Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

TPA Jatiwaringin Terbakar, Ini Risiko Asapnya bagi Kesehatan

TPA Jatiwaringin Terbakar, Ini Risiko Asapnya bagi Kesehatan
Kebakaran TPA Jatiwaringin (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)
Intinya Sih
  • Asap dari TPA yang terbakar berisiko karena sampah yang terbakar bisa menghasilkan partikel halus, gas iritan, senyawa organik volatil, logam berat, hingga polutan beracun seperti dioksin dan furan.

  • Keluhan yang bisa muncul meliputi mata perih, batuk, tenggorokan gatal, sesak, sakit kepala, mual, asma kambuh, dan perburukan penyakit jantung atau paru.

  • Anak-anak, lansia, ibu hamil, orang dengan asma/PPOK, penyakit jantung, diabetes, dan penyakit ginjal kronis perlu lebih ketat menghindari paparan asap.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Saat gunungan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) mengalami kebakaran, yang ikut terbakar bukan hanya daun kering atau bahan organik. Ada pula plastik, kain, karet, sisa makanan, popok, kemasan, kayu, logam, bahan kimia rumah tangga, dan berbagai material yang bercampur selama bertahun-tahun.

Asap tebal menjadi perhatian utama karena paparan semacam ini bisa langsung terasa di tubuh warga sekitar. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kebakaran TPA Jatiwaringin di Kabupaten Tangerang terjadi sejak 30 Juni 2026 dan menghasilkan asap tebal yang berdampak pada masyarakat sekitar.

Asap dari sampah terbakar bisa masuk ke saluran napas, mengiritasi mata dan tenggorokan, memperburuk asma, serta meningkatkan risiko pada orang yang punya penyakit paru atau jantung.

Table of Content

1. Asap TPA mengandung partikel halus yang bisa masuk jauh ke paru

1. Asap TPA mengandung partikel halus yang bisa masuk jauh ke paru

Salah satu komponen paling berbahaya dari asap kebakaran adalah partikel halus atau PM2.5. Ukurannya yang sangat kecil membuatnya bisa masuk jauh ke paru-paru dan memicu peradangan.

Paparan particulate matter dapat memperburuk penyakit jantung dan paru, memicu gejala pernapasan, serta meningkatkan risiko kunjungan ke fasilitas kesehatan, terutama pada kelompok rentan.

Saat TPA terbakar, paparan PM2.5 bisa lebih berisiko karena bahan yang terbakar sangat beragam. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut pembakaran terbuka sampah dapat menghasilkan polutan berbahaya dan paparan jangka pendek maupun panjang dapat menyebabkan batuk, iritasi kulit, penyakit pernapasan, dan dampak kesehatan lainnya.

Gejala yang bisa muncul dalam hitungan jam antara lain mata perih, hidung berair, tenggorokan gatal, batuk, dada terasa berat, mengi, atau napas terasa pendek.

Pada orang dengan asma atau penyakit paru kronis, asap bisa memicu kekambuhan yang lebih berat.

2. Sampah terbakar bisa menghasilkan gas dan zat beracun

Asap dari TPA berbeda dari asap kayu biasa. Pembakaran plastik, karet, tekstil, dan bahan lain dapat menghasilkan berbagai polutan, termasuk senyawa organik volatil, karbon monoksida, hidrokarbon aromatik polisiklik, logam berat, serta dioksin dan furan.

Pengelolaan sampah yang buruk, termasuk pembakaran terbuka atau insinerasi yang tidak efisien, dapat melepaskan zat berbahaya seperti dioksin dan furan.

Studi tentang pembakaran terbuka limbah plastik juga menekankan bahwa praktik ini dapat menghasilkan emisi gas dan residu abu yang berdampak toksik bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

Selain itu, TPA dapat menghasilkan gas dari penguraian bahan organik. Gas TPA (landfill gas) terutama terdiri dari metana dan karbon dioksida, tetapi juga bisa mengandung senyawa organik non metana dalam jumlah lebih kecil. Saat terjadi kebakaran, kombinasi gas, asap, dan partikel dari material sampah yang terbakar membuat kualitas udara di sekitar lokasi bisa memburuk dengan cepat.

3. Dampaknya bisa mengenai paru, jantung, dan tubuh secara umum

Helikopter BNPB melakukan water bombing untuk memadamkan kebakaran di TPA Jatiwaringin saat matahari terbenam dengan asap tebal di udara.
Helikopter water bombing BNPB bantu padamkan kebakaran di TPA Jatiwaringin (dok. BPBD Kabupaten Tangerang)

Efek asap kebakaran paling cepat biasanya terasa pada saluran napas. Asap kebakaran dapat mengiritasi mata, hidung, tenggorokan, dan paru, membuat seseorang batuk, mengi, atau sulit bernapas.

Anak-anak, orang dengan asma atau PPOK, penyakit jantung, diabetes, penyakit ginjal kronis, dan ibu hamil perlu lebih berhati-hati.

Paparan asap juga dapat memperberat penyakit jantung. Partikel halus bisa memicu stres oksidatif dan peradangan, yang pada orang rentan dapat berkontribusi pada nyeri dada, gangguan irama jantung, atau perburukan kondisi kardiovaskular.

Tinjauan ilmiah tentang asap kebakaran menunjukkan bahwa PM2.5 dari asap dapat memperburuk asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) serta meningkatkan penggunaan layanan kesehatan.

Gejala lain yang bisa muncul termasuk sakit kepala, mual, pusing, lelah, atau rasa tidak nyaman di dada.

Jika bau sangat menyengat, sebagian orang juga bisa merasa mual dan sulit tidur.

4. Siapa yang paling rentan?

Tidak semua orang bereaksi sama terhadap asap. Kelompok yang lebih rentan antara lain:

  • Bayi dan anak-anak.
  • Lansia.
  • Ibu hamil.
  • Orang dengan asma, PPOK, bronkitis kronis, atau riwayat pneumonia.
  • Orang dengan penyakit jantung.
  • Orang dengan diabetes atau penyakit ginjal kronis.
  • Pekerja lapangan, pemulung, petugas pemadam, dan warga yang harus beraktivitas dekat lokasi.
  • Orang yang tidak punya akses ke ruangan tertutup dengan udara lebih bersih.

Anak-anak lebih rentan karena paru-paru mereka masih berkembang dan mereka bernapas lebih cepat dibanding orang dewasa.

Lansia dan orang dengan penyakit kronis juga lebih mudah mengalami perburukan gejala saat kualitas udara buruk.

5. Cara melindungi diri dari asap TPA yang terbakar

Yang paling krusial adalah mengurangi atau menjauhi paparan asap.

Kalau asap masuk ke permukiman, sebisa mungkin tetap berada di dalam ruangan, tutup jendela dan pintu, serta kurangi aktivitas fisik berat.

Jika memungkinkan, buat ruang dengan udara lebih bersih di rumah, yaitu ruangan yang bisa ditutup dari udara luar dan menggunakan portable air cleaner atau filter untuk membantu menjaga udara di ruangan tersebut.

Jika harus keluar rumah, gunakan masker respirator yang lebih rapat seperti N95. Siapkan respirator N95 saat menghadapi asap kebakaran karena masker jenis ini dapat membantu menyaring partikel jika dipakai dengan benar. Masker kain atau masker bedah yang longgar tidak cukup efektif untuk menyaring partikel halus dari asap pekat.

Di rumah, hindari menambah polusi dalam ruangan. Jangan merokok, membakar obat nyamuk, menyalakan lilin, memakai pewangi ruangan berlebihan, atau memasak dengan asap banyak saat udara luar sedang buruk.

Kalau ada AC, gunakan mode resirkulasi jika tersedia.

Bersihkan debu atau abu dengan kain basah, bukan disapu kering, agar partikel tidak kembali terbang

Untuk orang dengan asma atau penyakit paru, pastikan obat rutin dan inhaler tersedia. Ikuti rencana pengobatan dari dokter. Jika gejala mulai memburuk, jangan menunggu sampai mengalami sesak berat.

Kapan harus segera ke dokter?

Mobil pemadam kebakaran dan petugas berupaya memadamkan api di area TPA Jatiwaringin yang tertutup asap tebal dan tumpukan sampah.
Kebakaran TPA Jatiwaringin (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Segera cari bantuan medis jika mengalami:

  • Sesak napas atau napas berbunyi yang tidak membaik.
  • Nyeri dada.
  • Bibir atau kuku tampak kebiruan.
  • Pusing berat, kebingungan, atau hampir pingsan.
  • Batuk berat atau batuk berdarah.
  • Demam tinggi setelah paparan asap.
  • Serangan asma yang tidak membaik dengan obat biasa.
  • Anak tampak lemas, napas cepat, atau sulit minum.
  • Ibu hamil mengalami sesak, pusing berat, atau gerak janin berkurang.

Keluhan ringan seperti mata perih atau tenggorokan gatal bisa membaik setelah menjauh dari asap. Namun, keluhan yang menetap, memburuk, atau terjadi pada kelompok rentan perlu diperiksa lebih cepat.

Asap dari TPA yang terbakar berbahaya karena sampah yang terbakar merupakan campuran banyak material. Paparannya dapat membawa partikel halus, gas iritan, senyawa organik volatil, logam berat, hingga polutan beracun seperti dioksin dan furan.

Dampaknya bisa berupa iritasi mata, batuk, sesak, asma kambuh, sakit kepala, mual, hingga perburukan penyakit paru dan jantung.

Pada warga yang tinggal di sekitar TPA Jatiwaringin, prioritaskan pengurangan paparan seperti tetap di dalam ruangan jika memungkinkan, tutup celah udara dari luar, gunakan penyaring udara jika tersedia, pakai masker N95 bila harus keluar, dan segera cari pertolongan medis jika muncul tanda bahaya.

Referensi

Badan Nasional Penanggulangan Bencana. “(UPDATE) Api Masih Berkobar di TPA Jatiwaringin, Penanganan Diperkuat Lewat Operasi Udara.” BNPB, 1 Juli 2026. Diakses Juli 2026.

World Health Organization. “Open Burning of Waste: Sectoral Solutions for Air Pollution and Climate Change.” Diakses Juli 2026.

United States Environmental Protection Agency. “Health and Environmental Effects of Particulate Matter (PM).” Diakses Juli 2026.

Centers for Disease Control and Prevention. “Safety Guidelines: Wildfires and Wildfire Smoke.” Diakses Juli 2026.

United States Environmental Protection Agency (EPA). “Wildfires and Indoor Air Quality.” Diakses Juli 2026.

EPA. “Basic Information about Landfill Gas.” Diakses Juli 2026.

Pathak, Gauri, et al. “The Open Burning of Plastic Wastes Is an Urgent Global Health Issue.” Annals of Global Health 90, no. 1 (2024).

Wilgus, Michael L., et al. “Clearing the Air: Understanding the Impact of Wildfire Smoke on Asthma and COPD.” Annals of the American Thoracic Society 21, no. 2 (2024).

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More