Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Ini yang Terjadi pada Tubuh jika Terkena Heatstroke, Waspadai!

Ini yang Terjadi pada Tubuh jika Terkena Heatstroke, Waspadai!
ilustrasi seseorang mengalami heatstroke (pexels.com/Liliana Drew)
Intinya Sih
  • Heatstroke terjadi saat suhu tubuh melonjak hingga sistem pendingin alami tubuh gagal bekerja.

  • Kondisi ini dapat merusak organ penting, seperti otak, jantung, ginjal, dan otot, jika tidak segera ditangani.

  • Mencegah heatstroke dapat dilakukan dengan menjaga tubuh tetap sejuk, cukup minum, dan menghindari panas berlebihan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Sengatan panas (heatstroke) merupakan kondisi serius ketika suhu tubuh melonjak ke tingkat yang berbahaya. Jika tidak diobati, ini bisa menyebabkan kerusakan otak, bahkan kematian, lho. Biasanya, heatstroke terjadi saat cuaca panas ekstrem atau gelombang panas terjadi.

Bayangkan termostat internal tubuh mengalami kerusakan akibat cuaca panas yang menyengat. Tubuh jadi tidak mampu mendinginkan diri meski keringat bercucuran dengan deras. Suhu tubuh normal manusia rata-rata sekitar 37 derajat celsius, tapi serangan panas bisa menyebabkan suhu tubuh naik hingga 40 derajat celsius atau lebih tinggi, seperti yang dijelaskan Mayo Clinic. Pada suhu ini, sistem internal tubuh gagal berfungsi sehingga meningkatkan risiko komplikasi serius, seperti kerusakan organ, kejang, bahkan kematian.

Gejalanya sendiri bisa muncul dengan cepat, mulai dari sakit kepala, pusing, mual, kebingungan, dan kehilangan kesadaran. Ini menjadi pertanda yang tidak boleh dianggap enteng, terutama jika menimpa lansia, anak-anak, dan mereka yang punya kondisi medis kronis. Namun, kamu bisa menerapkan tindakan pencegahan sederhana, seperti tetap berada di dalam ruangan selama cuaca panas ekstrem, tetap terhidrasi, dan beristirahat. Yap, setidaknya bisa membantu mencegah heatstroke, seperti dilansir laman CDC.

Oleh sebab itu, penting banget untuk memahami apa yang terjadi pada tubuh ketika seseorang mengalami heatstroke. Nah, bagaimana cara agar kita bisa terhindar dari heatstroke saat cuaca sedang panas-panasnya, ya? Mari, kita cari tahu!

1. Mengalami hipertermia ketika suhu tubuh melonjak drastis

ilustrasi heatstroke
ilustrasi heatstroke (pixabay.com/Mohamed Hassan)

Kita semua tentu pernah merasa kepanasan saat musim kemarau tiba. Namun, ada satu hal yang penting. Yap, waspadai hipertermia, kondisi yang dialami tubuh ketika seseorang mengalami heatstroke. Hipertermia terjadi ketika suhu tubuh naik ke tingkat yang berbahaya dan berpotensi menyebabkan heatstroke. Ketika tubuh terasa terlalu panas, mekanisme pendinginan, seperti berkeringat dan vasokonstriksi, akan bekerja untuk membantu mendinginkan tubuh. Namun, heatstroke akan terjadi ketika mekanisme ini tidak mampu mengimbanginya.

Paparan sinar Matahari yang lama, olahraga berat, obat-obatan tertentu, dan masalah kesehatan bisa berkontribusi pada kondisi tersebut. Suhu tubuh di atas 40 derajat celsius bisa menyebabkan masalah kesehatan serius ini, termasuk kematian jika tubuh tidak dapat menghilangkan panas, sebagaimana informasi dari National Institutes of Health. Jadi, usahakan untuk tetap berada di tempat yang sejuk, minum banyak air putih, dan hindari aktivitas berat ketika cuaca sangat panas untuk menghindari kepanasan. Jika kamu merasa menderita hipertermia, segera cari pertolongan medis, ya.

2. Dampak berbahaya heatstroke terhadap otak

ilustrasi heatstroke
ilustrasi heatstroke (pexels.com/Anna Shvets)

Otak, khususnya hipotalamus, didesain untuk mengatur suhu tubuh. Ia merupakan salah satu organ pertama yang terpengaruh ketika tubuh mengalami panas ekstrem. Suhu tinggi bisa merusak sel-sel otak karena protein muncul selama panas ekstrem dan membunuh sel-sel tersebut. Beberapa sel lebih rentan daripada yang lain, memengaruhi area otak yang rusak. Karena setiap jenis sel otak memiliki tingkat kerentanan yang berbeda terhadap panas, area otak yang mengalami kerusakan juga dapat bervariasi.

Salah satu area otak pertama yang mengalami kerusakan adalah serebelum, yang mengontrol fungsi motorik. Jika serebelum mengalami kerusakan, ini menjadi alasan utama kenapa seseorang bisa menderita heatstroke karena kehilangan kendali otot. Hal ini akhirnya membuat seseorang kehilangan kendali atau pingsan, seperti yang dikutip laman Brain Facts.

Heatstroke dianggap sebagai keadaan darurat medis karena punya konsekuensi jangka panjang jika tidak segera mengambil tindakan untuk mendinginkan tubuh. Selain itu, suhu tinggi bisa menyebabkan dehidrasi otak, mengganggu kemampuan otak untuk berfungsi dengan benar. Akibatnya, ini bisa membuat seseorang kesulitan berpikir, berbicara secara koheren, atau tidak bisa mengingat sesuatu, tulis Mayo Clinic.

Selain itu, dehidrasi selama terkena heatstroke bisa memicu kejang. Adapun, suhu tinggi bisa menyebabkan kejang menjadi lebih intens, terutama pada seseorang dengan riwayat kejang. Kejang yang dipicu panas juga bisa sangat berbahaya, bahkan bisa menyebabkan kerusakan otak permanen. Nah, karena otak kita rentan terhadap panas, gangguan sistem saraf pusat bisa segera terjadi saat terkena heatstroke. Ketika ini terjadi, seseorang akan menunjukkan beragam gejala, seperti kebingungan, disorientasi, halusinasi, dan koma berat.

3. Mekanisme untuk mendinginkan tubuh gagal berfungsi

ilustrasi heatstroke
ilustrasi heatstroke (pexels.com/Kindel Media)

Ketika sistem pendinginan tubuh bekerja terlalu keras saat mengalami heatstroke, hal itu bisa menyebabkan peningkatan suhu tubuh ke taraf yang berbahaya. Berkeringat merupakan salah satu strategi untuk mendinginkan tubuh saat heatstroke melanda. Namun, proses mendinginkan tubuh akan gagal jika seseorang terlalu lama berada di tempat panas tanpa minum dan cukup cairan. Ketika tubuh mengalami dehidrasi, tubuh tidak lagi bisa mendinginkan diri sendiri lewat keringat. Oleh sebab itu, ketika kamu berkeringat berlebihan tanpa mengganti cairan dan elektrolit yang hilang, tubuh akan terlalu panas. Inilah yang menyebabkan heatstroke, seperti yang dikutip John Hopkins Medicine.

Yap, karena alasan ini pula, pencegahan sangat penting. Setelah heatstroke terjadi, upaya tubuh untuk menurunkan suhu internalnya gagal. Nah, pada titik ini, tubuh secara sistematis mematikan organ untuk melindungi jantung dan otak.

4. Berisiko terkena rabdomiolisis

ilustrasi terserang rabdomiolisis
ilustrasi terserang rabdomiolisis (pexels.com/Kampus Production)

Rabdomiolisis merupakan kondisi mengancam jiwa yang terjadi ketika otot rusak atau pecah dan melepaskan sel-selnya ke dalam aliran darah. Sebuah studi yang ditulis oleh Máximo H Trujillo dan Carlos Fragachán G berjudul "Rhabdomyolysis and Acute Kidney Injury due to Severe Heat Stroke" (2011) dalam Jurnal Hindawi menyatakan bahwa penyebab rabdomiolisis yang paling umum antara lain olahraga berat dan sengatan panas. Olahraga berat bisa menyebabkan otot bekerja terlalu keras dan tegang, suatu kondisi yang sering terlihat pada pelari maraton. Tingkat keparahan rabdomiolisis bisa terjadi tanpa gejala hingga kondisi yang mengancam jiwa yang bisa memengaruhi beberapa organ.

Gejala umum rabdomiolisis meliputi nyeri dan kelemahan otot. Namun, seiring perkembangannya, warna urine bisa berubah menjadi gelap, tanda peringatan bahwa ginjal kamu mungkin mengalami kondisi tersebut. Jika tidak diobati, rabdomiolisis bisa menyebabkan gagal ginjal. Selain itu, aritmia jantung bisa terjadi dan bisa meningkatkan risiko komplikasi lebih lanjut, tulis laporan Cleveland Clinic.

Nah, tindakan untuk mencegah rabdomiolisis saat berolahraga pada cuaca panas bisa dibilang sangat penting. Kamu harus tetap terhidrasi, sering beristirahat, dan mengenakan pakaian yang sesuai. Jika muncul gejala rabdomiolisis atau heatstroke, kamu harus segera mencari pertolongan medis, ya.

5. Paparan panas yang berkepanjangan dan heatstroke bisa menyebabkan pembengkakan pada tubuh tertentu

ilustrasi pembengkakan atau edema di tangan
ilustrasi pembengkakan atau edema di tangan (commons.wikimedia.org/OpenStax College)

Sistem peredaran darah jadi yang paling umum terpengaruh oleh paparan panas dan heatstroke. Suhu tubuh meningkat dengan cepat saat mengalami heatstroke. Akibatnya, pembuluh darah melebar untuk melepaskan panas. Inilah yang menyebabkan peningkatan aliran darah ke permukaan kulit. Adapun, edema panas atau juga dikenal sebagai pembengkakan panas merupakan salah satu kondisi yang terjadi karena dampak pada sistem peredaran darah, seperti yang dilansir laman Health Jade.

Saat cairan bocor dari pembuluh darah ke jaringan sekitarnya, cairan menumpuk di jaringan yang mengakibatkan pembengkakan, terutama di kaki dan telapak kaki. Selain itu, jika kehilangan garam dari yang biasanya terjadi di dalam tubuh, peningkatan jumlah garam yang tersisa di dalam tubuh akan bekerja untuk menarik cairan ke dalam jaringan. Alhasil, hal ini menyebabkan pembengkakan yang lebih parah. Edema panas biasanya sembuh setelah paparan sumber panas hilang. Namun, jika seseorang punya kondisi medis tertentu, seperti diabetes, gagal jantung, kehamilan, atau tidak terbiasa berada di tempat panas, orang tersebut mungkin berisiko lebih tinggi terkena edema.

6. Terserang sinkop panas

ilustrasi pingsan karena heatstroke
ilustrasi pingsan karena heatstroke (pexels.com/RDNE Stock project)

Sinkop panas merupakan jenis pingsan yang disebabkan oleh paparan suhu tinggi yang berkepanjangan atau aktivitas fisik pada cuaca panas. Hal ini terjadi ketika tubuh tidak beradaptasi atau terhidrasi. Awalnya ditandai dengan pusing, kepala terasa ringan, dan jika tidak diobati bisa menyebabkan pingsan. Hal ini sering disebabkan karena tubuh berupaya untuk mendinginkan diri dengan berkeringat, yang dapat mengakibatkan kehilangan cairan dan elektrolit. Nah, sebagai akibatnya, tubuh bisa dehidrasi, tekanan darah menjadi rendah, dan penurunan aliran darah ke otak, dilansir Universitas Connecticut.

Selain itu, keadaan tertentu dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya sinkop panas. Pusing atau pingsan bisa terjadi setelah berdiri lama atau perubahan mendadak dari posisi berbaring ke berdiri. Lebih lanjut, beberapa pekerjaan tertentu, misalnya petugas pemadam kebakaran, personel militer, atau siapa pun yang diharuskan mengenakan peralatan tambahan pada cuaca panas, memiliki risiko sinkop panas yang lebih tinggi.

Nah, untuk menghindari sinkop panas, kamu harus tetap terhidrasi saat berada di tempat panas. Minuman beralkohol juga harus dihindari karena bisa menyebabkan dehidrasi. Selain itu, jika pingsan disebabkan oleh kepanasan saat berolahraga, sebaiknya pilih latihan fisik di dalam ruangan atau lakukan saat cuaca terasa lebih sejuk.

7. Heatstroke terhadap jantung

ilustrasi serangan jantung
ilustrasi serangan jantung (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Heatstroke rupanya bisa berbahaya bagi jantung. Hal ini terjadi karena jantung dipaksa untuk bekerja lebih keras. Adapun, gejala yang dialami seperti meningkatnya detak jantung, tekanan darah tinggi, dan bahkan ketegangan pada otot jantung. Dalam kasus yang parah, hal tersebut dapat menyebabkan aritmia jantung, serangan jantung, dan bahkan kematian.

Sebuah studi yang ditulis oleh L Mimish berjudul "Electrocardiographic Findings in Heat Stroke and Exhaustion: A Study on Makkah Pilgrims" (2012) yang diterbitkan dalam The Journal of the Saudi Heart Association menemukan bahwa pasien heatstroke sering mengalami kelainan pada elektrokardiogram (EKG), seperti detak jantung yang cepat (takikardia) dan perubahan aliran darah ke jantung. Namun, perubahan ini merupakan respons alami terhadap suhu tubuh yang tinggi. Nah, jika seseorang punya kondisi jantung yang sudah ada sebelumnya, sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum melakukan aktivitas berat pada cuaca panas.

8. Bagaimana cara mengetahui jika seseorang berisiko tinggi terkena heatstroke?

ilustrasi lansia yang terserang heatstroke
ilustrasi lansia yang terserang heatstroke (pexels.com/Kindel Media)

Heatstroke bisa menyebabkan komplikasi serius jika tidak diobati, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Meski komplikasi ini jarang terjadi, penting untuk menyadari potensi bahayanya. Seperti yang dijelaskan Cleveland Clinic, heatstroke membuat jantung bekerja lebih keras. Akibatnya, otot jantung mengalami tekanan yang lebih besar dan aliran darah ke jantung dapat berkurang sehingga meningkatkan risiko gangguan peredaran darah. Selain itu, sindrom gangguan pernapasan akut, kondisi serius yang membutuhkan perawatan intensif, juga bisa terjadi akibat heatstroke.

Heatstroke juga bisa menyebabkan kerusakan pada otak, ginjal, dan hati dengan merusak jaringan otot serta menyebabkan pembengkakan pada organ. Jika tidak diobati, hal ini bisa menyebabkan kerusakan permanen akibat pembengkakan tersebut. Penting untuk dipahami juga kalau komplikasi ini terjadi pada kasus heatstroke yang parah. Jadi, tidak semua orang yang mengalami heatstroke akan mengalami komplikasi ini, ya.

Tips untuk mencegah heatstroke

ilustrasi minum air putih saat cuaca panas
ilustrasi minum air putih saat cuaca panas (pexels.com/Kampus Production)

Menjaga suhu tubuh dan kadar hidrasi agar terhindar dari heatstroke rupanya sangat penting, lho. Carilah tempat ber-AC saat cuaca panas dan minumlah banyak air serta cairan yang mengandung elektrolit. Selain itu, cobalah untuk menghindari aktivitas berat jika cuaca sangat panas. Kamu bisa saja memilih berolahraga atau bekerja pada cuaca panas asalkan tubuh kamu cukup stabil dan fit dalam menghadapi cuaca panas, seperti yang ditulis Health Partners.

Cara berpakaian juga sangat penting, nih. Sebab, pakaian ketat bisa membuat kamu lebih gampang kepanasan. Oleh sebab itu, kenakan pakaian longgar dan ringan serta topi bertepi lebar. Pastikan juga untuk melindungi kulit kamu dengan tabir surya SPF tinggi minimal 15, seperti yang disarankan CDC.

Jika kamu berada di luar ruangan untuk waktu yang lama, seringlah beristirahat di tempat teduh. Adapun, mereka yang berisiko tinggi terkena heatstroke antara lain lansia, anak-anak, atlet, pekerja luar ruangan, orang dengan kondisi medis kronis, dan mereka yang mengonsumsi obat-obatan tertentu. Jadi, lebih waspada, ya!

Apakah yang harus dilakukan jika mengalami heatstroke?

ilustrasi petugas medis tangani penderita heatstroke
ilustrasi petugas medis tangani penderita heatstroke (pexels.com/Mikhail Nilov)

Jika seseorang diduga mengalami serangan panas, sangat penting untuk segera mengambil tindakan untuk menurunkan suhu tubuh dan mencari bantuan medis, ya. Nah, pertama-tama, pindahkan orang tersebut ke tempat yang sejuk dan teduh atau ruangan ber-AC. Kemudian, lepaskan pakaian (jika dobel) untuk membantu tubuh agar mendingin.

Selanjutnya, letakkan kain dingin dan lembap di kulit orang tersebut. Jika ada, gunakan kipas angin atau kompres es. Letakkan kompres es di ketiak, selangkangan, dan di sekitar leher untuk mengurangi hawa panas. Jika memungkinkan, pantau tanda-tanda vital orang tersebut, seperti detak jantung, pernapasan, dan suhu tubuhnya. Berikan orang tersebut air atau minuman elektrolit jika masih sadar dan mampu menelan.

Ingat, ya, mendinginkan orang yang terserang heatstroke merupakan prioritas utama. Namun, jika kondisinya memburuk atau terlihat tidak sadarkan diri dan tidak bisa minum cairan, segera hubungi layanan darurat. Heatstroke merupakan keadaan darurat medis yang membutuhkan perawatan segera untuk menghindari komplikasi serius, sebagaimana yang dianjurkan Mayo Clinic.

Akhir-akhir ini, cuaca panas melanda hampir di banyak tempat di belahan dunia, salah satunya Indonesia yang sedang mengalami musim kemarau. Di Eropa, gelombang panas sedang menerjang benua tersebut selama musim panas 2026 ini. Jadi, pastikan untuk mengetahui bahaya heatstroke akibat cuaca panas. Semoga informasi di atas membantu, ya.

Referensi
“About Heat and Your Health”. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada Juli 2026.
“Children and School Preparedness”. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada Juli 2026.
“Dehydration and Heat Stroke”. Johns Hopkins Medicine. Diakses pada Juli 2026.
“Dehydration, Heat Exhaustion, Heat Stroke: Know the Difference”. Baptist Health. Diakses pada Juli 2026.
“Epilepsy and Hot Weather”. Epsy Health. Diakses pada Juli 2026.
“Exercise-Associated Hyponatremia”. PubMed Central (PMC). Diakses pada Juli 2026.
“First Aid: Heatstroke”. Mayo Clinic. Diakses pada Juli 2026.
“Heat Edema”. Health Jade. Diakses pada Juli 2026.
“Heat Edema”. iCliniq. Diakses pada Juli 2026.
“Heat Stroke”. Healthdirect Australia. Diakses pada Juli 2026.
“Heat Stroke”. National Center for Biotechnology Information (NCBI Bookshelf). Diakses pada Juli 2026.
“Heat Stroke: A Medical Emergency Appearing in New Regions”. Hindawi. Diakses pada Juli 2026.
“Heat Syncope”. Korey Stringer Institute. Diakses pada Juli 2026.
“Heatstroke”. Cleveland Clinic. Diakses pada Juli 2026.
“Heatstroke”. Mayo Clinic. Diakses pada Juli 2026.
“How Fast Can Heatstroke Come On?”. HealthPartners. Diakses pada Juli 2026.
“Hyperthermia: Too Hot for Your Health”. National Institutes of Health (NIH). Diakses pada Juli 2026.
“Medications That Increase the Risk of Heat Stroke”. HealthPartners. Diakses pada Juli 2026.
“Rhabdomyolysis”. Cleveland Clinic. Diakses pada Juli 2026.
“What Happens to the Brain During a Heatstroke?”. BrainFacts.org. Diakses pada Juli 2026.
“Heatstroke-Induced Cerebral Edema and Related Neurological Complications”. PubMed Central (PMC). Diakses pada Juli 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Related Articles

See More