Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Apakah Kehamilan Pertama Rentan Keguguran?

Apakah Kehamilan Pertama Rentan Keguguran?
ilustrasi kehamilan (pexels.com/Matilda Wormwood)
Intinya Sih
  • Kehamilan pertama tidak selalu lebih rentan terhadap keguguran.
  • Risiko keguguran dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti usia ibu, kondisi kesehatan yang mendasari, dan kebiasaan gaya hidup.
  • Keguguran terjadi pada orang di setiap negara dan setiap situasi dalam kehidupan. Sehat atau sakit. Muda atau tua. Senang atau sedih atau tidak yakin tentang kehamilannya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Kehamilan pertama sering kali datang bercampur rasa haru, harapan, dan kekhawatiran. Pikiran pun dipenuhi bayangan masa depan bersama calon bayi. Namun, di balik kebahagiaan yang dirasakan, hadir pula rasa cemas. Sebagai contoh, beberapa perempuan bertanya-tanya apakah kehamilan pertama lebih rentan mengalami keguguran.

Kekhawatiran semacam ini wajar, apalagi bagi perempuan yang baru pertama kali melewati pengalaman hamil. Tubuh mengalami perubahan besar, dan setiap gejala baru bisa bikin cemas. Secara medis, memang ada beberapa faktor yang bisa membuat kehamilan pertama memiliki risiko keguguran. Namun, penting juga untuk memahami konteks dan penyebabnya secara utuh.

Artikel ini akan mengupas fakta medis di balik risiko keguguran pada kehamilan pertama, sekaligus memberikan pemahaman yang lebih baik.

Table of Content

Apakah perempuan yang baru pertama kali hamil rentan keguguran?

Apakah perempuan yang baru pertama kali hamil rentan keguguran?

Jawaban singkatnya, tidak selalu.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, sekitar 10–20 persen kehamilan yang telah terdeteksi secara klinis berakhir dengan keguguran. Angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi karena sebagian kehamilan berakhir sebelum seseorang menyadari dirinya hamil.

Namun, fakta bahwa seseorang sedang hamil pertama kalinya tidak otomatis membuat mereka lebih rentan mengalami keguguran.

Penelitian menunjukkan bahwa keguguran dapat terjadi pada siapa saja, termasuk perempuan yang sehat dan tidak memiliki faktor risiko yang jelas. Risiko terbesar justru lebih dipengaruhi oleh faktor biologis tertentu, terutama usia ibu dan kualitas kromosom embrio.

Kehamilan pertama memang sering terasa lebih rentan karena belum ada pengalaman sebelumnya. Selain itu, banyak perempuan baru mengetahui bahwa keguguran relatif umum terjadi setelah mereka sendiri mengalami atau mendengar pengalaman orang lain.

Yang perlu dipahami, sebagian besar kehamilan pertama berakhir dengan kelahiran bayi yang sehat.

Seberapa umum keguguran terjadi?

Diperkirakan sekitar 80 persen keguguran terjadi pada 12 minggu pertama kehamilan. Risiko keguguran juga berubah sesuai usia kehamilan.

Secara umum:

  • Risiko paling tinggi terjadi pada trimester pertama.
  • Risiko menurun secara signifikan setelah detak jantung janin terdeteksi.
  • Setelah melewati trimester pertama, peluang kehamilan berlanjut hingga persalinan meningkat secara drastis.

Karena itu, banyak dokter kandungan menyebut minggu-minggu awal kehamilan sebagai periode yang paling krusial.

Penyebab dan faktor risiko keguguran

1. Kelainan kromosom pada janin

Ini adalah penyebab paling umum.

Menurut penelitian, sekitar setengah dari kasus keguguran trimester pertama disebabkan oleh kelainan kromosom yang terjadi saat pembuahan atau pembelahan sel awal. Kelainan ini biasanya terjadi secara acak. Artinya, kondisi tersebut bukan akibat makanan tertentu, aktivitas fisik, stres sesaat, atau kesalahan yang dilakukan ibu.

Tubuh secara alami menghentikan perkembangan kehamilan ketika embrio tidak dapat berkembang secara normal.

2. Usia ibu yang lebih tua

Usia merupakan salah satu faktor risiko yang paling kuat. Penelitian menemukan bahwa risiko keguguran meningkat seiring bertambahnya usia.

Perkiraannya:

  • Usia 20–24 tahun: sekitar 10 persen.
  • Usia 35 tahun: sekitar 20 persen.
  • Usia 40 tahun: sekitar 40 persen.
  • Usia 45 tahun ke atas: lebih dari 50 persen.

Peningkatan ini terutama berkaitan dengan meningkatnya kemungkinan kelainan kromosom pada sel telur.

3. Riwayat keguguran berulang

Mengalami satu kali keguguran tidak berarti seseorang akan kembali mengalami keguguran. Namun, risiko memang meningkat pada perempuan yang memiliki riwayat beberapa kali keguguran berturut-turut. Karena itu, evaluasi medis biasanya dianjurkan setelah mengalami keguguran berulang.

4. Penyakit tertentu

Beberapa kondisi kesehatan dapat meningkatkan risiko keguguran, antara lain:

  • Diabetes yang tidak terkontrol.
  • Gangguan tiroid.
  • Sindrom antifosfolipid.
  • Lupus.
  • Kelainan rahim tertentu.
  • Infeksi tertentu.

Pemeriksaan kesehatan sebelum dan selama kehamilan sangat penting.

5. Merokok dan konsumsi alkohol

Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa:

  • Merokok meningkatkan risiko keguguran.
  • Paparan asap rokok juga dapat berdampak negatif.
  • Konsumsi alkohol selama kehamilan berkaitan dengan berbagai komplikasi, termasuk keguguran.

6. Obesitas

Beberapa studi menemukan bahwa obesitas berkaitan dengan peningkatan risiko keguguran. Mekanismenya diduga melibatkan peradangan kronis, gangguan hormonal, dan perubahan metabolik yang dapat memengaruhi perkembangan kehamilan.

Hal-hal yang tidak menyebabkan keguguran

Seorang ibu hamil berkumpul bersama teman-teman.
ilustrasi ibu hamil (pexels.com/Kampus Production)

Sejumlah aktivitas berikut tidak terbukti menyebabkan keguguran pada kehamilan normal.

  • Berjalan dan aktivitas sehari-hari

Berjalan, naik tangga, bekerja, atau melakukan aktivitas rumah tangga ringan tidak menyebabkan keguguran. Kehamilan yang sehat umumnya mampu beradaptasi dengan aktivitas normal sehari-hari.

  • Olahraga ringan hingga sedang

Aktivitas fisik selama kehamilan memiliki banyak manfaat. Olahraga yang sesuai selama kehamilan dapat membantu menjaga kesehatan ibu dan mengurangi berbagai komplikasi kehamilan. Olahraga ringan hingga sedang tidak terbukti meningkatkan risiko keguguran.

  • Hubungan seksual

Pada kehamilan normal tanpa komplikasi tertentu, hubungan seksual tidak menyebabkan keguguran. Janin terlindungi oleh cairan ketuban, dinding rahim, dan serviks yang tertutup rapat. Dokter biasanya hanya menyarankan pembatasan jika terdapat kondisi medis tertentu.

  • Stres sehari-hari

Banyak perempuan menyalahkan diri sendiri setelah mengalami keguguran karena merasa terlalu lelah atau stres. Namun, bukti ilmiah menunjukkan bahwa stres sehari-hari yang umum dialami kebanyakan orang tidak menyebabkan keguguran. Akan tetapi, menjaga kesehatan mental tetap penting bagi kesejahteraan ibu dan janin.

  • Makanan pedas

Makanan pedas mungkin menyebabkan rasa tidak nyaman pada sebagian ibu hamil, tetapi tidak terbukti menyebabkan keguguran.

  • Mengangkat barang ringan

Membawa tas belanja, mengangkat barang ringan, atau aktivitas fisik normal sehari-hari tidak menyebabkan keguguran pada kehamilan yang sehat.

Mengapa banyak perempuan menyalahkan dirinya sendiri?

Salah satu dampak emosional terbesar dari keguguran adalah munculnya rasa bersalah.

Banyak perempuan terus mengingat apa yang mereka makan, aktivitas yang dilakukan, atau keputusan kecil yang mereka buat sebelum keguguran terjadi. Padahal, dalam sebagian besar kasus, penyebabnya berada di luar kendali mereka.

Studi menekankan bahwa stigma dan kesalahpahaman tentang keguguran masih sangat umum. Banyak orang menganggap keguguran terjadi karena ibu melakukan sesuatu yang salah, padahal bukti ilmiah tidak mendukung anggapan tersebut. Karena itu, dukungan emosional sama pentingnya dengan penanganan medis.

Kehamilan pertama tidak otomatis lebih rentan mengalami keguguran dibanding kehamilan berikutnya. Risiko keguguran terutama dipengaruhi oleh faktor biologis seperti kelainan kromosom, usia ibu, kondisi kesehatan tertentu, dan beberapa faktor gaya hidup.

Keguguran adalah kondisi medis yang relatif umum dan dalam banyak kasus terjadi karena faktor yang berada di luar kendali ibu. Memahami fakta ini dapat membantu mengurangi rasa bersalah yang sering muncul serta mendorong perempuan untuk mencari dukungan medis dan emosional yang tepat.

Referensi

American College of Obstetricians and Gynecologists. "Early Pregnancy Loss." Washington, DC: ACOG, 2024. Diakses Juni 2026.

Maria C Magnus et al., “Role of Maternal Age and Pregnancy History in Risk of Miscarriage: Prospective Register Based Study,” BMJ 364 (March 20, 2019): l869, https://doi.org/10.1136/bmj.l869.

Siobhan Quenby et al., “Miscarriage Matters: The Epidemiological, Physical, Psychological, and Economic Costs of Early Pregnancy Loss,” The Lancet 397, no. 10285 (April 27, 2021): 1658–67, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(21)00682-6.

National Health Service. "Miscarriage." London: NHS, 2025. Diakses Juni 2026.

World Health Organization. "WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour." Geneva: WHO, 2020. Diakses Juni 2026.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
Delvia Y Oktaviani
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More