Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Stop Bakar Sampah! Ini Dampaknya pada Kesehatan dan Lingkungan
ilustrasi asap pembakaran sampah yang terlihat di jalanan (IDN Times/Ayu Afria)
  • Membakar sampah dapat menghasilkan partikel halus, gas iritan, karbon monoksida, logam berat, serta zat beracun seperti dioksin dan furan.

  • Dampaknya bisa berupa mata perih, batuk, sesak, asma kambuh, sakit kepala, mual, hingga peningkatan risiko gangguan jantung dan paru pada kelompok rentan.

  • Membakar sampah juga mencemari udara, tanah, dan air melalui asap serta abu sisa pembakaran, sehingga solusi terbaik adalah mengurangi, memilah, mengomposkan, mendaur ulang, dan membuang sampah lewat sistem yang aman.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Membakar sampah sering dianggap cara cepat untuk menyingkirkan tumpukan sampah, karena setelah api padam sampah berkurang. Namun banyak yang hilang sebenarnya berubah bentuk. Sebagian menjadi asap, sebagian menjadi abu, dan sebagian lagi menyebar sebagai polutan ke udara, tanah, atau air.

Sampah rumah tangga biasanya merupakan campuran berbagai bahan—plastik, kertas, kain, sisa makanan, kemasan, karet, styrofoam, popok, baterai kecil, bahan kimia rumah tangga, dan elektronik—sehingga pembakarannya berpotensi mencemari udara dan membahayakan kesehatan serta lingkungan, terutama jika bahan yang dibakar beragam.

1. Asap dapat menembus jauh ke paru‑paru

Partikel halus (PM2.5) yang dihasilkan saat membakar sampah sangat kecil, sehingga mampu mencapai bagian terdalam paru‑paru dan sebagian bahkan masuk ke aliran darah.

Partikel berukuran di bawah 10 mikrometer paling berbahaya karena dapat menembus paru dan memengaruhi fungsi paru serta jantung.

Paparan asap dalam jangka pendek dapat menimbulkan iritasi seperti mata perih, hidung berair, tenggorokan gatal, batuk, sesak napas, rasa berat di dada, dan sakit kepala.

Bagi orang yang punya asma, bronkitis kronis, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), atau penyakit jantung, asap bisa memicu kekambuhan atau memperburuk gejala.

Disebutkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), polusi udara ambien, termasuk partikel halus, berkontribusi pada kematian dini akibat penyakit jantung iskemik, stroke, PPOK, infeksi saluran napas bawah akut, dan kanker paru.

2. Membakar sampah bisa menghasilkan zat beracun

Pembakaran sampah di halaman, pinggir jalan, atau lahan kosong biasanya berlangsung pada suhu rendah dan tidak terkontrol, sehingga pembakaran tidak sempurna dan melepaskan polutan yang lebih berbahaya. Praktik ini dapat menghasilkan dioksin dalam jumlah signifikan; dioksin dan senyawa serupa adalah bahan kimia toksik yang terbentuk dari aktivitas manusia termasuk pembakaran tertentu.

WHO juga menyatakan bahwa pembakaran terbuka atau insinerasi yang tidak efisien dapat melepaskan zat berbahaya seperti dioksin dan furan, yang persisten di lingkungan dan dapat masuk ke rantai makanan.

Plastik khususnya menjadi masalah besar. Studi dalam jurnal Annals of Global Health menunjukkan pembakaran sampah campuran yang mengandung plastik menghasilkan emisi gas dan residu abu yang bersifat toksik bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

3. Abu sisa pembakaran tetap mencemari lingkungan

ilustrasi membakar sampah (pexels.com/Lisa from Pexels)

Setelah sampah dibakar, abu yang tersisa bisa mengandung logam berat, mikroplastik, dan senyawa kimia dari bahan yang terbakar. Saat hujan, partikel‑partikel ini mudah terbawa ke tanah, selokan, sungai, atau sumber air sehingga mencemari media lain selain udara.

Penelitian tentang pembakaran terbuka sampah plastik menunjukkan dampaknya meluas bukan hanya lewat asap, tetapi juga melalui abu dan residu yang mencemari tanah dan air.

Karena itu, membakar sampah bukan menyelesaikan masalah, melainkan memindahkannya menjadi polusi yang lebih sulit dikendalikan.

Lingkungan sekitar juga merasakan dampaknya secara langsung. Contohnya tanaman tertutup abu, rumah dan pakaian berbau asap, hewan peliharaan menghirup udara tercemar, dan kelompok rentan seperti bayi, lansia, atau penderita asma menjadi lebih berisiko

4. Membakar sampah memperburuk perubahan iklim

Pembakaran sampah secara terbuka melepaskan karbon dioksida, metana dari sistem pengelolaan sampah yang buruk, serta karbon hitam (jelaga)—partikel yang meski berumur pendek namun punya efek pemanasan yang kuat.

Penelitian tentang pembakaran sampah plastik menyoroti bahwa pembakaran terbuka sampah campuran merupakan sumber polusi udara penting dan turut memperparah dampak lingkungan serta kesehatan. Beberapa jenis plastik juga dapat menghasilkan emisi karbon hitam yang signifikan saat dibakar.

United Nations Environment Programme (UNEP) dalam Global Waste Management Outlook 2024 menekankan perlunya beralih ke pengelolaan sampah yang lebih sirkular, yaitu dengan cara mengurangi produksi sampah, meningkatkan pemilahan, dan memaksimalkan pemulihan material.

5. Siapa yang paling rentan terdampak?

Asap dari pembakaran sampah dapat mengganggu siapa saja, tetapi risikonya lebih tinggi pada kelompok berikut:

  • Bayi dan anak-anak.

  • Lansia.

  • Ibu hamil

  • Pasien asma, PPOK, atau alergi saluran napas.

  • Pasien penyakit jantung.

  • Orang dengan diabetes atau penyakit ginjal kronis.

  • Pekerja yang beraktivitas di luar ruangan.

  • Warga yang tinggal dekat lokasi pembakaran berulang.

Asap dapat mengiritasi mata, hidung, tenggorokan, dan paru‑paru, serta menyebabkan batuk, mengi, atau kesulitan bernapas.

Kelompok dengan penyakit jantung atau paru, anak‑anak, ibu hamil, dan lansia sebaiknya lebih waspada terhadap paparan asap.

6. Alternatif selain membakar sampah

Warga Ciputat membuat puluhan komposter untuk mengatasi sampah. (IDN Times/Muhamad Iqbal)

Membakar sampah bukan solusi aman, terutama di daerah tanpa layanan angkut yang memadai. Perubahan yang lebih sehat bisa dimulai dari rumah.

  • Langkah di rumah

Pisahkan sampah organik dan anorganik; olah sisa makanan, daun, dan sampah dapur menjadi kompos jika memungkinkan; pilah barang yang masih layak pakai atau dapat didaur ulang (botol, kardus, kertas, beberapa plastik).

Kurangi sampah dengan membawa botol minum, wadah makan, dan tas belanja sendiri serta menghindari kemasan sekali pakai.

  • Jika tidak bisa diolah sendiri

Manfaatkan layanan pengangkutan resmi atau titik kumpul setempat.

WHO menekankan pentingnya pengelolaan sampah padat yang aman karena pembuangan dan pembakaran yang buruk dapat mencemari udara, tanah, dan air serta meningkatkan risiko kesehatan masyarakat.

  • Saat ada pembakaran di sekitar

Kurangi paparan—tutup jendela, jauhkan anak dari sumber asap, batasi aktivitas luar ruangan, dan pakai masker respirator yang rapat (misalnya N95) jika asap pekat dan kamu harus keluar rumah.

Orang dengan asma sebaiknya memastikan obat rutin atau inhaler tersedia sesuai anjuran dokter.

7. Kapan harus mencari bantuan medis?

Segera pergi ke fasilitas kesehatan terdekat jika setelah terpapar asap muncul sesak napas, mengi, nyeri dada, batuk hebat, pusing berat, mual parah, mata sangat perih, atau serangan asma yang tidak membaik dengan obat biasa.

Anak kecil, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit paru atau jantung sebaiknya tidak menunggu sampai gejala menjadi parah.

Paparan asap sekali dua kali mungkin tampak ringan, tetapi pembakaran berulang di lingkungan dapat menimbulkan beban polusi berkali‑kali. Keluhan yang sering kambuh—seperti batuk berulang, tenggorokan iritasi, atau frekuensi serangan asma yang meningkat—tidak boleh dianggap normal dan perlu ditindaklanjuti oleh tenaga medis.

Membakar sampah bukan cara aman untuk mengatasi sampah. Asap yang dihasilkannya mengandung partikel halus, gas beracun, logam berat, dioksin, furan, dan jelaga yang langsung mengganggu kesehatan (batuk, sesak, mata perih, sakit kepala, eksaserbasi asma) serta, dalam jangka panjang, memperburuk kualitas udara dan risiko penyakit pada kelompok rentan.

Abu dan residu pembakaran juga mencemari tanah dan air, sementara emisi seperti karbon dioksida, metana, dan jelaga turut mempercepat perubahan iklim.

Solusi yang lebih baik adalah mengurangi produksi sampah, memilah, mengomposkan, mendaur ulang, dan memperkuat sistem pengelolaan sampah yang aman.

Referensi

World Health Organization (WHO). “Open Waste Burning: Sectoral Solutions for Air Pollution and Climate Change.” Diakses Juli 2026.

WHO “Ambient (Outdoor) Air Pollution.” Diakses Juli 2026.

United States Environmental Protection Agency (EPA). “Health and Environmental Effects of Particulate Matter (PM).” Diakses Juli 2026.

EPA. “Human Health: Backyard Burning.” Diakses Juli 2026.

Pathak, Gauri, et al. “The Open Burning of Plastic Wastes Is an Urgent Global Health Issue.” Annals of Global Health 90, no. 1 (2024).

Pathak, Gauri, et al. “Plastic Pollution and the Open Burning of Plastic Wastes.” Global Environmental Change 80 (2023): 102648.

United Nations Environment Programme and International Solid Waste Association. "Global Waste Management Outlook 2024." Diakses Juli 2026.

Wilgus, Michael L., et al. “Clearing the Air: Understanding the Impact of Wildfire Smoke on Asthma and COPD.” Annals of the American Thoracic Society 21, no. 2 (2024).

Curated For You

Editorial Team

Related Article