Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cerebral Palsy dalam Angka: 6 Fakta yang Perlu Diketahui
ilustrasi cerebral palsy (magnific.com/magnific)
  • Cerebral palsy memengaruhi gerak, keseimbangan, dan postur dengan dampak berbeda tiap individu; sekitar 50 juta orang di dunia hidup dengan kondisi ini.

  • Prevalensi diperkirakan 1,6 per 1.000 kelahiran hidup di wilayah berpendapatan tinggi, sementara data terbatas di sejumlah wilayah lain menunjukkan hingga 3,4 per 1.000.

  • Sekitar 85–90 persen kasus berkaitan dengan perkembangan otak sebelum atau sekitar kelahiran; hingga 30 persen dapat melibatkan faktor genetik, dan terapi membantu fungsi sehari-hari.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Seorang anak dengan cerebral palsy mungkin mampu berjalan sendiri, sementara anak lain membutuhkan alat bantu untuk bergerak. Keduanya bisa memiliki kondisi yang sama, tetapi pengalaman dan dukungan yang dibutuhkan berbeda.

Cerebral palsy adalah kelompok gangguan yang memengaruhi gerak, keseimbangan, dan postur. Dampaknya tidak seragam pada setiap orang.

Dalam rangka Hari Cerebral Palsy Sedunia yang diperingati setiap 6 Oktober, berikut sejumlah fakta tentang cerebral palsy dalam angka.

6 Oktober: Hari Cerebral Palsy Sedunia dimulai sejak tahun 2012

Hari Cerebral Palsy Sedunia atau World Cerebral Palsy Day diperingati setiap 6 Oktober. Gerakan ini dimulai pada 2012 oleh Cerebral Palsy Alliance di Australia dan United Cerebral Palsy di Amerika Serikat (AS).

Kampanye tahun ini mengusung pesan #UniqueANDUnited, yang mengajak masyarakat mendengar suara orang dengan cerebral palsy dan mendukung perubahan menuju lingkungan yang lebih inklusif.

Sekitar 50 juta orang hidup dengan cerebral palsy

Situs World Cerebral Palsy Day menyebut sekitar 50 juta orang hidup dengan cerebral palsy di dunia. Angka ini berasal dari analisis Global Burden of Disease yang memperkirakan kebutuhan rehabilitasi.

Studi itu menghitung sekitar 50 juta orang dengan cerebral palsy yang membutuhkan perawatan rehabilitasi jangka panjang, menggunakan pemodelan data kesehatan global.

Prevalensi kelahiran berbeda antarwilayah

ilustrasi seorang ibu yang sedang berjalan-jalan dengan anaknya yang mengidap cerebral palsy (pexels.com/RDNE Stock project)

Tinjauan sistematis terhadap data dari 41 wilayah di 27 negara memperkirakan prevalensi cerebral palsy sekitar 1,6 per 1.000 kelahiran hidup di wilayah berpendapatan tinggi, termasuk kasus yang muncul setelah masa neonatal.

Di sejumlah wilayah berpendapatan rendah dan menengah, data yang masih terbatas menunjukkan prevalensi cerebral palsy sebelum atau sekitar kelahiran bisa mencapai 3,4 per 1.000 kelahiran hidup.

Peneliti mencatat data di negara berpendapatan rendah dan menengah masih terbatas, sehingga tren di wilayah tersebut belum dapat diukur dengan baik.

Sekitar 85–90 persen kasus berkaitan dengan perkembangan otak sebelum atau sekitar kelahiran

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengelompokkan sekitar 85–90 persen kasus cerebral palsy sebagai cerebral palsy kongenital, yang berkaitan dengan perkembangan otak atau kerusakan pada otak yang sedang berkembang sebelum atau sekitar kelahiran.

Sebagian kecil kasus merupakan cerebral palsy yang didapat setelah 28 hari pertama kehidupan, misalnya setelah terjadi infeksi atau cedera kepala.

Anggapan bahwa cerebral palsy selalu terjadi karena bayi kekurangan oksigen saat persalinan tidak tepat. Kekurangan oksigen saat proses kelahiran hanya menjelaskan sebagian kecil kasus. Penyebab cerebral palsy dapat muncul melalui berbagai jalur selama kehamilan, kelahiran, atau masa awal kehidupan, dan pada banyak kasus penyebab pastinya tidak diketahui.

Hingga 30 persen dapat memiliki kontribusi genetik

Tinjauan klinis dalam jurnal The Lancet pada 2025 menyebut faktor genetik berkontribusi pada hingga 30 persen kasus cerebral palsy. Angka ini tidak berarti seluruh kasus diwariskan langsung dari orang tua. Cerebral palsy juga dapat berkaitan dengan gangguan perkembangan otak, cedera otak, dan berbagai faktor lain.

Penelitian terbaru menyebut bahwa cerebral palsy tidak selalu dapat dijelaskan hanya dari kejadian saat persalinan.

Dalam satu surveilans di AS, 58,4 persen anak dengan cerebral palsy dapat berjalan mandiri

ilustrasi memeluk anak (pexels.com/RDNE Stock project)

Pada surveilans di lima komunitas di AS, sekitar 58,4 persen anak usia 8 tahun dengan cerebral palsy tercatat dapat berjalan mandiri. Sekitar 72,1 persen memiliki tipe spastik (otot terlalu kaku akibat gangguan pada otak yang mengatur gerakan).

Cerebral palsy sendiri tidak memburuk akibat kerusakan otak yang terus berkembang. Namun, kebutuhan dan gejala seseorang dapat berubah sepanjang hidup.

Tidak ada obat yang dapat menghilangkan cerebral palsy, tetapi terapi dan dukungan yang disesuaikan dapat membantu fungsi dan partisipasi sehari-hari.

Diagnosis dapat dilakukan sejak dini, dapat dikenali sejak usia 3 bulan pada sebagian bayi melalui evaluasi yang tepat.

Angka-angka di atas menunjukkan cerebral palsy bukan kondisi dengan satu penyebab atau satu gambaran. Pendekatan yang individual—termasuk akses pada evaluasi, terapi, pendidikan, dan lingkungan yang inklusif—tetap penting.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention, “About Cerebral Palsy,” diakses 7 Oktober 2026.

World Cerebral Palsy Day, “About World Cerebral Palsy Day,” diakses 7 Oktober 2026.

Alarcos Cieza et al., “Global Estimates of the Need for Rehabilitation Based on the Global Burden of Disease Study 2019: A Systematic Analysis for the Global Burden of Disease Study 2019,” The Lancet 396, no. 10267 (2021): 2006–17, https://doi.org/10.1016/S0140-6736(20)32340-0.

Sarah McIntyre et al., “Global Prevalence of Cerebral Palsy: A Systematic Analysis,” Developmental Medicine & Child Neurology 64, no. 12 (2022): 1494–1506, https://doi.org/10.1111/dmcn.15346.

Mary E. Patrick et al., “Prevalence of Cerebral Palsy Among Children Aged 4 and 8 Years in 5 US Communities in 2022,” Pediatrics Open Science 2, no. 2 (2026): 1–9, https://doi.org/10.1542/pedsos.2026-001428.

Centers for Disease Control and Prevention, “Risk Factors for Cerebral Palsy,” diakses 7 Oktober 2026.

Iona Novak, Michelle Jackman, Megan Finch-Edmondson, and Michael Fahey, “Cerebral Palsy,” The Lancet 406, no. 10499 (2025): 174–88, https://doi.org/10.1016/S0140-6736(25)00686-5.

Curated For You

Editorial Team

Related Article