari 1.570 responden, 90,1 persen tertarik untuk mengetahuinya.

Akan tetapi, saat ditanya lagi, "Apakah pernah mengecek atau mencari tahu tingkat kualitas udara di sekitar tempat tinggal?", sebanyak 65,7 persen responden menjawab "Tidak pernah". Selain perilaku abai, kemungkinan besar masyarakat juga belum tahu cara mengecek kualitas udara. Inilah yang bisa dan harus diperbaiki bersama.

“Ini juga hal-hal yang merupakan kontradiksi. Sebelumnya, masyarakat sadar bahwa polusi udara adalah masalah, tetapi pengetahuan tentang polusi udara masih rendah. Di sini, masyarakat tertarik mencari tahu, tetapi tidak bisa atau kesulitan mengecek kualitas udara," kata Mulya.

Baca Juga: Polusi Udara Bisa Bikin Depresi? Ini Penelitiannya!

9. Peran pemerintah dan kendala masyarakat dalam mengendalikan polusi udara

Minim Dibicarakan, padahal Polusi Udara Amat Berbahaya!ilustrasi ruang terbuka hijau (unsplash.com/chanlee)

Mulya mengatakan, usaha memperbaiki polusi udara harus dilakukan secara kolektif. Dengan kata lain, peran pemerintah amat penting untuk mengoordinasi semua usaha tersebut. Saat ditanya kepada 1.570 responden, survei tersebut mencatat usaha-usaha yang dilihat dari pemerintah adalah:

  • Ruang Terbuka Hijau: 67 persen
  • Standar emisi untuk industri: 48,4 persen
  • Uji emisi untuk kendaraan bermotor: 46,3 persen
  • Penyelenggaraan Car Free Day: 45,4 persen
  • Peralihan ke energi baru dan terbarukan: 41,9 persen
  • Transportasi berbasis listrik: 36,3 persen
  • Penindakan pembakaran sampah terbuka: 36 persen
  • Memperbanyak alat ukur kualitas udara: 27 persen
  • Bengkel dan SPBU harus punya alat uji emisi: 25,4 persen
  • Zona Rendah Emisi (Low Emission Zone): 23,9 persen
Minim Dibicarakan, padahal Polusi Udara Amat Berbahaya!ilustrasi Nafas App (Dok. Nafas App)

Itulah usaha dari pemerintah yang diakui masyarakat. Lalu, dari sisi masyarakat, apakah kendala terbesar yang dihadapi saat menanggulangi polusi udara? Mulya menemukan bahwa dari 1.570 responden, mereka menjabarkan kendala-kendala seperti:

  • Terbatasnya akses ke kualitas udara: 56,9 persen
  • Terbatasnya teknologi pengukuran kualitas udara: 56,2 persen
  • Meningkatnya populasi: 50,4 persen
  • Emisi meningkat seiring meningkatnya taraf hidup masyarakat: 43,7 persen
  • Sinergi antara pemangku kepentingan: 40,5 persen
  • Ketergantungan bahan bakar fosil: 30 persen
  • Kemauan politik: 26,1 persen

"Keterbatasan informasi dan teknologi pengukuran kualitas udara sebenarnya adalah hal yang praktis, tetapi sangat penting. Untuk melangkah, tentunya kita butuh informasi yang tepat," tandas Mulya.

10. Apa yang bisa kita lakukan?

Minim Dibicarakan, padahal Polusi Udara Amat Berbahaya!ilustrasi melawan polusi udara (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Menutup sesi webinar tersebut, aktivis Bicara Udara, Renny Fernandez, mengajak berbagai pihak untuk menangani polusi udara. Berkisah pada tempat tinggalnya di Sheffield, Renny mengatakan bahwa usaha menanggulangi polusi udara juga dimulai dari para pembuat kebijakan.

"Komunitas-komunitas, terutama anak muda, jangan alergi untuk berbicara dan berdiskusi dengan para politisi sebagai pemegang kebijakan," ujar Renny.

Selain itu, Renny mengatakan pentingnya kolaborasi antara komunitas sosial demi membangkitkan kesadaran polusi udara. Jika masalah polusi udara terus dibicarakan dengan kelompok yang tepat dan disebarkan, maka kesadaran polusi udara akan makin marak di masyarakat.

Minim Dibicarakan, padahal Polusi Udara Amat Berbahaya!ilustrasi polusi udara (pixabay.com/marcinjozwiak)

Piotr mengatakan bahwa harus ada kolaborasi untuk bisa menaklukkan polusi udara. Berbicara soal kolaborasi antara pemerintah dan swasta, Piotr mengungkapkan kesiapan Nafas untuk menyediakan data agar dapat digunakan demi kesejahteraan masyarakat.

Kedua adalah kolaborasi dari data dan riset terkini. Dengan begitu, maka lebih banyak riset di masa depan mengenai polusi udara di Indonesia, selain yang telah dilakukan oleh Bicara Udara dan KataData Insight Center. Ketiga adalah kolaborasi dari media daring dan luring. Polusi udara adalah masalah besar saat ini dan masa depan.

"Jika kita bisa lebih cepat sadar akan polusi udara, maka kita bisa lebih cepat bekerja sama untuk mengatasi masalah ini," kata Piotr.

Minim Dibicarakan, padahal Polusi Udara Amat Berbahaya!ilustrasi polusi udara karena asap kendaraan bermotor (unsplash.com/Adrian Pranata)

Seperti perubahan iklim, kualitas udara adalah topik jangka panjang. Karena sering dipandang bukan hal yang sifatnya darurat, Mulya mengatakan bahwa sering kali polusi udara luput dari perhatian. Ini karena para pemegang kebijakan dan masyarakat terus berfokus pada hal-hal terkini yang ada "di depan mata".

Menurut Mulya, tantangannya saat ini adalah bagaimana mengangkat isu polusi udara lalu menjadikannya isu masa kini. Survei medis dan sains terhadap polusi udara harus terus dilakukan.

"Ini adalah pekerjaan besar dan berjangka panjang. Oleh karena itu, kita harus menjadikannya ke skala masif ke depannya," ujar Mulya.

Baca Juga: Polusi Udara dan Efeknya pada Kesehatan Mental, Jangan Diremehkan!

Topic:

  • Nurulia R F
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya