Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cara Membersihkan Pernapasan Usai Terpapar Polusi
ilustrasi perkotaan, polusi udara, debu, asap, pakai masker (magnific.com/jcomp)
  • Paru-paru memiliki mekanisme alami untuk mengeluarkan sebagian kotoran, tetapi tidak ada minuman atau produk detoks yang bisa membersihkan paru-paru dari polutan.

  • Cara paling disarankan adalah mengurangi paparan berikutnya: pantau kualitas udara, atur kegiatan luar ruang, dan buat udara di rumah lebih bersih.

  • Batuk yang menetap, mengi, sesak, atau nyeri dada setelah terpapar polusi perlu diperhatikan dan, bila tidak membaik, diperiksakan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sepulang dari perjalanan yang penuh debu dan asap kendaraan, tenggorokan bisa terasa gatal dan napas terasa kurang nyaman. Wajar jika muncul keinginan untuk membersihkan paru-paru.

Sayangnya, paru-paru tidak bisa dibersihkan layaknya benda kotor. Tubuh sudah memiliki mekanisme untuk membersihkan saluran napas, sementara yang bisa kamu lakukan adalah mengurangi paparan lanjutan dan menjaga udara yang dihirup tetap lebih bersih.

1. Pahami cara tubuh membersihkan saluran napas

Lapisan lendir di saluran napas menangkap sebagian debu dan kotoran. Silia, yaitu rambut sangat halus di saluran napas, mendorong lendir itu ke arah tenggorokan agar bisa dikeluarkan lewat batuk atau tertelan. Walaupun mekanisme ini membantu tubuh, tetapi bukan berarti semua polutan langsung keluar. Partikel halus seperti PM2.5 dapat masuk jauh ke paru-paru, dan penelitian menunjukkan paparan partikel dapat mengganggu fungsi pembersihan alami tersebut.

Karena itu, tidak ada cara instan untuk mengeluarkan semua partikel yang sudah terhirup. Jika paparan terjadi berulang atau sering, langkah utama adalah mengurangi paparan berikutnya, bukan mencari produk "pembersih" paru.

2. Kurangi paparan sejak masih di luar rumah

Periksa informasi kualitas udara di wilayahmu sebelum beraktivitas. Saat polusi tinggi, batasi atau kurangi waktu di luar, tunda olahraga berat, hindari asap rokok, atau pilih rute yang tidak melewati jalan padat kendaraan.

Kalau kamu harus berada di luar saat kualitas udara sangat buruk, respirator yang pas menutup hidung dan mulut (misalnya N95, KN95, atau KF94) dapat membantu mengurangi paparan partikel. Masker kain atau masker bedah tidak dirancang untuk menyaring partikel halus dengan perlindungan setara.

Respirator tidak menyaring semua jenis gas, sehingga tetap penting membatasi waktu di udara buruk.

3. Siapkan ruang dengan udara lebih bersih di rumah

ilustrasi kedua orang tua yang sedang mengawasi anak bermain (pexels.com/Gustavo Fring)

Saat kualitas udara luar sedang buruk, sediakan satu ruangan yang bisa ditutup dari udara luar. Jika tersedia, gunakan penjernih udara dengan filter HEPA dan kapasitas yang sesuai ukuran ruangan. Filter pada sistem AC sentral atau ventilasi dapat ditingkatkan, misalnya ke MERV 13, jika sistemnya memang kompatibel.

Walaupun tidak menghilangkan semua, tetapi penyaringan dapat membantu mengurangi polutan dalam ruangan. Hindari alat yang menghasilkan ozon karena gas tersebut dapat mengiritasi paru-paru.

Kurangi pula sumber polusi di dalam rumah, seperti tidak boleh ada asap rokok, dan batasi pembakaran seperti lilin atau dupa ketika udara luar tercemar asap. Bila menggunakan filter, periksa dan ganti sesuai petunjuk produsennya.

4. Bersihkan debu yang menempel di tubuh dan pakaian

Setelah terpapar asap atau abu, mandi serta ganti pakaian dapat membantu membersihkan partikel yang menempel di kulit, rambut, dan kain. Ini berguna agar kotoran tidak terbawa ke ruangan atau kendaraan.

5. Jangan mengandalkan produk “detoks paru”

Teh, suplemen, inhaler garam, atau produk beraroma minyak esensial kerap dipasarkan sebagai pembersih paru-paru. Banyak klaim produk detoks tidak didukung bukti ilmiah yang cukup. Menghirup aerosol yang mengandung minyak juga berpotensi berbahaya bagi paru-paru.

Cukup minum dan menjaga pola hidup sehat dapat mendukung kesehatan tubuh secara umum, tetapi bukan cara untuk membilas partikel polusi dari paru-paru. Jika memiliki asma atau penyakit paru, tetap ikuti rencana pengobatan dari dokter.

6. Temui dokter jika keluhan menetap

ilustrasi konsultasi dokter (pexels.com/cottonbro studio)

Batuk, mengi, sesak napas, atau nyeri dada setelah terpapar polusi tidak sebaiknya diabaikan, terutama jika keluhan tidak membaik atau terasa makin berat.

Orang dengan asma, penyakit paru atau jantung, anak-anak, lansia, dan ibu hamil perlu lebih berhati-hati terhadap asap. Hubungi dokter jika muncul kesulitan bernapas, batuk yang tak kunjung berhenti, atau gejala lain yang menetap.

Jadi, paru-paru tidak bisa dibersihkan dengan satu minuman atau latihan tertentu. Perlindungan terbaik adalah mengurangi paparan, memperbaiki kualitas udara di sekitar, dan mencari pertolongan medis jika mengalami gangguan pernapasan yang menetap.

Referensi

American Lung Association, “How Your Lungs Work,” diakses 17 Oktober 2026.

Özgecan Kayalar et al., “Impact of Particulate Air Pollution on Airway Injury and Epithelial Plasticity: Underlying Mechanisms,” Frontiers in Immunology 15 (2024): 1324552, https://doi.org/10.3389/fimmu.2024.1324552.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Begini Upaya Sektor Kesehatan Tangani Polusi Udara,” diakses 17 Oktober 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “How to Protect Workers and the Public from Wildfire Smoke,” diakses 17 Oktober 2026.

U.S. Environmental Protection Agency, “Guide to Air Cleaners in the Home,” diakses 17 Oktober 2026.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Menkes Imbau Kelompok Rentan Batasi Aktivitas di Luar Rumah saat Kabut Asap,” diakses 17 Oktober 2026.

American Lung Association, “Can You Detox Your Lungs?,” diakses 17 Oktober 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Wildfire Smoke and People with Chronic Conditions,” diakses 17 Oktober 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article