World Health Organization. “Physical Activity.” Diakses Juli 2026.
American College of Sports Medicine. “Physical Activity Guidelines.” Diakses Juli 2026.
Andrade-Souza, Victor A., Thaysa Ghiarone, Andre Sansonio, Kleiton A. Santos Silva, Fabiano Tomazini, Lucyana Arcoverde, Jackson Fyfe, et al. “Exercise Twice-a-Day Potentiates Markers of Mitochondrial Biogenesis in Men.” FASEB Journal 34, no. 1 (2020): 1602–1619. doi:10.1096/fj.201901207RR.
Ghiarone, Thaysa, Victor A. Andrade-Souza, Sara K. Learsi, Fabiano Tomazini, Tiago Ataide-Silva, Andre Sansonio, M. P. Fernandes, et al. “Twice-a-Day Training Improves Mitochondrial Efficiency, but Not Mitochondrial Biogenesis, Compared with Once-Daily Training.” Journal of Applied Physiology (2019). doi:10.1152/japplphysiol.00060.2019.
Casado, Arturo, Fernando González-Mohíno, José María González-Ravé, and Carl Foster. “Training Periodization, Methods, Intensity Distribution, and Volume in Highly Trained and Elite Distance Runners: A Systematic Review.” International Journal of Sports Physiology and Performance 17, no. 6 (2022): 820–833. doi:10.1123/ijspp.2021-0435.
Stöggl, Thomas L., and Billy Sperlich. “The Training Intensity Distribution among Well-Trained and Elite Endurance Athletes.” Frontiers in Physiology 6 (2015): 295. doi:10.3389/fphys.2015.00295.
Nielsen, Rasmus Ø., Erik T. Parner, Ellen A. Nohr, Henrik Sørensen, Martin Lind, and Sten Rasmussen. “Excessive Progression in Weekly Running Distance and Risk of Running-Related Injuries: An Association Which Varies According to Injury Type.” Journal of Orthopaedic & Sports Physical Therapy 44, no. 10 (2014): 739–747. doi:10.2519/jospt.2014.5164.
Saragiotto, Bruno T., Luiz C. Yamato, Tiê Parma Yamato, Alexandre D. Lopes, and Chris G. Maher. “What Are the Main Risk Factors for Running-Related Injuries?” Sports Medicine 44 (2014): 1153–1163.
Mountjoy, Margo, Kathryn E. Ackerman, David M. Bailey, Louise M. Burke, Naama Constantini, Anthony C. Hackney, Ida Aliisa Heikura, et al. “2023 International Olympic Committee’s (IOC) Consensus Statement on Relative Energy Deficiency in Sport (REDs).” British Journal of Sports Medicine 57 (2023): 1073–1097. doi:10.1136/bjsports-2023-106994.
Kaczmarek, Filip, et al. “Sleep and Athletic Performance: A Multidimensional Review of Physiological and Molecular Mechanisms.” Journal of Clinical Medicine 14, no. 21 (2025): 7606.
Adakah Manfaat Lari Dua Kali Sehari?

Lari dua kali sehari bisa bermanfaat, terutama untuk pelari yang sudah punya dasar latihan dan ingin menambah volume tanpa membuat satu sesi terlalu panjang.
Manfaatnya bukan karena “makin sering pasti makin sehat”, melainkan karena volume, intensitas, jarak antarsesi, tidur, dan asupan makan diatur dengan baik.
Untuk pemula atau pelari yang sedang cedera, kurang tidur, sering kelelahan, atau sulit makan cukup, lari dua kali sehari lebih berisiko daripada menguntungkan.
Ada istilah double run atau lari dua kali sehari. Pagi easy run, sore lari lagi. Sekilas tampak produktif, ya?
Dua sesi lari dalam sehari bisa menjadi strategi latihan tertentu, tetapi bisa juga menjadi cara cepat menumpuk kelelahan kalau dilakukan tanpa perencanaan matang.
Memang ada manfaat lari dua kali sehari, tetapi tidak semua pelari membutuhkannya.Untuk kesehatan umum, rekomendasi umumnya adalah melakukan setidaknya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang atau 75 menit intensitas berat per minggu, ditambah latihan penguatan otot dua kali seminggu. Jadi, kalau cuma memenuhi rekomendasi kesehatan dasar, kamu tidak perlu lari dua kali sehari.
Table of Content
1. Lari dua kali sehari bisa membantu menambah volume latihan
Manfaat paling realistis dari lari dua kali sehari adalah membantu pelari menambah total jarak mingguan (mileage). Dalam latihan lari jarak jauh, volume latihan memang salah satu faktor penting, terutama pada pelari yang sudah cukup terlatih.
Tinjauan sistematis tentang pelari jarak jauh elite menunjukkan bahwa pelari level tinggi biasanya mengatur latihan dengan periodisasi, kombinasi hari berat dan ringan, serta porsi besar latihan intensitas rendah.
Namun, ini perlu ditafsirkan secara hati-hati. Pelari elite hidupnya memang dibangun di sekitar latihan, makan, tidur, dan pemulihan. Pelari rekreasional biasanya masih harus bekerja, begadang karena deadline, mengurus rumah tangga, dan kadang lari dalam kondisi mental sudah tidak karuan. Jadi, yang bisa diikuti adalah volume lari boleh naik, asalkan tubuh diberi kesempatan beradaptasi.
Lari dua kali sehari bisa membantu ketika satu sesi panjang terasa terlalu berat. Misalnya, daripada memaksakan 12 km sekaligus saat tubuh belum siap, pelari yang sudah cukup terbiasa bisa membagi hari menjadi 8 km pagi dan 4 km sore. Beban total tetap naik, tetapi tekanan dalam satu sesi bisa lebih terkendali.
2. Dampak lari dua kali sehari terhadap adaptasi mitokondria dan oksidasi lemak
Beberapa penelitian olahraga menunjukkan bahwa latihan dua kali sehari dapat memengaruhi adaptasi di tingkat otot. Studi menemukan bahwa latihan dua kali sehari meningkatkan beberapa penanda yang berkaitan dengan biogenesis mitokondria dan oksidasi lemak dibandingkan pendekatan sekali sehari dalam kondisi tertentu. Mitokondria sering disebut sebagai “pembangkit energi” sel, dan adaptasi mitokondria penting dalam olahraga ketahanan.
Studi lainnya melaporkan bahwa latihan dua kali sehari meningkatkan efisiensi mitokondria, meski tidak meningkatkan biogenesis mitokondria lebih besar dibanding latihan sekali sehari.
Akan tetapi, ada catatan penting. Banyak studi ini dilakukan dalam desain laboratorium yang terkontrol, tidak selalu langsung sama dengan rutinitas pelari rekreasional yang lari sebelum kerja, duduk seharian, lalu lari lagi setelah pulang.
Jadi, manfaat biologisnya mungkin ada, tetapi tidak otomatis muncul hanya karena kamu menambah sesi. Kalau sesi kedua terlalu keras, kurang makan, atau tidur berantakan, sinyal adaptasi bisa kalah oleh sinyal kelelahan.
3. Jangan jadikan sesi kedua ambisius

Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah menjadikan lari kedua sebagai sesi tambahan yang terlalus ambisius. Pagi sudah lari interval, sore masih lari tempo. Hari berikutnya kaki berat, lutut nyeri, tidur tidak nyenyak, lalu performa turun.
Pada pelari yang sudah siap, sesi kedua biasanya lebih aman jika dibuat sangat ringan. Tujuannya menambah volume aerobik. Banyak model latihan endurance menempatkan porsi besar latihan pada intensitas rendah, sementara sesi intensitas sedang dan tinggi hanya menjadi bagian kecil dari total latihan.
Tinjauan tentang distribusi intensitas pada atlet endurance menunjukkan pola umum sekitar 80 persen latihan dilakukan pada intensitas rendah, sisanya pada intensitas lebih tinggi.
Sederhananya, kalau pagi kamu sudah latihan berat, sore sebaiknya bukan sesi berat lagi. Untuk kebanyakan pelari rekreasional, lari kedua lebih masuk akal berupa easy run pendek, joging santai, atau jalan cepat.
4. Ada risiko cedera karena beban naik terlalu cepat
Masalah terbesar dari lari dua kali sehari bukan cuma frekuensinya, tetapi juga lonjakan total beban.
Penelitian terhadap 874 pelari pemula menemukan bahwa mereka yang menaikkan jarak mingguan lebih dari 30 persen dalam periode dua minggu tampak lebih rentan mengalami cedera terkait jarak, seperti nyeri patellofemoral, iliotibial band syndrome, medial tibial stress syndrome, dan tendinopati patela.
Tinjauan sistematis tentang faktor risiko cedera lari juga menunjukkan bahwa riwayat cedera sebelumnya, jarak mingguan, dan frekuensi latihan dapat berkaitan dengan risiko cedera, walau hubungan ini kompleks dan tidak bisa disederhanakan.
Ini perlu diperhatikan karena lari dua kali sehari sering bikin pelari tidak sadar bahwa total beban mingguannya melonjak. Satu sesi tambahan 20–30 menit mungkin terasa kecil, tetapi jika dilakukan beberapa kali seminggu, total jarak bisa naik banyak. Otot mungkin rasanya kuat, tetapi tendon, tulang, dan jaringan ikat biasanya butuh waktu lebih lama untuk beradaptasi.
5. Kurang makan, kurang tidur, dan RED
Lari dua kali sehari juga menambah kebutuhan energi. Kalau latihan naik tetapi makan tidak ikut naik, tubuh bisa masuk ke kondisi ketersediaan energi rendah. Dalam dunia olahraga, kondisi yang lebih serius dikenal sebagai relative energy deficiency in sport (RED), yaitu gangguan kesehatan dan performa akibat energi yang tersedia tidak cukup untuk menopang fungsi tubuh dan beban latihan.
Konsensus International Olympic Committee (IOC) 2023 menjelaskan bahwa RED dapat memengaruhi kesehatan dan performa atlet perempuan maupun laki-laki.
Pada pelari, tanda yang perlu diwaspadai antara lain lelah terus-menerus, performa turun, sering sakit, cedera berulang, suasana hati memburuk, tidur terganggu, dan pada perempuan bisa muncul gangguan siklus menstruasi. Ini merupakan sinyal bahwa tubuh tidak mendapatkan cukup pemulihan.
Tidur juga tidak bisa dinegosiasikan. Tinjauan tentang tidur dan performa atlet menyebut tidur sebagai bagian penting dari regenerasi jaringan, adaptasi latihan, fungsi kognitif, performa, dan pencegahan cedera. Kurang tidur dapat mengganggu pemulihan, meningkatkan rasa lelah, dan menurunkan performa latihan berikutnya.
6. Siapa yang mungkin cocok mencoba lari dua kali sehari?

Lari dua kali sehari lebih masuk akal untuk pelari yang sudah punya fondasi. Misalnya, kamu sudah konsisten lari beberapa kali seminggu selama beberapa bulan, tidak sedang cedera, bisa tidur cukup, dan makanmu tidak berantakan.
Strategi ini juga lebih cocok saat fase membangun base atau volume, bukan saat tubuh sedang sangat lelah menjelang lomba.
Sebaliknya, kamu sebaiknya tidak buru-buru mencoba double run jika baru mulai lari, masih sering nyeri lutut atau tulang kering, baru kembali setelah cedera, sedang kurang tidur, atau merasa harus lari dua kali sehari untuk membakar kalori makanan. Kalau motivasinya sudah bercampur rasa bersalah terhadap makan atau berat badan, itu tanda kamu perlu berhenti sejenak dan mengevaluasi hubungan dengan latihan.
Lari dua kali sehari juga tidak wajib untuk menjadi pelari yang sehat. Bagi banyak orang, satu sesi lari yang konsisten, ditambah latihan kekuatan, tidur cukup, dan progres bertahap jauh lebih bernilai daripada dua sesi lari yang membuat tubuh terus-menerus kelelahan.
7. Cara aman mencoba lari dua kali sehari
Mulailah dari satu hari double run per minggu. Sesi pertama bisa berupa latihan utama, sedangkan sesi kedua cukup 15–25 menit sangat santai. Beri jarak beberapa jam antar sesi agar tubuh punya waktu makan, minum, dan menurunkan stres fisiologis.
Jangan langsung menambah dua atau tiga hari double run. Pertahankan total kenaikan jarak mingguan tetap konservatif. Mengingat studi pada pelari pemula menunjukkan peningkatan lebih dari 30 persen dalam dua minggu berkaitan dengan risiko cedera tertentu, pendekatan yang lebih aman adalah menaikkan volume perlahan dan lihat respons tubuh selama beberapa minggu.
Aturan sederhananya, sesi kedua harus terasa seperti kamu masih bisa ngobrol. Kalau sore hari kakimu terasa berat, langkah berubah, atau nyeri makin jelas saat lari, ganti dengan jalan kaki atau istirahat.
8. Contoh pola yang lebih aman
Untuk pelari rekreasional yang sudah terbiasa lari, pola awal bisa seperti ini:
Hari | Latihan |
|---|---|
Senin | Istirahat atau latihan kekuatan ringan |
Selasa | Easy run |
Rabu | Sesi kualitas, misalnya interval atau tempo pendek |
Kamis | Easy run |
Jumat | Easy run pagi + easy jog pendek sore |
Sabtu | Istirahat atau latihan mobilitas |
Minggu | Long run |
Kuncinya jangan menaruh double run di atas minggu latihan yang sudah terlalu padat.
Lari dua kali sehari bisa bermanfaat, tetapi ini bergantung pada konteks. Untuk pelari berpengalaman, double run dapat membantu menambah volume, membagi beban latihan, dan memberi stimulus aerobik tambahan. Ada juga bukti bahwa latihan dua kali sehari dalam kondisi tertentu dapat memengaruhi adaptasi metabolik di otot.
Namun, untuk pelari pemula atau pelari yang sedang kurang tidur, kurang makan, sering cedera, atau belum konsisten, lari dua kali sehari bukan jalan pintas. Tubuh tidak menjadi lebih kuat hanya karena dipaksa lebih sering; tubuh menjadi lebih kuat ketika latihan dan pemulihan berjalan berpasangan.
Referensi






![[QUIZ] Cek Diet yang Mungkin Cocok untukmu Berdasarkan Golongan Darah](https://image.idntimes.com/post/20251130/blood-type-1968457_1280_88ef0813-f11a-42e3-9671-7d5bf0080d1b.png)






![[QUIZ] Dari Bentuk Fesesmu, Kami Bisa Tahu Kondisi Kesehatanmu](https://image.idntimes.com/post/20240130/10-9f789ea3d6b3618e22708cc779025bd6.jpg)








