Benarkah Gelombang Panas Mematikan? Ini Dampaknya bagi Tubuh Manusia

Belakangan ini, kita sering mendengar istilah gelombang panas (heatwave). Nyatanya, fenomena ini memang sedang melanda sebagian besar negara di Eropa Barat, seperti Inggris, Irlandia, Jerman, Polandia, hingga Prancis. Jika aktif ini media sosial, kamu mungkin akan melihat betapa kewalahannya warga dari negara-negara tersebut dalam menghadapi suhu panas ekstrem yang di luar batas wajar.
Dilansir DW, gelombang panas yang saat ini melanda Eropa Barat sendiri disebabkan oleh kubah panas (heat dome). Kubah panas tersebut terbentuk ketika sistem atmosfer bertekanan tinggi yang kuat bergerak lambat dari Afrika Utara dan memerangkap udara panas di Eropa, persis seperti tutup panci yang berisi air mendidih. Jika membahas soal gelombang panas, fenomena ini termasuk dalam bencana yang berbahaya. Namun, benarkah gelombang panas mematikan? Berikut penjelasannya!
1. Gelombang panas dapat bertahan selama beberapa Minggu

Banyak dari kita berpikir bahwa apa yang melanda Eropa sekarang gak lebih dari panas di Indonesia. Gak bisa dimungkiri, suhu musim panas di Indonesia memang lumayan bikin gerah, apalagi kelembaban yang tinggi bikin suhu terasa lebih panas dari yang sebenarnya. Namun, gelombang panas dan musim panas jelas adalah dua hal yang berbeda. Dilansir laman Direct Energy, gelombang panas terbentuk ketika udara bertekanan tinggi mengendap di lapisan atmosfer atas pada ketinggian sekitar 3–8 km dan gak bergerak. Hal ini menyebabkan udara panas turun.
Udara panas yang turun ini kemudian menciptakan gelembung udara yang memerangkap panas di dekat permukaan tanah. Alhasil, suhu yang biasanya hanya berkisar antara 14–23 derajat celsius melonjak hingga ke angka 40–44 derajat celsius seperti yang terjadi di Eropa saat ini. Kabar buruknya, gelombang panas merupakan periode panjang yang bisa bertahan selama berhari-hari, bahkan sampai berminggu-minggu. Gak sampai di situ, perubahan iklim yang terjadi saat ini juga diperkirakan akan membuat gelombang panas semakin sering terjadi pada masa mendatang.
2. Benarkah gelombang panas mematikan?

Banyak orang menyepelekan betapa bahayanya fenomena gelombang panas. Nyatanya, di Amerika Serikat, cuaca panas yang ekstrem menyebabkan lebih banyak kematian dibandingkan dengan gabungan bencana lain, seperti tornado, banjir, dan badai. Dilansir World Meteorological Organization, gelombang panas di Eropa telah memakan setidaknya 1.300 korban jiwa dan 150 juta orang terdampak. Namun, bagaimana gelombang panas bisa menyebabkan begitu banyak kematian?
Jadi, suhu normal tubuh manusia berkisar antara 36–37 derajat celsius. Ketika suhu lebih tinggi dari itu, tubuh akan melakukan pendinginan dengan mengeluarkan keringat. Namun, karena cuaca yang lembap, keringat gak menguap sehingga proses pendinginan jadi gak efektif. Tubuh kemudian akan mengalirkan lebih banyak darah ke kulit agar suhu panas bisa dilepaskan. Adapun, jika kondisi ini berlangsung lama, organ seperti usus akan kekurangan pasokan darah dan memicu dinding usus jadi lebih mudah ditembus (permeable). Alhasil, zat berbahaya seperti endotoksin yang seharusnya berada di dalam usus dapat bocor ke luar dan menyatu dengan aliran darah.
Kondisi ini kemudian menyebabkan peradangan dan kerusakan pada sejumlah organ penting, seperti hati dan ginjal. Selain itu, suhu udara yang terlalu panas juga dapat membuat jantung bekerja lebih keras dalam memompa darah ke seluruh tubuh. Ditambah lagi, berkurangnya cairan pada tubuh membuat irama jantung jadi gak beraturan. Pada mereka yang memiliki riwayat kardiovaskular, kondisi ini bisa memicu terjadinya serangan jantung.
3. Tips melindungi diri dari gelombang panas

Bertahan pada cuaca panas yang ekstrem memang gak mudah. Di Eropa sendiri, banyak warganya nekat membasahi pakaian demi menjaga agar suhu tubuh tetap dingin. Namun, membasahi tubuh saja sebenarnya gak cukup. Dilansir UNICEF, selama gelombang panas berlangsung, sebaiknya hindari untuk beraktivitas di luar ruangan. Tetaplah di rumah dan tutup jendela dengan tirai pada siang hari. Lalu, buka jendela pada malam hari untuk menjaga suhu di dalam rumah tetap dingin.
Jika harus keluar rumah, pastikan kamu mengaplikasikan tabir surya, menggunakan topi, dan payung sebagai pelindung dari sengatan udara panas. Bawa botol air dan handuk kecil untuk bisa minum serta mendinginkan tubuh. Jika udara dirasa terlalu panas, segera berlindung ke tempat terdekat yang memiliki pendingin ruangan.
Banyak orang kerap menyepelekan gelombang panas, beranggapan bahwa itu hanya cuaca panas biasa. Namun, gelombang panas jelas berbeda. Selama gelombang panas, suhu bisa meningkat hingga dua kali lipat dari suhu normal. Beberapa negara bahkan pernah menyentuh suhu hingga 50 derajat celsius selama periode gelombang panas berlangsung.
Referensi
“A Heat Wave”. International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC). Diakses pada Juli 2026.
“Heat Wave Safety Tips”. UNICEF. Diakses pada Juli 2026.
“Heatwave”. Direct Energy. Diakses pada Juli 2026.
“Here's What Happens to the Body in Extreme Temperatures and How Heat Becomes Deadly”. NPR. Diakses pada Juli 2026.
“Record-breaking Heat Spreads Through Europe”. World Meteorological Organization (WMO). Diakses pada Juli 2026.
“Why Europe Is Getting So Hot”. DW. Diakses pada Juli 2026.














![[QUIZ] Berdasarkan Masalah Kulitmu, Ini Suplemen yang Kamu Butuhkan](https://image.idntimes.com/post/20230525/screenshot-2023-05-25-153858-9aa8a1930a056acd32cd5a6d0f6a0a9e.png)




![[QUIZ] Cek Diet yang Mungkin Cocok untukmu Berdasarkan Golongan Darah](https://image.idntimes.com/post/20251130/blood-type-1968457_1280_88ef0813-f11a-42e3-9671-7d5bf0080d1b.png)

